<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>italia Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/italia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 May 2025 07:08:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>italia Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Don Carlo, dan Transformasi Kultural ke Tim Samba Brazil</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/05/17/don-carlo-dan-transformasi-kultural-ke-tim-samba-brazil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 May 2025 10:00:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Brazil]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Cattenacio]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Jeitinho]]></category>
		<category><![CDATA[Jogo Bonito]]></category>
		<category><![CDATA[Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=474669</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // seperti tak henti mencari/ atas nama trofi/ dengan sentuhan yang cocok dan mengerti/ dari kedalaman negeri/ hingga akhirnya/ ke negeri yang beda filosofi// (Sajak “Sepak Bola Brazil”, 2025) KEPUTUSAN Konfederasi Sepak Bola Brazil (CBF) menjadi gambaran, betapa tidak mudah menemukan sosok yang tepat untuk memoles tim nasionalnya. Walaupun sudah menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/05/17/don-carlo-dan-transformasi-kultural-ke-tim-samba-brazil">Don Carlo, dan Transformasi Kultural ke Tim Samba Brazil</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-474676 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// seperti tak henti mencari/ atas nama trofi/ dengan sentuhan yang cocok dan mengerti/ dari kedalaman negeri/ hingga akhirnya/ ke negeri yang beda filosofi//</em><br />
<strong>(Sajak “Sepak Bola Brazil”, 2025)</strong></p>
<p><strong>KEPUTUSAN</strong> Konfederasi Sepak Bola Brazil (CBF) menjadi gambaran, betapa tidak mudah menemukan sosok yang tepat untuk memoles tim nasionalnya. Walaupun sudah menjadi gagasan lama, memilih Carlo Ancelotti yang <em>notabene</em> berasal dari kutub berbeda filosofi sepak bola, tetap merupakan langkah yang boleh dibilang eksperimental.</p>
<p>Presiden CBF Ednaldo Rodrigues belum lama ini mengumumkan, Ancelotti akan langsung bekerja setelah selesainya Liga Spanyol 2024-2025. Don Carlo menjadi pelatih asing kedua yang memimpin Selecao setelah Filipo Nunez dari Argentina pada 1965. Dia dikontrak hingga Piala Dunia 2026, dengan target meraih juara kali yang keenam setelah 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.</p>
<p>Bagi Don Carlo, ini menjadi pengalaman pertama melatih timnas sejak menjadi asisten Arrigo Sacchi di Timnas Italia pada 1992-1995. Sedangkan bagi CBF, memilih pria 65 tahun itu lebih dari sekadar langkah strategis. Menurut Ednaldo, keputusan ini merupakan deklarasi bahwa Brazil bertekad merebut kembali tempat tertinggi.</p>
<p>Presiden CBF menilai Ancelotti sebagai pelatih terhebat dalam sejarah, yang dipilih untuk memimpin tim nasional terhebat. “Bersama-sama, kami akan menulis babak baru yang gemilang dalam sepak bola Brazil,” ungkapnya.</p>
<p>Don Carlo yang menggantikan Dorival Junior akan mulai bekerja pada 26 Mei mendatang, sehari setelah Madrid menghadapi Real Sociedad di pertandingan terakhir La Liga. Dia akan mempersiapkan Vinicius Junior dkk menghadapi Ekuador dan Paraguay pada 6 dan 11 Juni. Terakhir, Dorival memimpin Selecao melawan Argentina dan kalah 1-4.</p>
<p><strong>Rencana Lama</strong><br />
CBF sudah lama berencana merekrut Ancelotti, namun sang pelatih saat itu belum tertarik, bahkan memperpanjang kontrak dengan Madrid hingga Juni 2026.</p>
<p>Dalam BOLA-BOLA <em>suarabaru.id</em> edisi 1 Juli 2023, saya menulis kolom Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca.</p>
<p>Ada tiga kata kunci dalam judul tersebut. “Tanah Suci Sepak Bola”, butuh sentuhan, dan “ulama” manca.</p>
<p>Seperti sepotong puisi ini, /<em>/ tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda//</em><br />
<em>(Sajak “Brazil”, 2023)</em></p>
<p>Dan, berlebihankah menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”?</p>
<p>Dalam kolom itu saya menulis: Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Para seniman sepak bola dengan kemampuan artistik dan teknik aneh-aneh menyatu dengan daya hidup, ekspresi naluriah, dan kultur karnaval yang penuh gairah.</p>
<p>Di sana lahir “pujangga-pujangga sepak bola” yang tak ada duanya. Dari Pele, Garrincha, Jair, Rivelino, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Kaka, hingga Neymar Junior. Brazil menjadi kutub tersendiri di antara pusat-pusat peradaban sepak bola seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Argentina.</p>
<p>Dengan segala kebesaran itu, kesan apakah yang Anda rasakan ketika CBF kesengsem mendatangkan Carlo Ancelotti, “ulama sepak bola” dari Italia, kutub yang <em>notabene</em> secara ideologis dan gaya bermain menggambarkan paradoksa dengan Brazil?</p>
<p>Sebegitu gentingkah kondisinya, sehingga CBF membutuhkan sentuhan dari tokoh yang dalam “spiritualitas taktik” dan kultural sejatinya berbeda?</p>
<p>Pelatih genius Manchester City, Pep Guardiola pernah masuk radar incaran untuk menyegarkan manajemen Selecao. Juga legenda Real Madrid, Zinedine Zidane. Langkah memboyong Don Carlo diseriusi lewat berbagai pintu pendekatan.</p>
<p>Neymar Junior, misalnya, membentuk opini untuk meyakinkan kepada Ancelotti tentang kehendak perubahan sepak bola negerinya. Ricardo Kaka, yang pernah diasuh oleh Don Carlo di AC Milan disebut-sebut pernah menjadi utusan khusus CBF untuk merayu eks mentornya itu. Legenda Ronado Nazario juga diberitakan menghubungi Don Carlo untuk missi tersebut.</p>
<p>CBF berargumen dengan rasionalitas, bahwa Ancelotti membuktikan mampu mengeksplorasi talenta-talenta Negeri Samba yang bermain untuk Real Madrid, yakni Vinicius Junior, Rodrygo Goes, dan Endrick.</p>
<p>Dalam penilaian Ednalno, banyak pemain yang menyukai Don Carlo. Mereka yang dilatih menceritakan, Ancelotti adalah sosok ideal, sementara yang lain menyatakan ingin dilatih karena dia adalah orang yang tepat. Presiden CBF pun percaya, Ancelotti merupakan figur yang sempurna untuk Selecao.</p>
<p><strong>Kultural</strong><br />
Sejarah sepak bola di negeri lima kali juara dunia itu mencatat, tak mudah mendapat kepercayaan sebagai pelatih. Selain reputasi, juga keberanian mental untuk menjadi “santapan” media. <em>Mindset</em> publik tergambar dari tuntutan “hanya mau <em>copa</em>, hanya mau Piala Dunia”.</p>
<p>Siapa pun dia, sosok pelatih selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Setia pada pakem kultural j<em>ogo bonito</em>, atau mencoba mengusung cara bermain yang pragmatis. Sepak bola Negeri Samba itu kental dengan kultur <em>jeitinho</em>, yakni transformasi sikap keseharian yang “tidak tahu apa yang akan dilakukan kemudian”, bergerak lebih menuruti naluri. Dan, ketika naluri seni artistik lebih larut dalam sikap bersepak bola, yang mengemuka adalah pikiran “untuk apa menang, kalau dengan cara yang biasa-biasa saja?”.</p>
<p>Dalam catatan, pelatih yang sukses memadukan pragmatisme dengan keindahan irama tarian samba adalah Carlos Alberto Perreira yang menjuarai Piala Dunia 1994, dan Felipe Luis Scolari arsitek tim 2002. Keduanya belajar dari kegagalan Sebastiao Lazaroni di Piala Dunia 1990 ketika memilih jalur pragmatis secara total. Sedangkan Tele Santana, yang diakui sebagai ideolog sepak bola indah, gagal pada 1982 dan 1986 walaupun Brazil dengan Zico, Socrates, dan Falcao dikenang sebagai “tim paling artistik sepanjang masa”.</p>
<p>Tite sebenarnya bersikap seperti Big Phil, namun keseimbangan yang dia usung di Rusia 2018 dan Qatar 2022 tak membuahkan trofi. Dia lalu digantikan sementara oleh Ramon Menezes, sebelum CBF resmi menunjuk Dorival Junior yang kemudian juga dianggap gagal.</p>
<p>Kini, mendatangkan Carlo Ancelotti, “orang luar” sebagai pilihan yang dianggap paling tepat, walaupun tentu bernuansa spekulasi, baik bagi Brazil sendiri maupun bagi Don Carlo. Bagaimanapun, di tengah arus global sepak bola, CBF dihadapkan pada kontroversi, sama seperti ketika Inggris mendatangkan Sven Goran-Eriksson (Swedia), lalu Fabio Capello (Italia), dan kini Thomas Tuchel (Jerman) untuk mengarsiteki tim nasional Tiga Singa.</p>
<p>Ide ini adalah eksperimen besar bagi Brazil. Ketika para “ulama sepak bolanya” gagal memberi sentuhan yang menghasilkan trofi dunia, Don Carlo menjadi jalan tengah. Bagi Don Carlo sendiri, ”ajaran” yang sukses dia terapkan untuk Parma, AS Roma, AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid tentu harus diadaptasikan dengan transformasi kultur dan ideologi yang sama sekali berbeda. Yang menjadi modal adalah talenta sepak bola yang tak pernah kering di negeri ini.</p>
<p>Ancelotti tumbuh dan besar dalam pemahaman filosofi <em>catenaccio</em> Italia, lalu berkembang dengan pendekatan permainan yang dia bangun di klub-klub Italia, dan berbeda pula dasar-dasar yang dia terapkan untuk Chelsea dan Real Madrid.</p>
<p>Menarik untuk menunggu, seperti apa Tim Samba Brazil dalam sentuhan Don Carlo nanti? Bagaimana aplikasi transformatif legenda Italia yang telah bertualang di banyak klub ini, beradaptasi dengan sepak bola Brazil yang sarat dengan seni “pengucapan jiwa”?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/05/17/don-carlo-dan-transformasi-kultural-ke-tim-samba-brazil">Don Carlo, dan Transformasi Kultural ke Tim Samba Brazil</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kemenag dan Komunitas Katolik Sant’Egidio Bahas Moderasi Beragama</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/04/21/kemenag-dan-komunitas-katolik-santegidio-bahas-moderasi-beragama</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2025 07:51:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Global]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[kerja sama]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Lintas Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Roma]]></category>
		<category><![CDATA[Sant’Egidio]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarawan]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=470533</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA (SUARABARU.ID)&#8211; Sejarawan yang juga anggota aktif Komunitas Katolik Sant’Egidio, yang berbasis di Roma, Italia, Valeria Martano menyatakan komitmennya, untuk memperkuat kerja sama lintas agama, dalam membangun perdamaian global. Hal ini seperti yang disampaikannya, saat bertemu Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (21/4/2025). &#8221;Komunitas Sant’Egidio sangat peduli [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/04/21/kemenag-dan-komunitas-katolik-santegidio-bahas-moderasi-beragama">Kemenag dan Komunitas Katolik Sant’Egidio Bahas Moderasi Beragama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Sejarawan yang juga anggota aktif Komunitas Katolik Sant’Egidio, yang berbasis di Roma, Italia, Valeria Martano menyatakan komitmennya, untuk memperkuat kerja sama lintas agama, dalam membangun perdamaian global.</p>
<p>Hal ini seperti yang disampaikannya, saat bertemu Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (21/4/2025).</p>
<p>&#8221;Komunitas Sant’Egidio sangat peduli dengan perdamaian. Kami ingin menjadi sahabat dalam kerja sama dan pembangunan perdamaian antaragama,&#8221; ujar Valeria Martano dalam pernyataannya.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/04/21/kanwil-kemenkum-jawa-tengah-ikuti-rapat-persiapan-seleksi-pppk-tahap-ii-tahun-anggaran-2024">Kanwil Kemenkum Jawa Tengah Ikuti Rapat Persiapan Seleksi PPPK Tahap II Tahun Anggaran 2024</a></strong></p>
<p>Dalam pertemuan itu, Valeria menyampaikan sejumlah agenda kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan Sant’Egidio. Baik di tingkat internasional maupun Nasional, termasuk keterlibatan Indonesia.</p>
<p>&#8221;Sant’Egidio memiliki pengalaman panjang dalam membangun dialog, terutama di tempat-tempat yang mengalami konflik. Kami tidak menggantikan peran diplomasi, tapi kami bekerja dengan cara persahabatan, mendekati orang-orang yang tidak diajak bicara,&#8221; jelas dia lagi.</p>
<p>Sementara itu, Nasaruddin Umar menyambut baik tawaran kerja sama ini, dan mengapresiasi pendekatan Sant’Egidio dalam membangun perdamaian. Termasuk dengan kelompok yang kerap dianggap sulit diajak dialog.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/04/21/kanwil-kemenag-dan-pw-muslimat-nu-sepakati-pendampingan-perempuan-dan-anak-korban-kekerasan">Kanwil Kemenag dan PW Muslimat NU Sepakati Pendampingan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan</a></strong></p>
<p>&#8221;Pendekatan Sant’Egidio luar biasa. Kita perlu organisasi seperti Sant’Egidio, yang bisa menjangkau kelompok-kelompok yang tidak tersentuh,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Menag menambahkan, Pemerintah Indonesia, melalui Kemenag, sedang gencar mengarusutamakan moderasi beragama, sebagai jalan tengah yang damai dan inklusif.</p>
<p>&#8221;Saya terbuka untuk semua inisiatif. Kita bisa mulai dengan menyelenggarakan pertemuan yang lebih teknis. Nanti bisa kita undang juga dari Pusat Kerukunan Umat Beragama dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), untuk menjajaki bentuk kerja sama yang konkret,&#8221; Nasaruddin, yang juga sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal ini.</p>
<p>Dia juga menyebut, UIII sebagai institusi akademik yang bisa menjadi platform kerja sama lintas iman. &#8221;Kami ingin menjadikan UIII sebagai ruang terbuka untuk pertemuan antarbudaya dan antaragama, di tingkat global,&#8221; imbuh Menag.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/04/21/kemenag-dan-komunitas-katolik-santegidio-bahas-moderasi-beragama">Kemenag dan Komunitas Katolik Sant’Egidio Bahas Moderasi Beragama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tambahan Pemain Baru Bikin Jay Idzes Makin Bersemangat</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/03/20/tambahan-pemain-baru-bikin-jay-idzes-makin-bersemangat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2025 03:50:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Babak Kualifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Jay Idzes]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Serie A]]></category>
		<category><![CDATA[Skuad Garuda]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[TIMNAS INDONESIA]]></category>
		<category><![CDATA[Venezia FC]]></category>
		<category><![CDATA[Zona Asia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=466303</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)&#8211; Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes menegaskan tekadnya, untuk berjuang demi Skuad Garuda, jelang pertandingan Babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia putaran ketiga melawan Australia. Pemain yang juga membela klub Serie A Italia, Venezia FC ini menyatakan, perubahan di staf kepelatihan dan beberapa tambahan pemain baru, tidak mengurangi tekad tim untuk tampil maksimal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/20/tambahan-pemain-baru-bikin-jay-idzes-makin-bersemangat">Tambahan Pemain Baru Bikin Jay Idzes Makin Bersemangat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes menegaskan tekadnya, untuk berjuang demi Skuad Garuda, jelang pertandingan Babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia putaran ketiga melawan Australia.</p>
<p>Pemain yang juga membela klub Serie A Italia, Venezia FC ini menyatakan, perubahan di staf kepelatihan dan beberapa tambahan pemain baru, tidak mengurangi tekad tim untuk tampil maksimal.</p>
<p>Hal ini menurutnya, seperti dilansir dari laman resmi Timnas Indonesia, justru akan menambah semangat para pemain untuk saling bahu membahu di setiap tantangan.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/20/patrick-kluivert-ubah-sedikit-komposisi-tim">Patrick Kluivert Ubah Sedikit Komposisi Tim</a></strong></p>
<p>&#8221;Saya telah bekerja sama dengan pelatih sebelumnya, selama sekitar satu tahun. Dan sekarang kami bekerja dengan pelatih dan para staf yang berbeda. Mereka adalah nama besar di Belanda bahkan di dunia, dan memiliki karier yang bagus. Kami siap untuk pertandingan nanti dengan para pelatih baru dan beberapa pemain baru,&#8221; ujar Idzes, dalam sesi jumpa pers jelang pertandingan, Rabu (19/3/2025).</p>
<p>Selain itu, Jay juga mengapresiasi upaya PSSI dalam mendatangkan pemain-pemain terbaik untuk memperkuat Timnas Indonesia. Termasuk mereka yang lahir di luar negeri, tetapi memiliki darah Indonesia.</p>
<p>&#8221;Federasi (PSSI) melakukan yang terbaik untuk mendatangkan para pemain bagus, yang ingin membela Tanah Air Indonesia, seperti saya. Kami memang lahir di tempat berbeda, tapi kami siap bertarung untuk warna dan jersey yang sama untuk mewakili negara,&#8221; tambahnya.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/20/fakultas-teknologi-pertanian-usm-gelar-international-guest-lecture-via-daring">Fakultas Teknologi Pertanian USM Gelar International Guest Lecture via Daring</a></strong></p>
<p>Bek berusia 24 tahun itu juga menegaskan, suasana di dalam tim tetap kondusif, meskipun ada perubahan dan adaptasi yang harus dilakukan beberapa pemain baru. Sebut saja Emil Audero, Joey Pelupessy, Dean James serta Ole Romeny.</p>
<p>&#8221;Mereka bisa beradaptasi sangat baik, dan suasana di tim ini juga sangat baik sejauh ini,&#8221; ungkap Idzes.</p>
<p>Seperti dijadwalkan, laga kontra Australia akan digelar di Sydney Football Stadium, pada Kamis (20/3/2025). Ini akan menjadi langkah penting lainnya bagi tim Garuda dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/20/tambahan-pemain-baru-bikin-jay-idzes-makin-bersemangat">Tambahan Pemain Baru Bikin Jay Idzes Makin Bersemangat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Atlet Indonesia Ukir Prestasi di Ajang Special Olympics Winter World Games 2025</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/03/14/atlet-indonesia-ukir-prestasi-di-ajang-special-olympics-winter-world-games-2025</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2025 08:59:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bardonecchia]]></category>
		<category><![CDATA[Charge d’Affaires]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[Kedutaan Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Palazzo delle Feste]]></category>
		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Roma]]></category>
		<category><![CDATA[Special Olympics Winter World Games 2025]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=465387</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)&#8211; Charge d’Affaires Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Roma, Italia, Tika Wihanasari mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi penuh atas catatan prestasi yang diukir tiga atlet Indonesia, di ajang Special Olympics Winter World Games 2025, di Palazzo delle Feste, Bardonecchia, Italia. Menurut dia, prestasi itu bukan hanya tentang medali, tetapi juga tentang semangat pantang menyerah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/14/atlet-indonesia-ukir-prestasi-di-ajang-special-olympics-winter-world-games-2025">Atlet Indonesia Ukir Prestasi di Ajang Special Olympics Winter World Games 2025</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Charge d’Affaires Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Roma, Italia, Tika Wihanasari mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi penuh atas catatan prestasi yang diukir tiga atlet Indonesia, di ajang Special Olympics Winter World Games 2025, di Palazzo delle Feste, Bardonecchia, Italia.</p>
<p>Menurut dia, prestasi itu bukan hanya tentang medali, tetapi juga tentang semangat pantang menyerah, keberanian, dan tekad untuk terus melampaui batas. Mereka telah membuktikan, keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih prestasi. Setiap individu, tanpa terkecuali, berhak untuk bermimpi, berusaha, dan mencapai kesuksesan,&#8221; puji Tika.</p>
<p>Seperti diketahui, tiga atlet yang berprestasi itu yakni, Anastasia Aresyenan Bwariat (DKI Jakarta), Siti Naswa (Kalimantan Selatan), dan Muhammad Aden Aryadippa (DKI Jakarta).</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/14/fifa-sahkan-joey-dean-dan-emil-audero-gabung-timnas-indonesia">FIFA Sahkan Joey, Dean, dan Emil Audero Gabung Timnas Indonesia</a></strong></p>
<p>Mereka bertiga berhasil meraih kemenangan dalam sesi final cabang olahraga Dance Sport kategori Solo-Traditional Dance, di ajang Special Olympics Winter World Games 2025, yang digelar di Palazzo delle Feste, Bardonecchia, Italia.</p>
<p>Aden memperoleh peringkat empat, Anastasia (Tasya) memenangkan medali perunggu, dan Naswa mendapatkan medali emas, pada kategori Specialty Solo.</p>
<p>Penampilan Tasya dengan tarian Ondel-ondel, berhasil memukau juri dan penonton dengan menampilkan keindahan budaya Betawi, dengan gerakan yang lincah dan penuh energi.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/14/saiful-mujab-beri-tiga-pesan-penting-wujudkan-madrasah-maju-inklusif-dan-adaptif">Saiful Mujab Beri Tiga Pesan Penting Wujudkan Madrasah Maju, Inklusif dan Adaptif</a></strong></p>
<p>Sedangkan Siti Naswa membawakan Tari Dayak Modern berjudul &#8216;Flying High&#8217;, yang menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan kontemporer yang inovatif. Aden dalam kesempatan ini, membawakan tarian Kicir-kicir, dengan gerakan yang dinamis dan ceria.</p>
<p>Ketiganya tampil tidak hanya menunjukkan ketrampilan luar biasa, tetapi juga membawa semangat keberagaman budaya Indonesia ke atas panggung dunia.</p>
<p>Tika Wihanasari yang hadir untuk memberikan dukungan kepada seluruh atlet Indonesia, juga mendapat kehormatan dari panitia, untuk menyerahkan penghargaan secara langsung kepada para pemenang.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/14/pky-jawa-tengah-terima-program-magang-ky-creative-fh-unnes-semarang">PKY Jawa Tengah Terima Program Magang KY Creative FH Unnes Semarang</a></strong></p>
<p>Pada kesempatan yang sama, Ketua Delegasi, Mugaera Djohar Yusuf, menyampaikan rasa bangganya terhadap tim yang dibawanya. Meskipun tim itu hanya terdiri dari empat atlet, dua pelatih, satu dokter, dan satu Ketua Delegasi.</p>
<p>&#8221;Meski kami sedikit, namun kami tim yang solid. Kami ingin menunjukkan, Indonesia tidak kalah dari negara lain, dan mampu mengharumkan nama bangsa di panggung dunia,&#8221; ujar Mugaera.</p>
<p>Dia berharap, agar tim Indonesia kembali meraih medali dalam pertandingan kategori Duo dan Beregu, yang berlangsung pada Jumat (14/3/2025) ini. &#8221;Perjuangan masih berlanjut, dan kami akan memberikan yang terbaik untuk Indonesia,&#8221; tambahnya dengan penuh semangat.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/14/wagub-jateng-dukung-program-sekolah-rakyat-untuk-warga-miskin">Wagub Jateng Dukung Program Sekolah Rakyat untuk Warga Miskin</a></strong></p>
<p>Sementara itu, Head Coach, Eva Susanti menjelaskan, penampilan para atletnya secara keseluruhan baik. Mereka tampil dengan semangat tinggi, dengan mengenakan kostum tradisional, lagu daerah, dan menari dengan paduan elemen tari daerah dan gerakan wajib dance sport.</p>
<p>&#8221;Performance mereka baik, dengan penguasaan panggung yang baik. Gerakan atlet sangat dinamis, hingga terkesan mereka bisa menguasai panggung,&#8221; tukasnya.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/14/atlet-indonesia-ukir-prestasi-di-ajang-special-olympics-winter-world-games-2025">Atlet Indonesia Ukir Prestasi di Ajang Special Olympics Winter World Games 2025</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Joey, Dean dan Emil Audero Jadi WNI, Timnas Indonesia Makin Kuat dan Lengkap</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/03/12/joey-dean-dan-emil-audero-jadi-wni-timnas-indonesia-makin-kuat-dan-lengkap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2025 07:15:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Dean Ruben James]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Audero Mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[Erick Thohir]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Joey Mathijs Pelupessy]]></category>
		<category><![CDATA[Kedutaan Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Naturalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[PSSI]]></category>
		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Roma]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Negara Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=465022</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)&#8211; Tiga pemain naturalisasi, Joey Mathijs Pelupessy, Dean Ruben James, dan Emil Audero Mulyadi, resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Kepastian ini terwujud, usai tiga pemain itu menjalani sumpah dan janji pewarganegaraan, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Roma, Italia, Senin (10/3/2025). Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengapresiasi atas cepatnya proses naturalisasi tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/12/joey-dean-dan-emil-audero-jadi-wni-timnas-indonesia-makin-kuat-dan-lengkap">Joey, Dean dan Emil Audero Jadi WNI, Timnas Indonesia Makin Kuat dan Lengkap</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Tiga pemain naturalisasi, Joey Mathijs Pelupessy, Dean Ruben James, dan Emil Audero Mulyadi, resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Kepastian ini terwujud, usai tiga pemain itu menjalani sumpah dan janji pewarganegaraan, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Roma, Italia, Senin (10/3/2025).</p>
<p>Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengapresiasi atas cepatnya proses naturalisasi tiga pemain ini. Menurutnya hal itu berkat dukungan penuh Presiden RI Prabowo Subianto, Komisi XIII dan X DPR, Dirjen AHU dan Dirjen Imigrasi, serta Dukcapil DKI Jakarta.</p>
<p>&#8221;Terima kasih kepada semua pihak, yang sudah membantu serta mendukung percepatan sumpah tiga pemain ini untuk Timnas Indonesia,&#8221; kata Erick, seperti dikutip dari laman resmi PSSI.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/12/jordi-cruyff-akan-bangun-sepak-bola-indonesia-dalam-lima-aspek">Jordi Cruyff Akan Bangun Sepak Bola Indonesia dalam Lima Aspek</a></strong></p>
<p>Ditambahkannya, tiga pemain ini sudah melakukan proses pembuatan KTP dan paspor. Proses selanjutnya, tiga pemain ini akan melakukan proses perpindahan federasi, agar bisa memperkuat Timnas Indonesia.</p>
<p>&#8221;Kehadiran Joey, Dean, dan Emil tentu akan menambah kekuatan Timnas Indonesia, saat bertemu Australia dan Bahrain. Tentu bergabungnya mereka, akan menambah pilihan dan variasi formasi yang akan diterapkan pelatih Patrick Kluivert. Selain itu, kedalaman tim juga semakin lengkap,&#8221; imbuh dia.</p>
<p>Dalam proses sumpah pewarganegaraan itu, perwakilan PSSI dihadiri anggota Komite Eksekutif, Arya Sinulingga, dan sejumlah pejabat Kemenkum seperti Nico Afinta (Sekjen Kemenkum), Moh Noor Korompot (Stafsus Menkum), Yadi Heriyadi Hendriana (Stafsus Menkum), Akhmad Ali Fahmi (Stafsus Menkum), Adam Muhammad (Stafsus Menkum), Widodo (Direktur Jenderal AHU), dan Dulyono (Direktur Tata Negara AHU).</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/03/12/melaksanakan-pengamanan-mudik-lebaran-lebih-optimal">Melaksanakan Pengamanan Mudik Lebaran Lebih Optimal</a></strong></p>
<p>Joey Pelupessy saat ini membela klub Lommel SK, Belgia, sedangkan Dean James bermain untuk klub Go Ahead Eagles Liga Belanda, dan Emil Audero bermain untuk klub Italia, Palermo FC.</p>
<p>Timnas Indonesia akan menjalani dua pertandingan lanjutan ronde ketiga Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026, melawan Australia pada Kamis (20/3/2025) di Sydney, dan menjamu Bahrain (25/3/2025), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/12/joey-dean-dan-emil-audero-jadi-wni-timnas-indonesia-makin-kuat-dan-lengkap">Joey, Dean dan Emil Audero Jadi WNI, Timnas Indonesia Makin Kuat dan Lengkap</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pergerakan Konstelasi dan Tradisi Sepak Bola Eropa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/06/29/pergerakan-konstelasi-dan-tradisi-sepak-bola-eropa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Jun 2024 10:00:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Euro 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[Portugal]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[Staying Power]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://suarabaru.id/?p=422497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // pada peta tradisi/ pada peta konstelasi/ sepak bola bergerak dinamis/ menembus lorong-lorong kesempatan/ kita menangkap lolong sang jagoan/ pun kita simak gelora sang penantang// (Sajak “Peta Euro 2024”, Juni 2024) CUKUP kuatkah Inggris, tuan rumah Jerman, Prancis, dan Italia menjadi gantungan perkiraan merajai Euro 2024? Inggris dengan kematangan kompetisi liganya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/29/pergerakan-konstelasi-dan-tradisi-sepak-bola-eropa">Pergerakan Konstelasi dan Tradisi Sepak Bola Eropa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-422499 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-2.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-2.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-2-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// pada peta tradisi/ pada peta konstelasi/ sepak bola bergerak dinamis/ menembus lorong-lorong kesempatan/ kita menangkap lolong sang jagoan/ pun kita simak gelora sang penantang//</em><br />
<strong>(Sajak “Peta Euro 2024”, Juni 2024)</strong></p>
<p><strong>CUKUP</strong> kuatkah Inggris, tuan rumah Jerman, Prancis, dan Italia menjadi gantungan perkiraan merajai Euro 2024?</p>
<p>Inggris dengan kematangan kompetisi liganya, Jerman dengan basis <em>staying power</em>-nya, atau Prancis yang selalu mengetengahkan tim multikultur berteknik luar biasa.</p>
<p>Juga, pasti, Anda tak bisa mengabaikan Italia, Spanyol, Belanda, dan Portugal sebagai jagoan-jagoan dengan karakter bermain yang sarat dengan tradisi dan faktor pembeda?</p>
<p>Putaran final Piala Antarnegara Eropa tahun ini memaparkan jawaban atas usikan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.</p>
<p>Jawabannya bisa membuat dahi berkerut. Konstelasi bergerak, walaupun diyakini belum berubah. Peta perlahan-lahan bergeser, dan kita mesti menskemakan ulang kekuatan Eropa lewat pergelaran Euro 2024, kali ini.</p>
<p>Hasil-hasil pertandingan, dan laju sejumlah tim dari grup penyisihan menyisakan pertanyaan serupa kajian: seperti apakah kemajuan-kemajuan yang dicapai Albania, Georgia, Slovenia, juga mengapa terjadi kemelempeman sejumlah kekuatan tradisi yang selama ini memberi warna di panggung Eropa, bahkan dunia?</p>
<p>Ketika harus berhadapan dengan Georgia di babak gugur 16 besar, Luis de la Fuente, pelatih Spanyol menyalakan tanda bahaya. La Furia Roja &#8212; juara 2008 dan 2012 &#8212; menyatakan respeknya menghadapi Khvicha Kvaratskhelia dkk.</p>
<p>“Kami sangat menghormati mereka. Mereka adalah tim yang menjalani turnamen ini dengan hebat, mengalahkan Portugal. Dan, berdasarkan pengalaman, kami melihat kinerja mereka meningkat dan mengalami kemajuan. Kami harus memberikan versi terbaik kami agar bisa lolos,” tutur de la Fuente, seperti dilansir <em>cnnindonesia.com</em> dari <em>Football Espana</em>.</p>
<p>Kata de la Fuenta, “Kami melihat mereka telah mengubah sistem, tetapi bukan ide yang mereka miliki, dengan pemain-pemain yang keluar dengan sangat cepat saat melakukan transisi. Kami harus sangat berhati-hati”.</p>
<p>Pelatih 63 tahun itu menyebut, motivasi dan konfidensi mereka makin kuat setelah mengalahkan Portugal 2-0 di babak grup. Tim racikan legenda Prancis Willy Sagnol itu makin berbahaya.</p>
<p>Di babak 16 besar, juara bertahan Italia ditantang Swiss, Jerman vs Denmark, Inggris vs Slovakia, Spanyol vs Georgia, Prancis vs Belgia, Portugal vs Slovenia, Belanda vs Rumania, dan Austria vs Turki.</p>
<p><strong>Sekadar Kejutankah?</strong><br />
Dinamika pergeseran kekuatan adalah sisi lain yang ditunggu-tunggu oleh para pemuja kejutan. Itu adalah romantisme hasil dalam sebuah kompetisi. Sebaliknya, <em>status quo</em> tetap menginginkan peta dan konstelasi tak berubah, memuja kekuatan lama dengan segala warnanya. Yang berbicara hanya tradisi dan tradisi&#8230;</p>
<p>Dalam catatan, “kejutan” berupa kemenangan “hanya” 1-0 Inggris atas Serbia, misalnya, lalu imbang 1-1 dengan Denmark, dan 0-0 versus Slovenia, dari sisi mediatika adalah hasil yang mencengangkan. Juga Belanda yang kalah 2-3 dari Austria, lalu dipuncaki dengan Portugal yang dilibas 0-2 oleh Georgia.</p>
<p>Pada satu sisi, hasil-hasil itu bisa dimaknai sebagai “kejutan” karena keterusikan tim-tim <em>status quo</em>; namun pada sisi lain menggambarkan bahwa tak ada satu pun kekuatan yang bisa mengklaim kemenangan atas tim-tim yang dipandang ada di bawah level mereka.</p>
<p>“Kejutan-kejutan” itu juga membuka mata dunia bahwa Georgia, Albania, Slovenia, Austria, juga Swiss tak bisa lagi dipandang hanya sebagai penggembira di kancah Eropa. Bagaimanapun, ini adalah pesan tersirat bahwa negara-negara itu mulai melepaskan diri dari inferioritas.</p>
<p><strong>Kecewa pada Inggris</strong><br />
Pada sisi lain, kekecewaan terutama teralamat kepada Inggris yang menjadi favorit kandidat juara. Juga pada beberapa segi, Italia dan tuan rumah Jerman. Empat tahun silam Italia juara. Jerman juga sedang membangun kekuatan Die Manschaaft setelah melemem di sejumlah turnamen mayor.</p>
<p>Dengan deretan pemain top yang bermain di liga-liga terpenting, The Three Lions menjanjikan untuk menampilkan impresivitas yang berbeda dari tim-tim lainnya. Apakah Hary Kane dkk kembali ke “kebiasaan”, bahwa mereka justru akan bermain buruk justru ketika diunggulkan, seperti di turnamen-turnamen sebelumnya?</p>
<p>Pelatih Gareth Southgate disorot keras para legenda Inggris karena mencoret Marcus Rashford dan Jack Grealish. Performa defensif dalam tiga laga di Euro 2024 akhirnya mengecewakan banyak orang. Para pemain dengan karakter ofensif macam Jude Bellingham, Declan Rice, Phil Foden, Bukayo Saka, dan Kobbie Mainoo tidak bermain dalam bentuk terbaik seperti di klub, dan malah seperti “hilang”.</p>
<p>Performa minimalis juga dirasakan dari pertunjukan Italia dan Jerman.</p>
<p>Dari sisi sejarah dan tradisi, kurang apa Italia? Namun, haruslah diakui, di bawah <em>allenatore</em> Luciano Spaletti <em>Squadra Azzurra</em> sedang kekurangan talenta. Yang menonjol dan makin matang hanya kiper Gianluigi Donnarumma. Hampir di semua posisi, tidak ada yang bisa diandalkan dengan kapasitas sebagai sosok pembeda.</p>
<p>Jerman juga mengalami hal serupa, meskipun Julian Nagelsmann sebenarnya memiliki pilar Ilkay Gundogan, Jamal Musiala, Florian Wirts, dan Kai Havertz. Juga senior seperti Toni Kroos, Antonio Rudiger, Manuel Neuer, dan Tomas Mueller.</p>
<p>Akan kita lihat, apakah performa tim-tim unggulan di babak gugur akan berubah. Masih ditunggu apakah Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Portugal dan Prancis akan larut dalam konfidensi tim-tim medioker yang sudah terbukti memberi kesulitan di fase grup.</p>
<p>Apakah Euro 2024 akan dikuasai oleh kekuatan tradisi, atau akan ada kejutan yang berlanjut?</p>
<p>Saya masih melihat, dinamika yang berlangsung di fase grup baru merupakan pergerakan, bukan pergeseran. Baru kejutan-kejutan instan, dan belum menggambarkan perubahan peta.</p>
<p>Rasa kepenasaran seperti ini justru akan menjadikan sepak bola makin menarik dalam kekukuhan ekspresi imajinasinya&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/29/pergerakan-konstelasi-dan-tradisi-sepak-bola-eropa">Pergerakan Konstelasi dan Tradisi Sepak Bola Eropa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Mbappe, dan Kerinduan Mengangkat Trofi Euro</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/06/22/kontroversi-mbappe-dan-kerinduan-mengangkat-trofi-euro</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2024 10:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Argentina]]></category>
		<category><![CDATA[Brazil]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[uruguay]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://suarabaru.id/?p=421092</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // patutkah dia mempersoalkan/ mana yang lebih baik/ : Eropa atau Latin?/ atau ia hanya bunga media/ yang menyempurnakan budaya pop/ untuk menyulut kegempitaan global?// (Sajak “Mbappe dan Kebanggaan Eropa”, Juni 2024) AMERIKA Latin memang hanya diwakili tiga negara pemegang trofi dunia: Brazil, Argentina, dan Uruguay, sedangkan Eropa membendaharakannya lewat Jerman, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/22/kontroversi-mbappe-dan-kerinduan-mengangkat-trofi-euro">Kontroversi Mbappe, dan Kerinduan Mengangkat Trofi Euro</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-421093 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// patutkah dia mempersoalkan/ mana yang lebih baik/ : Eropa atau Latin?/ atau ia hanya bunga media/ yang menyempurnakan budaya pop/ untuk menyulut kegempitaan global?//</em><br />
<strong>(Sajak “Mbappe dan Kebanggaan Eropa”, Juni 2024)</strong></p>
<p><strong>AMERIKA</strong> Latin memang hanya diwakili tiga negara pemegang trofi dunia: Brazil, Argentina, dan Uruguay, sedangkan Eropa membendaharakannya lewat Jerman, Italia, Prancis, Spanyol, dan Inggris.</p>
<p>Dari sisi jumlah piala, Latin mencatat 10 kali juara. Brazil lima kali (1958, 1962, 1970, 1994, 2006), Argentina tiga kali (1978, 1986, 2022), dan Uruguay dua kali (1930, 1950).</p>
<p>Eropa memboyong piala 12 kali dari lima negara. Italia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006), Jerman empat kali (1954, 1974, 1990, 2014), Prancis dua kali (1998, 2018), Inggris (1966), dan Spanyol 2010.</p>
<p>Apakah angka-angka kuantitatif itu menggambarkan dalam peta sepak bola dunia Eropa unggul atas Latin, atau sebaliknya?</p>
<p>Bertepatan dengan putara final Euro 2024 di Jerman kali ini, bintang Prancis Kylian Mbappe melontarkan pernyataan kontroversial. Secara tidak langsung dia menyebut, pamor Piala Eropa jauh lebih mencorong ketimbang Piala Dunia. Menurut dia, Euro jauh lebih menyulitkan.</p>
<p>Kapten Prancis itu pun kembali “diserang” para pemain Amerika Selatan. Setelah keberatan Lisandro Martinez dan Lionel Messi, giliran <em>winger</em> Brazil Raphinha yang mereaksi. Mereka berkesimpulan, Piala Dunia jauh lebih menantang ketimbang Piala Eropa.</p>
<p>Secara tidak langsung, eks bintang Paris St Germain yang musim depan berseragam Real Madrid itu melihat kualitas sepak bola Eropa lebih superior. Mbappe juga pernah memicu kegeraman karena menyebut level sepak bola Eropa jauh di atas Amerika Latin.</p>
<p><strong>Kecewa Hasil Final?</strong><br />
Reaksi Lionel Messi dkk bisa dimaklumi, mengingat merekalah yang membawa pulang Piala Dunia ke Buenos Aires dengan mengalahkan Prancis di final.</p>
<p>Dengan mengulik kembali final di Qatar 2022, Raphinha seolah-olah hendak menyebut Kylian Mbappe boleh jadi dikecewakan oleh hasil final, ketika sebenarnya dia bermain gemilang untuk memimpin perjuangan Les Bleus.</p>
<p>Penyerang sayap Barcelona itu juga menyinggung tantangan besar pertandingan-pertandingan zona CONMEBOL untuk menaklukkan kawasan tinggi yang “ditakuti” seperti di La Paz, Bolivia. “Tim-tim Eropa belum tentu bisa menghadapi itu,” ungkapnya.</p>
<p>Lionel Messi menanggapi Kylian Mbappe dengan pernyataan cerdas, “Jelas, Euro adalah turnamen yang sangat penting dengan tim-tim terbaik, tetapi (turnamen ini) tidak memiliki Argentina, juara dunia tiga kali, Brazil, juara dunia lima kali, dan Uruguay, juara dunia dua kali. Ada terlalu banyak juara dunia untuk menyatakan bahwa itu adalah hal yang paling sulit. Secara umum, Piala Dunia adalah rumah bagi juara dunia terbaik. Semua orang ingin menjadi juara,” tutur peraih delapan kali Ballon d’Or itu seperti dilansir <em>ESPN</em>.</p>
<p>Bagi Mbappe, Euro adalah satu-satunya yang belum dia menangi. Piala Dunia (2018) sudah, UEFA Nations League (2020-2021), juga oke. Sebagai kapten, dia merasa ini adalah tantangan tersendiri.</p>
<p>“Saya sangat ingin memenangkan ini. Kompetisi pertama saya sebagai kapten, jadi ini sangat penting bagi saya, dan selalu penting bagi negara. Dan, kami ingin mereka bangga kepada kami. Ini kesempatan lain untuk menulis sejarah negara saya,” katanya.</p>
<p><strong>Ekosistem Industri</strong><br />
Tentu Mbappe berhak memberi penilaian apa saja tentang kualitas Euro sebagai turnamen tertinggi UEFA. Yang agak sembrono adalah kesimpulan yang pernah dia sampaikan jauh sebelumnya bahwa level sepak bola Amerika Selatan di bawah Eropa.</p>
<p>Secara nyata, klub-klub liga Eropa membutuhkan “penguatan” dari para pemain Latin yang memiliki eksepsionalitas dan eksotika teknik. Apakah itu diartikan bahwa para pemain Amerika Selatan membutuhkan medium representatif bagi pengembangan kemampuannya, di klub-klub dengan organisasi dan manajemen yang baik?</p>
<p>Apakah Raphinha bisa berkembang sebaik sekarang jika hanya bermain untuk Vitoria Guimares, dan akhirnya memilih bertualang ke Sporting Lisbon, Rennes, Leeds United, dan Barcelona?</p>
<p>Lisandro Martinez, apakah dia akan semoncer sekarang bersama Manchester United apabila dia bertahan di Newell’s Old Boy tidak memilih Ajax Amsterdam?</p>
<p>Pun, apakah mutiara yang mengeram dalam diri Lionel Andres Messi akan tergosok semengkilap itu jika dia tidak hijrah ke Barcelona dari Newell’s Old Boys?</p>
<p>Artinya, ekosistem industri sepak bola akan memosisikan pemain sebagai “pusat” yang saling bergantung antara klub dengan sumberdaya manusia. Maka Eropa akan terus bergantung pada bakat-bakat alamiah pemain Latin untuk memperkuat performa industrialnya.</p>
<p>Begitu pula sebaliknya, pemain Latin juga butuh pengembangan karier seperti halnya perjalanan Diego Simeone dari peran sebagai pemain sampai menjadi pelatih hebat. Arthur Coimbra Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, juga Leonardo meniti perjalanan panjang dengan rute yang mirip. Lionel Messi juga bergelut dalam industri sepak bola Eropa bersama Barcelona dan PSG. Bahkan kini bersiap mengakhiri karier bersama Inter Miami di Major League Soccer.</p>
<p>Persoalan pembandingan Eropa dan Amerika Latin tak akan berhenti hanya dari pernyataan Kylian Mbappe. Semua akan bergulir sebagai “peta” mediatika. Budaya pop akan terus mengolah pendapat Mbappe sebagai picu untuk meniupkan pancaran publikasi yang menghidupkan paradoks demi paradoks relasi industrial.</p>
<p>Wajar apabila Messi, Martinez, Raphinha, dan pasti masih banyak pemain Latin yang gusar dan tidak terima dengan penilaian Mbappe, namun sejatinya itu tidak akan berhenti, seperti ketika Pele memberi kesimpulan kontroversial bahwa Cristiano Ronado dan Neymar Junior lebih baik ketimbang Lionel Messi. Juga dirinya berada di level yang berbeda dibandingkan dengan Diego Maradona.</p>
<p>Atau anggap saja Kylian Mbappe begitu merindukan trofi Eropa lebih dari segalanya. Sebagai kapten, juga sebagai bintang tim nasional negaranya&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/22/kontroversi-mbappe-dan-kerinduan-mengangkat-trofi-euro">Kontroversi Mbappe, dan Kerinduan Mengangkat Trofi Euro</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Qatar 2022, Final Piala Dunia “Paling Gila”?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/19/qatar-2022-final-piala-dunia-paling-gila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2022 05:15:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Argentina]]></category>
		<category><![CDATA[Brazil]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia Qatar]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=301304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS PARTAI puncak Piala Dunia tahun berapakah yang menurut Anda “paling gila” dan “menegangkan”? Pastilah kita punya subjektivitas masing-masing untuk “merasakan” atmosfer sebuah partai final Coppa del Mundo. Dan, justru pada titik itulah kita menemukan haru-biru rasa “keterlibatan”. Tak akan menegangkan kalau kita tidak “terlibat”. Akan terasa biasa-biasa saja dan berjalan penuh [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/qatar-2022-final-piala-dunia-paling-gila">Qatar 2022, Final Piala Dunia “Paling Gila”?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-301269 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />PARTAI</strong> puncak Piala Dunia tahun berapakah yang menurut Anda “paling gila” dan “menegangkan”?</p>
<p>Pastilah kita punya subjektivitas masing-masing untuk “merasakan” atmosfer sebuah partai final Coppa del Mundo. Dan, justru pada titik itulah kita menemukan haru-biru rasa “keterlibatan”.</p>
<p>Tak akan menegangkan kalau kita tidak “terlibat”. Akan terasa biasa-biasa saja dan berjalan penuh logika manakala kita tidak punya jago, salah satu di antara dua tim yang berduel. Apalagi kalau punya pemain idola, bertambah pula relativitas untuk menghayati detik demi detik laga, dinamika permainan yang tersuguhkan, aneka manuver indah, pelanggaran-pelanggaran, dan semua elemen yang mewarnai pertandingan.</p>
<p>Tanggal 18 Desember, Stadion Lusail Iconic, Doha, Qatar mencatatkan prasasti ketegangan objektif partai final. Mengapa ketegangan objektif?</p>
<p>Kedua tim yang berlaga, Argentina dan Prancis menyuguhkan dinamika pertandingan dengan titik ketegangan ke ketegangan yang bagai tak berjeda. Argentina unggul 1-0 lewat penalti Lionel Messi, lalu menambah gol 2-0 lewat Angel Di Maria. Skor bertahan sampai babak pertama usai.</p>
<p>Saya berpikir, bakal bertambahkah gol Tim Tango? Akankah juara bertahan Prancis demikian mudah ditekuk Lionel Messi dkk? Bagaimana Prancis membalas gol? Bahkan dalam beberapa segi saya memperkirakan, Argentina akan bermain defensif untuk memertahankan skor sampai akhir.</p>
<p>Nyatanya, Prancis perlahan-lahan bangkit, dan akhirnya Les Bleus membalas lewat penalti Kylian Mbappe. Tak berselang lama, Mbappe pula yang menyamakan skor 2-2!</p>
<p>Prancis tersengat bangkit, sementara Argentina harus mengonsolidasi diri untuk keluar dari tekanan. Skor 2-2 bertahan hingga waktu reguler 90 menit tuntas, dan laga diperpanjang 2&#215;15 menit.</p>
<p>Lagi-lagi Argentina memimpin 3-2, dan skor inilah yang tampaknya bakal menutup pertandingan. Tetapi <em>hands ball</em> Gonzalo Montiel membuat wasit Szymon Marciniak menunjuk titik putih. Mbappe pun mengemas <em>hattrick</em>-nya dalam final tersebut.</p>
<p>Skor 3-3 tuntas, dan adu penalti tak terhindarkan. Dalam atmosfer yang sangat menegangkan, Argentina akhirnya memenangi penalti 4-2.</p>
<p><strong>Elemen Ketegangan</strong><br />
“Bunga ketegangan” mewarnai partai pamungkas ini. Pertama, tentu penantian begitu lama, 36 tahun untuk mengangkat Piala Dunia, setelah Diego Maradona dkk meraihnya di Meksiko 1986. Kini Argentina tercatat sebagai negara yang tiga kali juara, masih di bawah Brazil, Italia, dan Jerman yang masing-masing meraih lima kali, empat kali, dan empat kali.</p>
<p>Magnet kedua final Qatar 2022 adalah membaca “takdir” Lionel Messi. Akankah La Pulga pecah telur Piala Dunia dalam turnamen terakhirnya ketika dia sudah berusia 35 tahun? Semua gelar, termasuk tujuh kali Ballon d’Or sudah dia kantungi. Yang belum didapat tinggal Piala Dunia.</p>
<p>Atau dia kembali gagal menyamai seniornya, Sang Dewa Diego Maradona yang mengangkat trofi 1986?</p>
<p>Dan, nyatanya, Messi meraih sukses setelah kegagalan 2006, 2010, 2014, dan 2018. Dia juga melengkapi gelar sebagai Pemain Terbaik, sama seperti yang dia raih pada 2014, meskipun saat itu Argentina digagalkan Jerman 0-1.</p>
<p>Ketiga, Prancis sedang mengejar rekor setelah Brazil sebagai juara yang mampu mempertahankan gelar. Pada 1962, setelah sukses 1958, Tim Samba mempertahankan gelar, dan itulah satu-satunya kisah sang juara bertahan yang sukses dalam empat tahun kemudian.</p>
<p>Kelima, ambisi Kylian Mbappe yang digadang-gadang sebagai calon pemain terbaik dunia menggantikan Messi. Duel Mbappe dan Messi mewarnai “perang pemain satu klub Paris St Germain”. Walaupun Mbappe tak kalah menonjol dengan mencetak tiga gol, dan Messi dua gol, akhirnya sang senior-lah yang keluar sebagai pemenang.</p>
<p><strong>Final “Paling Gila”</strong><br />
Lalu, final Piala Dunia paling “gila”, pada edisi keberapakah?</p>
<p>Dari segi keindahannya, duel Brazil vs Italia di Meksiko 1970 yang berakhir 4-1 disebut-sebut tak tersamai oleh seluruh final sejak 1930. Tim Samba hadir dengan para seniman sepak bola lengkap. Pele dkk bahkan disebut-sebut sebagai “tim terbaik sepanjang masa”.</p>
<p>Final 1974 antara tuan rumah Jerman Barat melawan Belanda juga melegenda. Dengan para pemain berkarakter seperti Franz Beckenbauer, Wolfgang Overath, Rainier Bonhof, Berti Vogts, Guenter Netzer, Gerd Mueller, dan Paul Breitner, mereka menghadapi Belanda yang tengah berkibar sebagai “tim total football” asuhan Rinus Michels. Belanda, dengan kilau Johan Cruyff, Ruud Kroll, Johan Neeskens, serta Wiem van Hanegem, menyuguhkan laga seru dan menegangkan. Jerman menang 2-1.</p>
<p>Sukses Argentina empat tahun kemudian di depan publik sendiri melahirkan catatan final menegangkan. Daniel Passarella dkk menundukkan Belanda 3-1 melalui perpanjangan waktu. Duel keras, sarat manuver, dan pertunjukan momen-momen berkelas menciptakan ketegangan tersendiri.</p>
<p>Partai puncak 1990 dikenang sebagai laga Piala Dunia yang medioker. Jerman memenangi final melawan Argentina dengan 1-0 melalui penalti Andreas Brehme. Final itu di bawah kualitas 1982 Italia-Jerman, dan 1986 Argentina-Jerman.</p>
<p>Pertemuan Brazil-Italia di Amerika Serikat 1994 dan Prancis-Brazil 1998 meninggalkan banyak memori, namun dari aspek keindahan final 2002 di Jepang antara Brazil vs Jerman akan dikenang sebagai parade seniman Samba. Oleh pelatihnya, Luis Felipe Scolari, Selecao sebenarnya tidak di-<em>setting</em> memainkan sepak bola indah, karena dia adalah orang yang pragmatis dan fungsional. Nyatanya, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka, Rivaldo, Kleberson, Ricardo Carlos, dan Cafu tak kehilangan naluri sebagai artis-artis Samba. Brazil menang 2-0.</p>
<p>Final Italia vs Prancis 2006 menjadi memori tak terlupakan karena insiden “tandukan” Zinedine Zidane ke dada Marco Materrazzi. Empat tahun kemudian di Afrika Selatan, hadir tim <em>tiki-taka</em> Spanyol yang juara dengan penuh keelokan. Laga final melawan Belanda yang dimenangi 1-0 layak dicatat dari aspek ketegangannya.</p>
<p>Empat tahun kemudian, kegagalan Lionel Messi untuk pecah telur trofi Piala Dunia mewarnai haru-biru final melawan Jerman. Messi yang dari babak grup hingga semifinal tampil mengesankan, gagal menjadi pembeda di partai final.</p>
<p>Di Rusia 2018, Albiceleste malah lebih awal dipulangkan oleh Prancis. Laga final Prancis-Kroasia menyajikan pertarungan yang layak dikenang, meskipun tidak mengapungkan atmosfer ketegangan seperti Argentina-Prancis. Namun, bagi fans Prancis dan Kroasia, ceritanya tentu berbeda.</p>
<p>Final tahun ini, agaknya bakal menjadi topik yang tak habis dipercaturkan ketika kita mengenang “final-final gila” Piala Dunia.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/qatar-2022-final-piala-dunia-paling-gila">Qatar 2022, Final Piala Dunia “Paling Gila”?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Piala Dunia Tanpa Italia, Apa Kurangnya?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/03/26/piala-dunia-tanpa-italia-apa-kurangnya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2022 10:00:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=240530</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // percayakah kau kepada ritus sepak bola?/ kosong ketika tanpa dia/ lengang dengan ketiadaannya/ muram lantaran ketidakhadirannya/ selalu harus adakah mereka?/ justru ketika yang lain menegakkan kepala/ aku hadir, untuk ritus baru/ lihatlah, aku ada&#8230;// (Sajak “Ritus-ritus Sepak Bola”, 2022) PIALA Dunia tanpa kehadiran Italia, adakah “sesuatunya”? Samakah “rasanya” dengan gereget [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/03/26/piala-dunia-tanpa-italia-apa-kurangnya">Piala Dunia Tanpa Italia, Apa Kurangnya?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-240535 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/03/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// percayakah kau kepada ritus sepak bola?/ kosong ketika tanpa dia/ lengang dengan ketiadaannya/ muram lantaran ketidakhadirannya/ selalu harus adakah mereka?/ justru ketika yang lain menegakkan kepala/ aku hadir, untuk ritus baru/ lihatlah, aku ada&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Ritus-ritus Sepak Bola”, 2022)</strong></p>
<p><strong>PIALA</strong> Dunia tanpa kehadiran Italia, adakah “sesuatunya”?</p>
<p>Samakah “rasanya” dengan gereget sebuah putaran final Coppa del Mundo yang &#8212; misalnya &#8212; tanpa Wales, Skotlandia, Austria, Hongaria, Eslandia, Turki, atau yang lainnya?</p>
<p>Apakah ajang kontestasi tertinggi sepak bola itu bakal kehilangan “aura ritus” ketika negara-negara seperti Brazil, Argentina, Prancis, Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, atau Belanda absen dari <em>final round</em>?</p>
<p>Masalahnya, bagaimana kita mempercaturkan “keanehan” dan “kekuranglengkapan” itu ketika satu-dua negara itulah yang “bikin gara-gara sendiri”?</p>
<p>Ya, bukankah salah Italia sendiri, ketika dua kali berturut-turut 2018 dan 2022 gagal melewati kualifikasi Pra-Piala Dunia?</p>
<p>Katakan pulalah, bagaimana bisa, Prancis dengan sekumpulan “penyihir” bola kelas utama, tersisih dari Piala Dunia 1994? Nasib yang setragis Inggris menuju kontestasi 1974 dan 1994.</p>
<p>Tentulah negara-negara “biang sepak bola” itu tidak bisa menyalahkan sistem kualifikasi, sistem zona, atau segala macam justifikasi. Kalau negara lain bisa, mengapa mereka ber-“persoalan”?</p>
<p>Bagaimana pula menjelaskan, Gli Azzurri yang berstatus juara Euro 2020 tersingkir lewat <em>playoff</em> dari Makedonia Utara, yang bahkan tidak masuk dalam peta percaturan kontestan Piala Dunia?</p>
<p>Inilah momen muram bagi negara yang empat kali juara dunia &#8212; 1934, 1938, 1982, dan 2006 &#8212; itu, lebih memedihkan ketimbang kegagalan di Pra-Piala Dunia 2018 ketika dua kali dikalahkan oleh Swedia. Pelatih Roberto Mancini merasakan kepedihan seperti Gianpiero Ventura mengalaminya pada 2017.</p>
<p><strong>Prancis, Kisah Tragis</strong><br />
Italia tidak sendirian. Tercatat tim-tim kuat lain yang pernah gagal. Inggris terantuk pada 1974 dan 1994. Belanda, “spesialis <em>runner up</em>” (1974, 1978, dan 2010), tidak mampu meraih tiket 1958, 1962, 1966, 1970, 1982, 1986, 2002, dan 2018.</p>
<p>Prancis, dengan para pemain jempolan seperti Bernard Lama, Laurent Blanc, Marcel Desailly, Didier Deschamps, Emanuel Petit, Franck Sauzee, Eric Cantona, David Ginola, dan Jean-Pierre Papin gagal lolos ke AS 1994.</p>
<p>Ketersingkiran dari Bulgaria waktu itu menciptakan “gegar sepak bola” Prancis. Setelah kalah mengejutkan 2-3 dari Israel, Les Bleus yang diarsiteki Gerard Houllier harus menghadapi Bulgaria dalam partai penentuan.</p>
<p>Prancis hanya butuh hasil imbang. Houllier pun menginstruksikan pemainnya agar lebih banyak menahan bola untuk mempertahankan kedudukan. Tetapi dalam kondisi skor 1-1, menjelang<em> injury time</em> David Ginola bermanuver dengan mengirim umpan silang asal-asalan. Bola bisa dipotong lawan, yang segera melancarkan serangan balik. Emil Kustadinov sukses membobol gawang Lama.</p>
<p>Ginola, si flamboyan yang terkenal sulit diatur, pun menjadi sasaran kecaman publik. Houllier menyebutnya sebagai “Pembunuh tim yang menghunjamkan peluru tepat ke jantung sepak bola Prancis”.</p>
<p>Sayap Newcastle United itu pun menghilang dari daftar pemain Tim Ayam Jantan yang menjuarai Piala Dunia 1998.</p>
<p><strong>Kiblat-kiblat</strong><br />
Mengapa ketidaklolosan Italia menjadi perhatian khusus?</p>
<p>Negeri Spaghetti itu diakui sebagai salah satu kiblat sepak bola. Kompetisi Liga Seri A pada 1990-an pernah menjadi yang terbaik di dunia di samping Liga Primer, La Liga, Bundesliga, Ligue 1, dan Eredivisie.</p>
<p>Selain historika sebagai pengoleksi Piala Dunia terbanyak di bawah Brazil, sistem pertahanan khas Italia menjadi khazanah tersendiri. Gerendel <em>catenaccio</em> karya Helenio Herrera menjadi karakter defensif yang melekat dalam permainan klub-klub Liga Seri A, yang pernah memuncak dalam racikan Enzo Bearzot untuk tim juara dunia 1982.</p>
<p>Roberto Mancini merevolusi gaya bertahan itu lewat permainan atraktif di Euro 2020, namun dalam rentang waktu menuju Qatar 2022, dia disulitkan oleh keminiman sosok penyerang yang mematikan, bahkan sempat memanggil pemain bengal Mario Balotelli yang sudah lebih dari 10 tahun terakhir tidak mengenakan<em> jersey</em> timnas.</p>
<p>Super Mario memang gagal masuk tim untuk agenda <em>playoff</em>, namun pemanggilan itu mengisyaratkan kebuntuan Mancini dalam menemukan striker. Dan, inilah ironi, mengingat Italia banyak melahirkan legenda penyerang seperti Gigi Riva, Paolo Rossi, Roberto Baggio, Salvatotre Schillachi, Luca Toni, Filippo Inzagi, Antonio Cassano, hingga Lorenzo Insigne.</p>
<p>Kiblat lainnya adalah Brazil, pusat “ritus sepak bola” dengan bintang-bintang artistik jogo bonito. Lalu Argentina yang menjadi tempat lahir “dua alien” Diego Maradona dan Lionel Messi. Inggris juga diklaim sebagai pusat pengembangan sepak bola modern.</p>
<p>Adapun Spanyol dan Portugal tercitrakan sebagai pusat sepak bola eksotik, Prancis dengan talenta hebat anak-anak migran, serta Belanda yang melahirkan<em> total football</em> dengan aktor-aktor hebat sepak bola menyerang.</p>
<p>Jika salah satu di antara negara-negara itu absen, bisa dipahamikah kemeredupan putaran final Piala Dunia yang diakui sebagai The Greatest Show on Earth?</p>
<p>Pada sisi lain, peta perkembangan sepak bola juga bergerak dinamis, perlahan-lahan mengubah konstelasi. Senegal dan Mesir misalnya, memperlihatkan kemajuan di Zona Afrika. Lalu Jepang, Korea Selatan, dan Qatar mengukuhkan eksistensi dalam peta kekuatan Asia. Juga Chile, Kolombia, dan Venezuela yang sekarang tidak semudah itu takluk dari kekuatan <em>mainstream</em> Brazil, Argentina, dan Uruguay.</p>
<p>Nyatanya, kita seperti belum siap ketika event puncak sepak bola itu berlangsung tanpa ikon-ikon yang selama ini merupakan bagian dari &#8220;ritus wajib”-nya.</p>
<p><em>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/03/26/piala-dunia-tanpa-italia-apa-kurangnya">Piala Dunia Tanpa Italia, Apa Kurangnya?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Italia, Jerman dan Inggris Ciptakan Grup Neraka UEFA Nations League</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/12/17/italia-jerman-dan-inggris-ciptakan-grup-neraka-uefa-nations-league</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 00:40:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman dan Inggris Ciptakan Grup Neraka UEFA Nations League]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=218506</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA (SUARABARU.ID) &#8211; Tim nasional Italia, Jerman dan Inggris menciptakan grup neraka di UEFA Nations League 2022/23 setelah ditempatkan dalam Liga A Grup 3 berdasar hasil undian yang dilakukan di Nyon, Swiss, Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Hasil undian ini menjanjikan ajang balas dendam bagi Inggris atas pupusnya mimpi mereka menyudahi paceklik gelar setelah dikalahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/12/17/italia-jerman-dan-inggris-ciptakan-grup-neraka-uefa-nations-league">Italia, Jerman dan Inggris Ciptakan Grup Neraka UEFA Nations League</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA (SUARABARU.ID) &#8211;</strong> Tim nasional Italia, Jerman dan Inggris menciptakan grup neraka di UEFA Nations League 2022/23 setelah ditempatkan dalam Liga A Grup 3 berdasar hasil undian yang dilakukan di Nyon, Swiss, Kamis waktu setempat (Jumat WIB).</p>
<p>Hasil undian ini menjanjikan ajang balas dendam bagi Inggris atas pupusnya mimpi mereka menyudahi paceklik gelar setelah dikalahkan Italia dalam partai final Euro 2020 pada musim panas lalu.</p>
<p>Hongaria menjadi negara yang kurang beruntung karena harus melengkapi komposisi grup tersebut dan bakal bertemu tim-tim yang notabene dianggap lebih kuat, demikian catatan laman resmi UEFA.</p>
<p>Sementara itu juara bertahan Prancis mendapatkan undian menempati Grup A1 bersama Denmark, Kroasia dan Austria.</p>
<p>Sedangkan runner-up edisi sebelumnya, Spanyol, berada di Grup A2 bertemu Portugal, Swiss dan Republik Ceko yang promosi dari Liga B.</p>
<p>Dua negara tetangga Belgia dan Belanda berada dalam Grup A4 bersama Polandia dan Wales.</p>
<p>Berikut hasil lengkap undian UEFA Nations League 2022/23:</p>
<p>A1: Prancis, Denmark, Kroasia, Austria<br />
A2: Spanyol, Portugal, Swiss, Republik Ceko<br />
A3: Italia, Jerman, Inggris, Hongaria<br />
A4: Belgia, Belanda, Polandia, Wales</p>
<p>B1: Ukraina, Skotlandia, Irlandia, Armenia<br />
B2: Islandia, Rusia, Israel, Albania<br />
B3: Bosnia-Herzegovina, Finlandia, Rumania, Montenegro<br />
B4: Swedia, Norwegia, Serbia, Slovenia</p>
<p>C1: Turki, Luksemburg, Lithuania, Kepulauan Faroe<br />
C2: Irlandia Utara, Yunani, Kosovo, Siprus/Estonia<br />
C3: Slovakia, Belarus, Azerbaijan, Kazakhstan/Moldova<br />
C4: Bulgaria, Makedonia Utara, Georgia, Gibraltar</p>
<p>D1: Liechtenstein, Kazakhstan/Moldova, Andorra, Latvia<br />
D2: Malta, Siprus/Estonia, San Marino</p>
<p><em><strong>Ant/Muha</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/12/17/italia-jerman-dan-inggris-ciptakan-grup-neraka-uefa-nations-league">Italia, Jerman dan Inggris Ciptakan Grup Neraka UEFA Nations League</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>