blank
Wiyono, Warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul Foto: Kang Ono/Wiradesa.com

WONOSARI (SUARABARU.ID) – Warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul ini terlihat sederhana. Wajah ndesa, lugu, dan tidak neka-neka. Tapi Wiyono mampu menciptakan sarana penyiraman tanaman yang simpel, efektif, dan mudah dibuat.

Instalasi ciptaan Wiyono itu mampu mengairi 400 tanaman dalam tempo 5 menit. Tinggal ceklek, ditinggal udut, ratusan tanaman sudah teraliri air secara otomatis. “Namanya belum tahu pak. Wong belum saya kasih nama,” ujar Wiyono di rumahnya.

Alat yang diciptakan warga Gunungkidul itu dirangkai dari pipa listrik, selang pitrit, lem lilin, dan solder. Sedangkan air yang disalurkan melalui pipa listrik bisa dari pompa air atau tandon air. Cara membuatnya, pipa listrik diletakkan di pinggir tanaman, kemudian setiap tanaman dipasang selang pitrit yang dimasukkan ke pipa. Agar air tidak bocor, selang pitrik dilem lilin yang dipanaskan.

Setelah semua tanaman terpasang selang pitrit, untuk mengaliri air tinggal pencet tombol on di saklar pompa, maka air sudah keluar menyirami semua tanaman yang dikehendaki. Penyiraman ala Wiyono ini ternyata banyak petani dan berbagai pihak yang berminat. Bahkan sejumlah santri pondok pesantren juga berminat membuat untuk menyirami tanaman sayuran dan buah-buahan yang ditanam di kompleks ponpes.

Wiyono pernah disebut tetangganya sebagai orang tidak waras. “Wong edan. Wong ora duwe sawah kok pengin bertani. Wong tanahnya tandus, kok pengin nandur sayuran, lombok, brambang, padi, dan tanaman lainnya,” begitu kata Wiyono menirukan omongan orang.

Sulitnya mendapatkan air, tidak mematahkan semangat Wiyono, untuk bertani. Dia sangat ingin, masyarakat di sekitar tempat tinggalnya maju di bidang pertanian. Setelah berjuang bertahun-tahun bersama warga, akhirnya Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, tokoh yang dulu saat menjadi taruna diberi makan-minum oleh warga Semanu, memberi bantuan alat pompa air tanpa motor (PATM). Pompa itu bisa menaikkan air dari kedalaman ratusan meter, tanpa menggunakan bahan bakar.

blank
Instalasi penyiraman tanaman ciptaan warga Gunungkidul (Foto: Kang Ono/Wiradesa)

Untuk mengoperasikan alat PATM harus ada penampungan, instalasi pipa ke lahan pertanian, dan yang sulit meletakkan alat di dasar sungai yang letaknya sekitar 125 meter di bawah permukaan tanah. “Kebetulan di bawah tempat tinggal kami itu ada sungai, namanya Kalisuci yang airnya cukup deras,” ungkap Wiyono.

Pihak Jakarta menginginkan agar pemasangan pompa, dan pembangunan bak air serta instalasi selesai dalam waktu 40 hari. Pada pembangunan yang dilaksanakan bulan Oktober 2016, Wiyono melibatkan 200 tenaga kerja setiap hari. Para naker ini dibayar layaknya tukang bangunan. Dengan kerja keras dan ketekunan, akhirnya pembangunan PATM selesai dalam waktu yang ditentukan.

Sayangnya sampai sekarang air yang disalurkan melalui PATM kurang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Kualitas sumber daya petani yang kurang ini menjadi keprihatinan Wiyono. Harusnya dengan ketersediaan air, warga desa bisa menanam padi, sayuran, dan tanaman pangan lain, bukan justru hanya ditanami rumput gajah, untuk pakan ternak.

Jogja.siberindo.co-wied