blank
Junet dan hasil karyanya (Foto: Koleksi Junet)

JEPARA (SUARABARU.ID)- Membonsai sebuah tanaman bukanlah pekerjaan mudah. Butuh ketelatenan dan harus mempunyai jiwa seni. Karena proses membonsai sebuah pohon hingga benar-benar terlihat istimewa dan mempunyai nilai seni tinggi membutuhkan waktu lama. Mulai dari pemilihan tunasnya, membentuk cabangnya biar terlihat menarik, sampai perawatan rutin tiap hari.  Paling tidak, tiga sampai lima tahun sebuah pohon bonsai baru bisa menampakan hasilnya.

blank
Salah satu pohon bonsai yang diikutkan dalam kontes. cabang pohon yang meliuk-liuk menambah point dalam penilaian. (Foto: Dok. Junet)

Hal itulah yang disampaikan oleh Junet, seorang seniman Bonsai asal Desa Tahunan. Ia mengaku menggeluti pohon “kerdil” ini sejak 2003 silam. Ketika Suarabaru.id mengunjungi gallerinya di desa Tahunan, kami mendapati banyak pohon bonsai yang sedang dalam proses. Baik itu proses pengawatan (pemasangan kawat di tiap cabangnya) untuk membentuk cabang pohon sesuai keinginan, maupun pemangkasan daun untuk hasil yang lebih baik.

Awalnya ia hanya menyalurkan hobby, karena pekerjaan utamanya adalah seorang pengukir. Namun, karena hasil sentuhan tangannya dalam membonsai pohon diminati banyak orang akhirnya dia fokus dalam dunia bonsai. Hasil karyanya sering diikutkan dalam kontes bonsai tingkat regional maupun nasional. Komunitas dari Jepara yang tergabung dalam Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kabupaten Jepara, sering menjuarai kontes bonsai. Tentunya bonsai yang menjuarai kontes akan meningkatkan harga jualnya.

blank
Komunitas Bonsai Desa Tahunan (Foto: Dok. Junet)

“Harga bonsai memang tidak ada patokannya. Karena sifatnya adalah hobby. Berapapun biayanya, bagi pecinta bonsai asal ada yang cocok pasti akan dibayar. Bahkan pernah bonsai dari Jepara dibeli kolektor dengan harga 160 juta. Ada juga yang saat ini ditawar 200 juta, namun belum diberikan pemiliknya”, ujar Junet sambil menunjuk bonsai yang ditawar 200 juta di gallerynya.

Di Jepara, seniman bonsai sudah semakin banyak, karena maraknya para pecinta pohon bonsai. Sudah tidak terhitung berapa banyak karya yang dihasilkan Junet dalam membonsai. Bahkan dirinya sudah dalam tingkatan konsultan bonsai. Tunas bonsai yang menjadi faforit para pecinta pohon kerdil ini adalah tunas Legundi dan Anting Putri.

“Tanaman bonsai yang ada di tempat saya ini adalah titipan dari para pecinta bonsai. Tugas saya merawat dan membentuk supaya bentuk bonsai bisa menarik”, tutupnya.

Hadepe / ua