Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

JC Tukiman Tarunasayoga

Bacalah kempi sebagaimana Anda mengucapkan seksi atau hepi; kata Jawa bentukan dari impi. Dari impi dapat menjadi ngimpi (bermimpi), bias juga diimpi-impi, yang artinya diangen-angen banget, yakni sangat dirindukan. Juga bisa menjadi impen (bacalah seperti Anda mengucapkan piket), bahkan impen-impenen.

Kalau impen itu wewuju dan utawa lelakon kang katon ing sajroning turu, yakni wajah atau suatu kejadian yang terlihat ketika orang tidur; maka impen-impenen bermakna gagas banget lan terus-terusan, memikirkan terus seperti Toni memikirkan terus Tini: “Aku mandi ada kamu, aku ngalamun ada kamu, aku sedih adaTini, dst.”

Nah ..saking akehe nggagas nganti kempi, terlalu banyak/sering memikirkan sampai-sampai terbawa ke mimpi, katoning sajroning pangimpen. Contohnya, Toni bertemuTini, tapi Tini diawe-awe kok malah nglungani sambil mesem-mesem, misalnya.

Itulah kempi! Betulkah Toni ketemu Tini? Jawaban Toni pasti betul dalam mimpi. Faktanya? Toni pasti sangat berharap ketemu, danmimpinyaitumasihterbayang/teringatterus, bahkansangatyakin (akan) ketemu.

Bermimpi (ngimpi) memang sangat khas manusiawi, weruh lan rumangsa ngalami wewujudan utawa lelakon dalam saat manusia itu tidur. Aneh? Sangat tidak aneh, karena semua manusia pasti mengalami “peristiwa” seperti itu.

Bohong kalau misalnya ada orang mengatakan: “Aku itu ora nate ngimpi,” atau pongah mengatakan” “Ah…mimpi itu godaning setan.” Suci ya silakan hidup suci, tetapi ora usah sok sumuci lalu “menghina” orang mimpi seraya mengatakan digoda setan atau hamba setan, dll.

Dengan kata lain ngimpi harus kita lihat sebagai kejadian yang wajar-wajar saja;  silakan siapa saja ngimpi, boleh kok: Mau ngimpi di waktu tidur malamnya atau pun di waktu orang itu tidur siang. Sumangga.

Bolehkah mimpi seseorang diceriterakan kepada orang lain? Tidak ada yang mengatur atau melarangnya. Jadi silakan saja kalau mimpi Anda mau Anda ceriterakan kepada orang lain. Dulu, seorang sekaliber Firaun mimpi dua kali tentang hal yang mirip, bahkan Firaun mengundang orang untuk memaknai mimpinya itu.

Setelah bercerita, hanya Yusuf-lah yang mampu mengurai dan memaknai mimpi Firaun itu. Kata Yusuf: “Kedua mimpi tuan itu sama, maknanya, Allah telah memberitahukan kepada tuanku tentang apa yang akan dilakukan-Nya.”

Intinya, boleh saja menceriterakan mimpi Anda, dan boleh saja bahkan bias saja justru orang lainlah yang mampu mengurai dan memaknai mimpi tersebut. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang dilanggar hanya karena orang menceriterakan mimpinya.

Mengapa Sampai Kempi?

Sebetulnya, yang lebih menarik untuk kita diskusikan ialah, mengapa orang sampai kempi, sampai mimpi-mimpi? Secara sederhana telah dikatakan di atas jawabannya, yakni karena orang gagas terus, memikirkan terus.

Tentang Toni yang nganti ngimpi-ngimpi Tini, yah karenaToni sedang jatuh cinta kepada Tini. Apakah Tini juga jatuh cinta kepada Toni? Nah..mimpi Toni-lah jawabannya: Kayaknya enggaklah, buktinyaTini nglungani meskipun sambil mesem-mesem. Itu satu “maknanya’ karena bias saja orang lain mengartikan: Oh..Tini juga jatuh cinta ke Toni, tinggal Toninya yang harus aktif mendekatinya, “jangan kasih kendor Ton!”

Baca Juga: Jahil Mringkil

Memikirkan sesuatu atau seseorang secara serius dan berulang-ulang, sangatlah mungkin akan terbawa sampai ke mimpi. Ada yang salah di sini? Pasti tidak. Jangankan memikirkan serius dan berulang-ulang, sebab selagi orang siang harinya mung ngangen-angen seseorang saja, bisa jadi malamnya sampai terbawa mimpi.

Oleh karena itu,  kalau ada orang sampai ke tahapan kempi,sikap terbaik kita tentulah menghormatinya karena itu semua ranahnya privat, pribadi.

Dampak yang ditimbulkan oleh orang kempi, sebutlah ia berceritera menggebu di mana-mana, memang mungkin dapat memengaruhi orang lain, meski pun orang juga bias bernalar dan merespons wajar-wajar saja.

Ambil contoh, orang kempi tentang kiamat, lalu ia berceritera kemana-mana tentang kiamat yang dia “alami” dalam mimpi. Sangat bias jadi ada orang terpengaruh oleh ceritanya, tetapi kalau dalam perjalanan waktu, sebutlah dua atau tiga hari kemudian, tanda-tanda akan kiamat yang ia ceriterakan itu ternyata tidak ada/terbukti, niscaya respons orang akan semakin wajar datar belaka: “Oh….dasar mung ngimpi.”

Orang kempi bisa jadi sedang serius memikirkan seseorang atau sesuatu, namun tidak kurang contoh justru karena orang itu “lagi suwung”  dan pikirannya ngambra-ambra. Mengapa lagi suwung?

Di saat pandemi Covid 19 ini, memang benteng pertahanan diri setiap orang (siapa pun itu) benar-benar sedang diuji; intinya kuat berarti survive dan maju terus, tetapi bila sebaliknya, misalnya keropos atau bahkan ambruk, nah…suwunglah yang terjadi.

Suwung itu kosong, seperti rumah suwung itu artinya rumah dalam keadaan kosong karena pemiliknya sedang tidak berada di dalamnya untuk periode waktu tertentu.

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)