blank
Nasaruddin Umar (kanan) berbincang hangat dengan Valeria Martono. Foto: dok/kemenag

JAKARTA (SUARABARU.ID)– Sejarawan yang juga anggota aktif Komunitas Katolik Sant’Egidio, yang berbasis di Roma, Italia, Valeria Martano menyatakan komitmennya, untuk memperkuat kerja sama lintas agama, dalam membangun perdamaian global.

Hal ini seperti yang disampaikannya, saat bertemu Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (21/4/2025).

”Komunitas Sant’Egidio sangat peduli dengan perdamaian. Kami ingin menjadi sahabat dalam kerja sama dan pembangunan perdamaian antaragama,” ujar Valeria Martano dalam pernyataannya.

BACA JUGA: Kanwil Kemenkum Jawa Tengah Ikuti Rapat Persiapan Seleksi PPPK Tahap II Tahun Anggaran 2024

Dalam pertemuan itu, Valeria menyampaikan sejumlah agenda kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan Sant’Egidio. Baik di tingkat internasional maupun Nasional, termasuk keterlibatan Indonesia.

”Sant’Egidio memiliki pengalaman panjang dalam membangun dialog, terutama di tempat-tempat yang mengalami konflik. Kami tidak menggantikan peran diplomasi, tapi kami bekerja dengan cara persahabatan, mendekati orang-orang yang tidak diajak bicara,” jelas dia lagi.

Sementara itu, Nasaruddin Umar menyambut baik tawaran kerja sama ini, dan mengapresiasi pendekatan Sant’Egidio dalam membangun perdamaian. Termasuk dengan kelompok yang kerap dianggap sulit diajak dialog.

BACA JUGA: Kanwil Kemenag dan PW Muslimat NU Sepakati Pendampingan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan

”Pendekatan Sant’Egidio luar biasa. Kita perlu organisasi seperti Sant’Egidio, yang bisa menjangkau kelompok-kelompok yang tidak tersentuh,” tuturnya.

Menag menambahkan, Pemerintah Indonesia, melalui Kemenag, sedang gencar mengarusutamakan moderasi beragama, sebagai jalan tengah yang damai dan inklusif.

”Saya terbuka untuk semua inisiatif. Kita bisa mulai dengan menyelenggarakan pertemuan yang lebih teknis. Nanti bisa kita undang juga dari Pusat Kerukunan Umat Beragama dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), untuk menjajaki bentuk kerja sama yang konkret,” Nasaruddin, yang juga sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal ini.

Dia juga menyebut, UIII sebagai institusi akademik yang bisa menjadi platform kerja sama lintas iman. ”Kami ingin menjadikan UIII sebagai ruang terbuka untuk pertemuan antarbudaya dan antaragama, di tingkat global,” imbuh Menag.

Riyan