Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

Teringat teman masa kecil, Surono, teringat pula kelakuan jahilnya yang sering kalebu ora umum. Setiap kali bermain bumbung mercon, kalau ada Surono, mesti ada saja teman yang wajahnya berlepotan hitam-hitam karena bagian depan bumbung tersumpal sesuatu, dan wajah yang saat itu sedang berada di dekat lobang perapian, pasti akan kecipratan.

Siapa penyumpalnya? Surono. Kapan saatnya Surono tiba-tiba berlari menyumpal? Sering tidak ada yang tahu, karena tahu-tahu blebeg…blebeg….blebeg, dan wajah “pengintip” sertamerta sudah berlepotan.

Jahil yang paling ora saumume ia lakukan,  ialah tiba-tiba Surono sudah memiliki sepotong kayu yang, – maaf seribu maaf- , digawe memper alat kelamin, dan ia tunjukkan kepada siapa saja yang sedang diajak omong-omong.

Saya lupa kejadiannya, tetapi Surono berhasil menunjukkannya kepada bapak saya, yang waktu itu hanya mesem-mesem saja; namun babak berikutnya ketika teman-teman sudah pergi, bapak menginterogasi dan ujung simpulannya ialah: Apa kowe melu gawe? Ora usah neka-neka, aja dibaleni.

Jahil, – pada umumnya diucapkan jail – , bermakna seneng maeka sing liyan, yakni seseorang yang (pinter) ngerjain orang lain. Orang jahil setingkat lebih tinggi dibandingkan orang usil, sebab karena ulah jahilnya, seringlah “jatuh korban.” Orang jahil punya trik-trik dan daya tarik/pikat tertentu sehingga kadang-kadang orang terkecoh dan tahu-tahu jadi korban  kejahilannya.

Seperti teman yang wajahnya berlepotan angus tadi, atau orang tuaku sekali pun yang hanya mampu mesem-mesem.  Orang jahil tidak berniat jahat, kecuali sekedar ngerjain tadi, dengan tujuan melucu, atau bikin suasana penuh canda tawa, sementara “korban” hanya bisa cengar-cengir, atau kalau pun dongkol,  yah…  belakanganlah.

Jahil Mringkil

Lain halnya jika ada orang disebut-sebut: “Oh…dia itu wong jahil mringkil.”  Surono sekedar jahil, tetapi tidak jahil mringkil, ia hanya ingin ada korban untuk lucu-lucuannya, dan tidak lebih dari itu.

Mungkin bikin jengkel atau dongkol, tetapi seingatku tidak pernah ada complain baik kepada Surono sendiri maupun bapaknya (yang kebetulan seorang polisi). Pihak korban paling ngejar-ngejar Surono dalam maksud sekedar mau nabok, atau seperti bapak saya yang kemudian nglungani setelah mesem-mesem.  

Baca Juga: Mandhireng Pribadi

Terhadap orang jahil mringkil tidaklah sekedar seperti reaksi teman terhadap Surono tadi. Jahil mringkil itu ialah wong sing ala atine, dan siapa pun pasti berusaha menjauhi atau sekurang-kurangnya waspada terhadap orang jahil mringkil itu.

Kesulitannya memang, orang jahil mringkil itu perangainya macam-macam: Ada yang tutur katanya halus, sopan, ehhhh jebule niate ala; ada juga yang sengaja berpenampilan suka menakut-takuti pihak/orang lain, ngancam ini, ngancam itu, dan memang niat ingsune jelek.

Jahil mringkil memang digerakkan oleh niat ingsun, yakni nawaitu orang yang bersangkutan; dan dengan berbagai caranya, orang-orang jahil mringkil memang langsung mengejar target yang mau dicapainya. Artinya, jahil mringkil disetir oleh niat buruknya, dan yang terpenting baginya ialah tujuannya tercapai.

Apakah orang atau kelompok jahil mringkil itu tindakannya selalu kalebu ora umum? Sangat boleh jadi “ya” karena dengan berlaku ora umum itu ia/mereka mau unjuk kebolehan, mau show of apa saja yang dirasa sebagai kelebihannya.

Untuk kewaspadaan bersama saja, tidak ada jeleknya masyarakat metani entah perorangan entah pula kelompok yang ternyata nawaitunya tergolong jahil mringkil. Yah.., namanya menghadapi wong sing ala atine, wajar kan kita harus waspada dan berhati-hati seraya menyatukan kewaspadaan bersama demi kesejahteraan hidup bersama (bonum commune)?

JC Tukiman Tarunasayoga

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)