<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Carlo Ancelotti Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/carlo-ancelotti/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 May 2025 07:08:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Carlo Ancelotti Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Don Carlo, dan Transformasi Kultural ke Tim Samba Brazil</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/05/17/don-carlo-dan-transformasi-kultural-ke-tim-samba-brazil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 May 2025 10:00:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Brazil]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Cattenacio]]></category>
		<category><![CDATA[italia]]></category>
		<category><![CDATA[Jeitinho]]></category>
		<category><![CDATA[Jogo Bonito]]></category>
		<category><![CDATA[Kultur]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=474669</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // seperti tak henti mencari/ atas nama trofi/ dengan sentuhan yang cocok dan mengerti/ dari kedalaman negeri/ hingga akhirnya/ ke negeri yang beda filosofi// (Sajak “Sepak Bola Brazil”, 2025) KEPUTUSAN Konfederasi Sepak Bola Brazil (CBF) menjadi gambaran, betapa tidak mudah menemukan sosok yang tepat untuk memoles tim nasionalnya. Walaupun sudah menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/05/17/don-carlo-dan-transformasi-kultural-ke-tim-samba-brazil">Don Carlo, dan Transformasi Kultural ke Tim Samba Brazil</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-474676 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// seperti tak henti mencari/ atas nama trofi/ dengan sentuhan yang cocok dan mengerti/ dari kedalaman negeri/ hingga akhirnya/ ke negeri yang beda filosofi//</em><br />
<strong>(Sajak “Sepak Bola Brazil”, 2025)</strong></p>
<p><strong>KEPUTUSAN</strong> Konfederasi Sepak Bola Brazil (CBF) menjadi gambaran, betapa tidak mudah menemukan sosok yang tepat untuk memoles tim nasionalnya. Walaupun sudah menjadi gagasan lama, memilih Carlo Ancelotti yang <em>notabene</em> berasal dari kutub berbeda filosofi sepak bola, tetap merupakan langkah yang boleh dibilang eksperimental.</p>
<p>Presiden CBF Ednaldo Rodrigues belum lama ini mengumumkan, Ancelotti akan langsung bekerja setelah selesainya Liga Spanyol 2024-2025. Don Carlo menjadi pelatih asing kedua yang memimpin Selecao setelah Filipo Nunez dari Argentina pada 1965. Dia dikontrak hingga Piala Dunia 2026, dengan target meraih juara kali yang keenam setelah 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.</p>
<p>Bagi Don Carlo, ini menjadi pengalaman pertama melatih timnas sejak menjadi asisten Arrigo Sacchi di Timnas Italia pada 1992-1995. Sedangkan bagi CBF, memilih pria 65 tahun itu lebih dari sekadar langkah strategis. Menurut Ednaldo, keputusan ini merupakan deklarasi bahwa Brazil bertekad merebut kembali tempat tertinggi.</p>
<p>Presiden CBF menilai Ancelotti sebagai pelatih terhebat dalam sejarah, yang dipilih untuk memimpin tim nasional terhebat. “Bersama-sama, kami akan menulis babak baru yang gemilang dalam sepak bola Brazil,” ungkapnya.</p>
<p>Don Carlo yang menggantikan Dorival Junior akan mulai bekerja pada 26 Mei mendatang, sehari setelah Madrid menghadapi Real Sociedad di pertandingan terakhir La Liga. Dia akan mempersiapkan Vinicius Junior dkk menghadapi Ekuador dan Paraguay pada 6 dan 11 Juni. Terakhir, Dorival memimpin Selecao melawan Argentina dan kalah 1-4.</p>
<p><strong>Rencana Lama</strong><br />
CBF sudah lama berencana merekrut Ancelotti, namun sang pelatih saat itu belum tertarik, bahkan memperpanjang kontrak dengan Madrid hingga Juni 2026.</p>
<p>Dalam BOLA-BOLA <em>suarabaru.id</em> edisi 1 Juli 2023, saya menulis kolom Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca.</p>
<p>Ada tiga kata kunci dalam judul tersebut. “Tanah Suci Sepak Bola”, butuh sentuhan, dan “ulama” manca.</p>
<p>Seperti sepotong puisi ini, /<em>/ tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda//</em><br />
<em>(Sajak “Brazil”, 2023)</em></p>
<p>Dan, berlebihankah menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”?</p>
<p>Dalam kolom itu saya menulis: Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Para seniman sepak bola dengan kemampuan artistik dan teknik aneh-aneh menyatu dengan daya hidup, ekspresi naluriah, dan kultur karnaval yang penuh gairah.</p>
<p>Di sana lahir “pujangga-pujangga sepak bola” yang tak ada duanya. Dari Pele, Garrincha, Jair, Rivelino, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Kaka, hingga Neymar Junior. Brazil menjadi kutub tersendiri di antara pusat-pusat peradaban sepak bola seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Argentina.</p>
<p>Dengan segala kebesaran itu, kesan apakah yang Anda rasakan ketika CBF kesengsem mendatangkan Carlo Ancelotti, “ulama sepak bola” dari Italia, kutub yang <em>notabene</em> secara ideologis dan gaya bermain menggambarkan paradoksa dengan Brazil?</p>
<p>Sebegitu gentingkah kondisinya, sehingga CBF membutuhkan sentuhan dari tokoh yang dalam “spiritualitas taktik” dan kultural sejatinya berbeda?</p>
<p>Pelatih genius Manchester City, Pep Guardiola pernah masuk radar incaran untuk menyegarkan manajemen Selecao. Juga legenda Real Madrid, Zinedine Zidane. Langkah memboyong Don Carlo diseriusi lewat berbagai pintu pendekatan.</p>
<p>Neymar Junior, misalnya, membentuk opini untuk meyakinkan kepada Ancelotti tentang kehendak perubahan sepak bola negerinya. Ricardo Kaka, yang pernah diasuh oleh Don Carlo di AC Milan disebut-sebut pernah menjadi utusan khusus CBF untuk merayu eks mentornya itu. Legenda Ronado Nazario juga diberitakan menghubungi Don Carlo untuk missi tersebut.</p>
<p>CBF berargumen dengan rasionalitas, bahwa Ancelotti membuktikan mampu mengeksplorasi talenta-talenta Negeri Samba yang bermain untuk Real Madrid, yakni Vinicius Junior, Rodrygo Goes, dan Endrick.</p>
<p>Dalam penilaian Ednalno, banyak pemain yang menyukai Don Carlo. Mereka yang dilatih menceritakan, Ancelotti adalah sosok ideal, sementara yang lain menyatakan ingin dilatih karena dia adalah orang yang tepat. Presiden CBF pun percaya, Ancelotti merupakan figur yang sempurna untuk Selecao.</p>
<p><strong>Kultural</strong><br />
Sejarah sepak bola di negeri lima kali juara dunia itu mencatat, tak mudah mendapat kepercayaan sebagai pelatih. Selain reputasi, juga keberanian mental untuk menjadi “santapan” media. <em>Mindset</em> publik tergambar dari tuntutan “hanya mau <em>copa</em>, hanya mau Piala Dunia”.</p>
<p>Siapa pun dia, sosok pelatih selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Setia pada pakem kultural j<em>ogo bonito</em>, atau mencoba mengusung cara bermain yang pragmatis. Sepak bola Negeri Samba itu kental dengan kultur <em>jeitinho</em>, yakni transformasi sikap keseharian yang “tidak tahu apa yang akan dilakukan kemudian”, bergerak lebih menuruti naluri. Dan, ketika naluri seni artistik lebih larut dalam sikap bersepak bola, yang mengemuka adalah pikiran “untuk apa menang, kalau dengan cara yang biasa-biasa saja?”.</p>
<p>Dalam catatan, pelatih yang sukses memadukan pragmatisme dengan keindahan irama tarian samba adalah Carlos Alberto Perreira yang menjuarai Piala Dunia 1994, dan Felipe Luis Scolari arsitek tim 2002. Keduanya belajar dari kegagalan Sebastiao Lazaroni di Piala Dunia 1990 ketika memilih jalur pragmatis secara total. Sedangkan Tele Santana, yang diakui sebagai ideolog sepak bola indah, gagal pada 1982 dan 1986 walaupun Brazil dengan Zico, Socrates, dan Falcao dikenang sebagai “tim paling artistik sepanjang masa”.</p>
<p>Tite sebenarnya bersikap seperti Big Phil, namun keseimbangan yang dia usung di Rusia 2018 dan Qatar 2022 tak membuahkan trofi. Dia lalu digantikan sementara oleh Ramon Menezes, sebelum CBF resmi menunjuk Dorival Junior yang kemudian juga dianggap gagal.</p>
<p>Kini, mendatangkan Carlo Ancelotti, “orang luar” sebagai pilihan yang dianggap paling tepat, walaupun tentu bernuansa spekulasi, baik bagi Brazil sendiri maupun bagi Don Carlo. Bagaimanapun, di tengah arus global sepak bola, CBF dihadapkan pada kontroversi, sama seperti ketika Inggris mendatangkan Sven Goran-Eriksson (Swedia), lalu Fabio Capello (Italia), dan kini Thomas Tuchel (Jerman) untuk mengarsiteki tim nasional Tiga Singa.</p>
<p>Ide ini adalah eksperimen besar bagi Brazil. Ketika para “ulama sepak bolanya” gagal memberi sentuhan yang menghasilkan trofi dunia, Don Carlo menjadi jalan tengah. Bagi Don Carlo sendiri, ”ajaran” yang sukses dia terapkan untuk Parma, AS Roma, AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid tentu harus diadaptasikan dengan transformasi kultur dan ideologi yang sama sekali berbeda. Yang menjadi modal adalah talenta sepak bola yang tak pernah kering di negeri ini.</p>
<p>Ancelotti tumbuh dan besar dalam pemahaman filosofi <em>catenaccio</em> Italia, lalu berkembang dengan pendekatan permainan yang dia bangun di klub-klub Italia, dan berbeda pula dasar-dasar yang dia terapkan untuk Chelsea dan Real Madrid.</p>
<p>Menarik untuk menunggu, seperti apa Tim Samba Brazil dalam sentuhan Don Carlo nanti? Bagaimana aplikasi transformatif legenda Italia yang telah bertualang di banyak klub ini, beradaptasi dengan sepak bola Brazil yang sarat dengan seni “pengucapan jiwa”?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/05/17/don-carlo-dan-transformasi-kultural-ke-tim-samba-brazil">Don Carlo, dan Transformasi Kultural ke Tim Samba Brazil</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 10:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Sacchi]]></category>
		<category><![CDATA[Bob Paisley]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=418524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;// (Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024) DI mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola? Saya takkan ragu menjadikannya leader di tengah kampiun-kampiun yang memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-418540 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024)</strong></p>
<p><strong>DI</strong> mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola?</p>
<p>Saya takkan ragu menjadikannya <em>leader</em> di tengah kampiun-kampiun yang memiliki “maqam” istimewa.</p>
<p>Dengan Bob Paisley, Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Jose Mourinho dia lewat dan jauh memimpin. Dengan Alex Ferguson, lalu legenda-legenda Italia Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, dia juga jauh di depan.</p>
<p>Italiano kelahiran 1959 itu adalah “pahlawan dalam diam”, yang tak banyak berbla-bla-bla, dan lebih asyik bersama pipa cangklongnya. Dia tak seriuh para taktikus yang memiliki kekhasan karakter dalam mengekspresikan ungkapan hati.</p>
<p>Antara yang seekspresionis kejeniusan Pep, yang terkesan arogan ala Mourinho, yang tak henti berpikir gaya Zidane, yang berwajah “profesor” seperti Vicente del Bosque, yang gelisah mencari solusi ala Ferguson, atau yang bergejolak ala Capello.</p>
<p>Carlo jauh lebih tenang dengan mengesankan wajah <em>cool</em> mendalami setiap referensi pertandingan dengan sikap yang matang. Begitulah ekspresi gelandang elegan AC Milan era 1980-an itu.</p>
<p>Lima gelar Liga Champios untuk dua klub berbeda, yakni Real Madrid (2014, 2022, dan 2024), dan AC Milan (2003, 2007), serta trofi-trofi liga bersama Milan, Madrid, Chelsea, Paris St Germain, dan Bayern Muenchen adalah bukti bahwa racikan Carlo bukan skema biasa. Semua dia hasilkan dari pendekatan eksepsional.</p>
<p>Belum lagi sederet gelar bersama FC Parma dan Milan yang dia bendaharakan dalam perjalanan karier yang penuh liku dan eksperimen.</p>
<p><strong>Dinamisme Calcio</strong><br />
Gelimang trofi Carlo Ancelotti layak menobatkannya sebagai pelatih besar yang pernah ada dalam sejarah sepak bola. Lima kali meraih trofi dengan dua klub berbeda adalah rekor yang belum didekati oleh pelatih mana pun.</p>
<p>Dia juga dikenal sebagai peracik taktik yang sukses mengelola pemain asal Brazil, yang menyebabkan federasi sepak bola negeri itu sempat tergoda dengan ide untuk merekrutnya sebagai arsitek Selecao, pelatih tim nasional pertama dari luar negara yang bertradisi besar sepak bola itu.</p>
<p>Sederhana saja pendekatannya. Dan, itu bisa disimak dari basis pemikiran yang dia tuang dalam kertas kerja untuk studi kepelatihannya di Coverciano, “<em>Il Futuro del Calcio Piu Dinamicita</em>” atau “Masa Depan Sepak Bola: Lebih Banyak Kedinamisannya”.</p>
<p>Dari sejak 1993, Carlo Ancelotti telah bergulat di banyak klub. Dari Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Real Madrid, Bayern Muenchen, Napoli, Everton, dan kembali ke Madrid hingga sekarang.</p>
<p>Mula-mula dia meyakini skema 4-4-2 dengan menolak <em>playmaker</em> ofensif. Maka ia kurang membutuhkan <em>fantasista</em> bertipe Roberto Bggio. Namun sejak mengakomodasi Zidane di Juventus pada 1999, dia mulai mencoba-coba formasi dengan mengutamakan dinamisasi lini tengah.</p>
<p>Apalagi setelah di AC Milan. Dia menjawab kritik sang pemilik, Silvio Berlusconi yang tidak suka timnya berskema defensif. Carlo menemukan formasi “pohon natal” dengan Filippo Inzaghi sebagai tombak penyelinap. Dari lini tengah kreatif ala Rivaldo &#8211; Rui Costa ke duet Clarence Seedorf &#8211; Kaka, ditopang metronom yang jempolan mengatur permainan, Andrea Pirlo.</p>
<p><strong>Pencoba dan Penemu</strong><br />
Tak pelak, Carlo Ancelotti adalah pencoba dan penemu skematika, yang dimulai dari kiprahnya di Parma, Juventus, dan AC Milan.</p>
<p>Lalu apa yang dia lakukan di Real Madrid?</p>
<p>Dia mewarisi tradisi semangat kebesaran klub yang memudahkannya menyuntikkan motivasi. Dia juga sukses menstabillisasi permainan Los Blancos yang boleh dibilang musim ini tak terongrong oleh Barcelona.</p>
<p>“Kompetisi ini memberikan kebahagiaan buat saya sebagai pelatih dan pemain. Saya beruntung bisa bekerja sama di klub terbaik dunia setiap hari,” ungkap Don Carlo seperti dikutip dari situs UEFA.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2024 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[DFB Pokal]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Europa]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xabier “Xabi” Alonso Olano]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=409043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia simpan letup kecerdasan/ dari terjemah keanggunan/ tentang dominasi/ tentang intensitas/ tentang kendali/ lalu dia pancarkan cahaya/ tentang kemenangan/ tentang harapan trofi-trofi// (Sajak “Keanggunan Xabi”, 2024) NARASI apakah yang tepat untuk menggambarkan Xabier “Xabi” Alonso Olano, arsitek yang sebegitu cepat melambungkan Bayer Leverkusen ke khazanah “suasana menakutkan” di Bundesliga saat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan">Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-409061 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia simpan letup kecerdasan/ dari terjemah keanggunan/ tentang dominasi/ tentang intensitas/ tentang kendali/ lalu dia pancarkan cahaya/ tentang kemenangan/ tentang harapan trofi-trofi//</em><br />
<strong>(Sajak “Keanggunan Xabi”, 2024)</strong></p>
<p><strong>NARASI</strong> apakah yang tepat untuk menggambarkan Xabier “Xabi” Alonso Olano, arsitek yang sebegitu cepat melambungkan Bayer Leverkusen ke khazanah “suasana menakutkan” di Bundesliga saat ini?</p>
<p>Kecerdasan dalam keanggunan.</p>
<p>Kira-kira seperti itulah kristal apresiasi yang tepat untuk pria kelahiran 25 November 1981 itu, yang pernah meniti karier bermain di Real Sociedad, Eibar, Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Muenchen.</p>
<p>Dengan pendekatan filosofis yang memusat pada penguasaan bola lewat fokus dominasi lini tengah dan permainan dinamis, Xabi menjalankan strategi kepelatihan dengan doktrin dominasi, intensitas, dan kendali sejak <em>kick off</em>. Dia mentransformasikan mentalitas pemenang, yang dalam dua musim ini menjadi karakter kuat performa Die Werkself.</p>
<p>Xabi, yang seangkatan dengan pelatih Barcelona Xavi Hernandez, dan <em>coach</em> Arsenal Mikael Arteta, sedang menjadi pusat perbincangan. Hingga pekan kemarin, Leverkusen memimpin klasemen Bundesliga, unggul jauh atas “raja Jerman” Bayern Muenchen; dan yang dahsyat: hingga pekan ke-21 tak terkalahkan dalam 40 laga di semua ajang.</p>
<p>Rekor 40 kali tak terkalahkan Leverkusen di bawah Xabi, bertambah menjadi 41 kali tanpa kalah, setelah pada Jumat 12 April 2024 dini hari WIB, menang 2-0 atas West Ham United di Liga Europa.</p>
<p>Pada musim sebelumnya, 2022-2003, Leverkusen menghuni peringkat keenam. Kini mentalitas pemenang terasa benar melecut Patrik Schick cs untuk mengadang ambisi Muenchen dan Harry Kane, kapten Inggris yang tengah berusaha mewujudkan impian meraih trofi pertama dalam kariernya.</p>
<p><strong>Kecerdasan</strong><br />
Puja-puji akan kecerdasan Xabi Alonso bisa disimak dari kesimpulan Sid Lowe, penulis sepak bola <em>The Guardian</em> dalam sebuah <em>podcast</em>. “Dia penganut metode Pep Guardiola, Jose Mourinho, dan Carlo Ancelotti. Dia telah mengambil sedikit dari semuanya, dan dia jelas sangat cerdas&#8230;”</p>
<p>Xabi pernah diasuh oleh Mourinho dan Don Carlo di Madrid, juga merasakan sentuhan genius Pep di Bayern Muenchen. Pelatih legendaris Madrid, John Toshack mengagumi kecerdasan Xabi. Menurut dia, cara berpikir Xabi lebih cepat dari siapa pun. Jangkauan umpannya pun sempurna.</p>
<p>Naluri kepelatihannya mulai tampak sejak masih bermain. Ketika menjadi bagian dari skuad Pep Guardiola di Allianz Arena, dia intens mengamati filosofi sang genius yang juga berasal dari Spanyol itu. Pep, katanya, selalu memiliki rasa ingin tahu untuk memahami permainan tersebut.</p>
<p>Dan, bukankah doktrin dominasi, intensitas, dan kontrol adalah seni taktikal yang diusung Pep baik ketika mengarsiteki Barcelona, Bayern, maupun Manchester City sekarang? Filosofi itu melahirkan performa dengan wajah khas di masing-masing liga.</p>
<p><strong>Apa Rahasianya?</strong><br />
Yang kini menjadi perhatian, bagaimana dia &#8212; yang baru pada 2022-2023 menjalani debut kepelatihan &#8212; bisa secepat itu meroket dan memberi pakem permainan ke level Leverkusen sebagai penantang kuat juara?</p>
<p>Ketika manajemen Bay Arena merekrutnya sebagai suksesor Gerardo Seoane, klub sedang dalam kondisi prihatin: sampai pekan kedelapan musim 2022-2023 menempati posisi ke-16. Kemenangan 4-0 atas Schalke mewarnai kesumringahan debut Xabi, namun kemudian dia sempat diragukan karena kalah dalam enam laga. Perlahan-lahan, dia mencoba mengembalikan konfidensi tim, dan akhirnya menempati peringkat enam dengan 50 poin.</p>
<p>Musim kedua Xabi ditandai buncah harapan dan rekor istimewa, yakni tak terkalahkan dalam 40 laga di tiga ajang hingga pekan ke-21. Bahkan bukan tidak mungkin, Leverkusen bakal mendulang <em>treble</em> jika mampu memenangi titel Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Europa.</p>
<p>Berbagai analisis mencoba menyimpulkan rahasia sukses pelatih muda itu.</p>
<p>Pertama, dia memahami potensi pemain, sehingga bisa menerapkan pendekatan yang tepat untuk mengeksplorasi performa mereka. Yang paling menonjol, bagaimana dia mengangkat kembali kepercayaan diri Florian Wirtz yang sempat absen lama lantaran dirundung cedera.</p>
<p>Wirtz, yang disebut-sebut sebagai “Lionel Messi Leverkusen”, dinilai mampu menerjemahkan strategi Xabi dengan peran sebagai<em> false 9</em>. Dia sukses mengisi kekosongan akibat cedera Patrik Schick.</p>
<p>Dalam sebuah wawancara dengan <em>Daily Mail,</em> Xabi secara khusus memberi penilaian terhadap Wirtz. Menurutnya, ada pemain bagus di lapangan, ada pula pemain yang terlihat bagus bisa melakukan hal-hal bagus, tetapi belum tentu efisien. Wirtz efisien, karena tahu bagaimana dan kapan memberi umpan-umpan sederhana. “Ini tidak selalu tentang membuat langkah yang paling cemerlang, namun yang terbaik dan paling cerdas,” ungkapnya.</p>
<p>Xabi juga mampu memaksimalkan peran Amine Adli, dan Jeremi Frimpong dalam formasi menyerang yang cepat. Frimpong menonjol sebagai sayap kanan yang efektif menyisir pertahanan lawan.</p>
<p>Kedua, dia efektif dalam mengelola bursa transfer. Leverkusen menjual Moussa Diaby, Bakker, dan Kerem Demirbay. Rekrutannya, Victor Okoh Bonifare, Alejandri Grimaldo, Granit Xhaka, Jonas Hoffmann, dan Nathan Tella mampu melebur dalam peran dan taktik yang dia doktrinkan.</p>
<p>Ketiga, Xabi mampu menyusun taktik yang kini menjadi standar Leverkusen. Dilatarbelakangi reputasi sebagai gelandang pengatur serangan yang juga piawai berperan sebagai labirin pertahanan, Xabi menekankan mencetak gol bukan hanya menjadi tanggung jawab penyerang. Semua harus bisa mencetak gol.</p>
<p>Lebih dari itu, “kepengikutan” pemain oleh kekuatan karisma yang melekat pada performa personal, menjadi daya penyatu. Dia mencontohkan perihal komitmen dan moralitas, misalnya tak merespons godaan Bayern Muenchen, Barcelona, dan Liverpool untuk menjadi arsitek suksesor.</p>
<p>Sebagai seorang profesional, wajar apabila suatu saat nanti dia memutuskan untuk mengembangkan capaian karier, namun setidak-tidaknya hingga saat ini, hati dan rasa tercurah hanya untuk Bayer Leverkusen.</p>
<p>Visi tentang rekor capaian Der Werkself untuk memenangi trofi Bundesliga kali pertama, atau titel DFB Pokal kali kedua (setelah 1992-1993), dan juara Liga Europa, menjadi urat tanggung jawab yang sepadan dengan reputasi keanggunan tampilan saat memilari lini tengah Liverpool, Muenchen, dan dalam 114 kali memperkuat tim nasional Spanyol.</p>
<p>Xabi memperkaya khazanah genius muda yang kini malang melintang memimpin klub-klub besar dengan penuh gaya&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan">Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/07/01/ketika-tanah-suci-sepak-bola-butuh-sentuhan-ulama-manca</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Jul 2023 10:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Alberto Perreira]]></category>
		<category><![CDATA[Ednaldo Rodrigues]]></category>
		<category><![CDATA[Felipe Scolari]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden CBF]]></category>
		<category><![CDATA[Sebastiao Lazaroni]]></category>
		<category><![CDATA[Tele Santana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=348635</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda// (Sajak “Brazil”, 2023) BERLEBIHANKAH menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”? Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/01/ketika-tanah-suci-sepak-bola-butuh-sentuhan-ulama-manca">Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-348645 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda//</em><br />
<strong>(Sajak “Brazil”, 2023)</strong></p>
<p><strong>BERLEBIHANKAH</strong> menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”?</p>
<p>Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Para seniman sepak bola dengan kemampuan artistik dan teknik aneh-aneh menyatu dengan daya hidup, ekspresi naluriah, dan kultur karnaval yang penuh gairah.</p>
<p>Di sana lahir “pujangga-pujangga sepak bola” yang tak ada duanya. Dari Pele, Garrincha, Jair, Rivelino, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Kaka, hingga Neymar.</p>
<p>Brazil menjadi kutub tersendiri di antara pusat-pusat peradaban sepak bola seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Argentina.</p>
<p>Dengan segala kebesaran itu, kesan apakah yang Anda rasakan ketika mendengar Federasi Sepak Bola Brazil (CBF) kesengsem mendatangkan Carlo Ancelotti, “ulama sepak bola” dari Italia, kutub yang <em>notabene</em> secara ideologis dan gaya bermain menggambarkan paradoksa dengan Brazil?</p>
<p>Sebegitu gentingkah kondisinya, sehingga CBF membutuhkan sentuhan dari tokoh yang dalam “spiritualitas taktik” dan kultural sejatinya berbeda?</p>
<p>Pelatih genius Manchester City, Pep Guardiola pernah masuk radar incaran untuk menyegarkan manajemen Selecao. Juga legenda Real Madrid, Zinedine Zidane. Dan, kini langkah memboyong Don Carlo diseriusi lewat berbagai pintu pendekatan.</p>
<p>Neymar Junior, misalnya, membentuk opini untuk meyakinkan kepada Ancelotti tentang kehendak perubahan sepak bola negerinya. Ricardo Kaka, yang pernah diasuh oleh Don Carlo di AC Milan disebut-sebut akan menjadi utusan khusus CBF untuk merayu eks mentornya itu.</p>
<p>CBF berargumen dengan rasionalitas, bahwa Ancelotti membuktikan mampu mengeksplorasi talenta-talenta Negeri Samba yang bermain untuk Real Madrid, yakni Vinicius Junior dan Rodrygo Goes.</p>
<p>Kontrak Don Carlo dengan Madrid baru akan berakhir Juni 2024. Klub Spanyol itu tak senang dengan rencana CBF. Sedangkan Presiden CBF Ednaldo Rodrigues memahami posisi Ancelotti yang belum memberi respons karena masih terikat dengan Los Blancos.</p>
<p>Seperti dikutip sejumlah media, Ednalno menuturkan, banyak pemain yang menyukai Carlo Ancelotti. Mereka yang dilatih menceritakan, Don Carlo adalah pelatih ideal, sementara yang lain menyatakan ingin dilatih karena dia adalah orang yang tepat. Presiden CBF pun percaya, Ancelotti merupakan figur yang sempurna untuk Selecao.</p>
<p>Saat ini, kursi panas itu sedang kosong. Tite diberhentikan pasca-Piala Dunia 2022. Untuk sementara timnas diserahkan kepada pelatih Tim U20 Mano Menezes.</p>
<p><strong>“Santapan” Media</strong><br />
Dalam sejarah panjang tradisi sepak bola di negeri lima kali juara dunia itu, tak mudah mendapat kepercayaan sebagai pelatih. Selain reputasi, juga kesiapan untuk menjadi “santapan” media, karena <em>mindset</em> publik tergambar dari tuntutan “hanya mau Piala Dunia”.</p>
<p>Sosok pelatih selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Setia pada pakem kultural <em>jogo bonito</em>, atau berani mengusung cara bermain pragmatis. Sepak bola Negeri Samba itu kental dengan kultur <em>jeitinho</em>, yakni transformasi sikap keseharian yang “tidak tahu apa yang akan dilakukan kemudian”, bergerak lebih menuruti naluri. Dan, ketika naluri berindah-indah lebih larut dalam sikap bersepak bola, yang mengemuka adalah pikiran “jangan mendapatkan kemenangan dengan cara yang biasa-biasa saja”.</p>
<p>Pelatih yang sukses memadukan pragmatisme dengan keindahan irama tarian samba adalah Carlos Alberto Perreira yang menjuarai Piala Dunia 1994, dan Felipe Scolari pemenang 2002. Keduanya belajar dari kegagalan menyedihkan Sebastiao Lazaroni di Piala Dunia 1990 ketika memilih total jalur pragmatis. Sedangkan Tele Santana, ideolog sepak bola indah, gagal pada 1982 dan 1986 walaupun Brazil dengan Zico, Socrates, dan Falcao dikenang sebagai “tim artistik sepanjang masa”.</p>
<p>Tite sebenarnya bersikap seperti Big Phil, namun keseimbangan yang dia usung di Rusia 2018 dan Qatar 2022 tak membuahkan trofi. Dan, inikah yang menyulut ketidaksabaran otoritas sepak bola Brazil dengan mendatangkan pelatih mancanegara? Langkah ini pasti kontroversial lantaran mengisyaratkan ketidakpercayaan kepada aset-aset ideolog sepak bola Brazil, dan ini belum pernah terjadi dalam sejarah Selecao.</p>
<p>Dan, bukankah ide ini adalah eksperimen besar bagi Brazil? Ketika para tokoh “dewan syura” gagal memberi sentuhan berkualifikasi trofi dunia, Don Carlo menjadi pilihan jalan tengah, apakah ”ajarannya” bakal merasuk melewati transformasi batas-batas kultur dan ideologi&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/01/ketika-tanah-suci-sepak-bola-butuh-sentuhan-ulama-manca">Ketika “Tanah Suci Sepak Bola” Butuh Sentuhan “Ulama” Manca</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Garis Jalan Eropa Pep Guardiola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/05/06/garis-jalan-eropa-pep-guardiola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 May 2023 10:00:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=333320</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // masih adakah yang dia cari?/ sekadar naluri tertantang/ dan rasa memenuhi tantangan?/ semua sudah dimiliki/ dia hanya mengejar bukti/ yang takkan ada habisnya&#8230;// (Sajak “Jalan Takdir Pep”, 2023) BERTAKDIRKAH Pep Guardiola meraih trofi Eropa bersama klub di luar Barcelona? Pertanyaan itu mengemuka, karena setelah hijrah ke Bayern Muenchen (2013-2016) lalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/05/06/garis-jalan-eropa-pep-guardiola">Garis Jalan Eropa Pep Guardiola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-333324 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-4.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-4.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-4-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-4-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// masih adakah yang dia cari?/ sekadar naluri tertantang/ dan rasa memenuhi tantangan?/ semua sudah dimiliki/ dia hanya mengejar bukti/ yang takkan ada habisnya&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Jalan Takdir Pep”, 2023)</strong></p>
<p><strong>BERTAKDIRKAH</strong> Pep Guardiola meraih trofi Eropa bersama klub di luar Barcelona?</p>
<p>Pertanyaan itu mengemuka, karena setelah hijrah ke Bayern Muenchen (2013-2016) lalu mengarsiteki Manchester City sejak 2016, Pep belum berhasil meraih lagi gelar juara Liga Champions.</p>
<p>Langkah tertinggi bersama Bayern hanya sampai semifinal 2013-2014, dihentikan 0-5 oleh Real Madrid. Sementara itu, City-nya Pep menjejak partai puncak pada 2021, dan dalam kondisi yang sebenarnya diunggulkan, kalah 0-1 dari Chelsea.</p>
<p>Di Barcelona selama 2008 hingga 2012, di luar piala-piala lokal, pria kelahiran 18 Januari 1971 itu mempersembahkan dua trofi utama Eropa, 2009 dan 2010. Dia membangun El Barca menjadi kakuatan utama dunia.</p>
<p>Pria Spanyol itu belum masuk daftar pelatih yang meraih gelar Eropa di dua klub berbeda, seperti Ernst Happel (Feyenoord 1979/Hamburg SV 1983), Ottmar Hitzfeld (Borussia Dortmund 1997/Bayern Muenchen 2001), Jose Mourinho (FC Porto 2004/Inter Milan 2010), Jupp Heynckes (Real Madrid 1998/Bayern Muenchen 2012), dan Carlo Ancelotti (AC Milan 2003, 2007/Real Madrid 2013, 2022).</p>
<p><strong>Parameter Eropa</strong><br />
Seperti halnya ambisi pemilik Paris St Germain, investor Manchester City tampaknya juga butuh parameter kesuksesan dari raihan trofi Eropa.</p>
<p>Ketika gelar liga sudah dikuasai, pembuktian apa lagi yang dikejar kecuali kejayaan Eropa? Dua klub yang di-<em>back up</em> kucuran uang taipan Qatar dan Uni Emirat Arab itu butuh realisasi penaklukan Eropa.</p>
<p>Itulah mengapa The Citizens merekrut Pep Guardiola. Mereka mengingini sang ideolog sepak bola menyerang itu mentransformasikan filosofi dan kejeniusannya, kemenangan dengan permainan indah; namun seperti perjalanannya di Muenchen, sejauh ini jejak Eropa juga belum berhasil dia torehkan.</p>
<p>Musim inikah kesempatan terbaik bagi Pep untuk pembuktian garis jalan Eropa di luar Barcelona?</p>
<p>Artinya, dia harus mampu membawa Kevin de Bruyne dkk mengalahkan Real Madrid di semifinal Mei nanti, lalu menundukkan Inter Milan/AC Milan di laga pamungkas pada 11 Juni.</p>
<p>City berkembang menjadi elemen kekuatan Eropa yang mengesankan, sedangkan Real Madrid punya tradisi dan mentalitas di pelataran Eropa sebagai klub terkuat, pemegang rekor 14 kali juara Liga Champions.</p>
<p>Dari sisi pengalaman, Los Blancos jelas lebih kinclong. Ancelotti mampu meracik sisa-sisa Galacticos dengan sejumlah pilar baru menjadi kekuatan matang. Mentalitas Madrid merupakan cerminan karakter pemenang di “habitat” Eropa.</p>
<p>Sementara itu, The Citizens kini memperlihatkan tren kematangan sebagai pasukan kolektif yang bersandar pada kehebatan para penggawanya.</p>
<p>Sejak 2016 Pep menyulap City sebagai kekuatan elite Liga Primer dengan empat kali juara pada 2018, 2019, 2021, dan 2022, namun dalam petualangan di panggung Eropa secara mental terasa masih ada “<em>barrier</em>” atau “tirai penghalang”.</p>
<p>Musim ini Pep memetamorfosis pasukannya ke fokus ketangguhan mental. Simaklah bagaimana anak-anak Etihad dengan telaten mengejar Arsenal di klasemen liga. Bagaimana pula De Bruyne memperlihatkan maturitas sebagai pemimpin yang mengorkestrasi permainan ofensif bersama Jack Grealish, <em>midfielder</em> dengan pesona <em>skill</em> ala legenda Paul Gasgoigne.</p>
<p>John Stones, Manuel Akanji, Ilkay Gundogan, Bernardo Silva, Ryad Mahrez, Phil Foden adalah puzzle kehebatan yang menopang ketajaman Erling-Burt Halaand dan Julian Alvarez.</p>
<p>Dengan segala plus-minusnya, skematika elok ala Pep memang belum menyamai “keabadian” <em>tiki-taka</em> Barcelona yang dia racik pada 2008-2012, namun kolektivitas yang tergalang selama tiga musim terakhir telah menghadirkan “monster” baru bernama Manchester City.</p>
<p>Kuartet De Bruyne, Grealish, Halaand, dan Mahrez sebegitu mengerikan bagi tim mana pun yang bertemu City.</p>
<p>Dengan taktik apa Carlo Ancelotti menghadapi “badai Citizens”? Pertanyaan yang sama: cukupkah<em> up-trend</em> mentalitas City menghentikan tradisi kuat pemenangan Real Madrid, Mei mendatang?</p>
<p>Semua elemen kedahsyatan sepak bola rasanya bakal tersaji di semifinal City-Madrid. Pelatih genius versus pelatih genius, kiper top Thibaut Courtois vs Ederson Moraes, bek tangguh Antonio Rudiger vs Manuel Akanji, kreator permainan Luka Modric vs De Bruyne, dan “monster gol” Karim Benzema vs Erling Halaand.</p>
<p>Lalu pada titik mana kita memastikan garis jejak Eropa Pep Guardiola di luar realitas capaian mewahnya di Barcelona?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan suarabaru.id, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tenga</em>h &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/05/06/garis-jalan-eropa-pep-guardiola">Garis Jalan Eropa Pep Guardiola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Takdir Sepak Bola  dalam Diri Carlo Ancelotti</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/06/04/takdir-sepak-bola-dalam-diri-carlo-ancelotti</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2022 10:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=256008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sepak bola, takdirkah dia?/ tak sembarang orang berjodoh dengan peristiwa/ ketika dia meraih piala/ ketika dia tak bersua dengan juara&#8230;// (Sajak &#8220;Takdir Sepak Bola&#8221;, 2022) DUA kali meraih treble bersama dua klub yang berbeda, baru Jose Mourinho orangnya. Tiga tahun beruntun mengantar sebuah klub merajai Eropa, hanya Zinedine Yazid Zidane [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/04/takdir-sepak-bola-dalam-diri-carlo-ancelotti">Takdir Sepak Bola  dalam Diri Carlo Ancelotti</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-256013 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/06/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sepak bola, takdirkah dia?/ tak sembarang orang berjodoh dengan peristiwa/ ketika dia meraih piala/ ketika dia tak bersua dengan juara&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Takdir Sepak Bola&#8221;, 2022)</strong></p>
<p><strong>DUA</strong> kali meraih <em>treble</em> bersama dua klub yang berbeda, baru Jose Mourinho orangnya.</p>
<p>Tiga tahun beruntun mengantar sebuah klub merajai Eropa, hanya Zinedine Yazid Zidane sosoknya.</p>
<p>Empat kali mempersembahkan dua trofi utama Eropa untuk dua klub berbeda, hanya Carlo Ancelotti pelakunya.</p>
<p>Final Liga Champions 2022, yang pekan lalu dimenangi oleh Real Madrid dengan menggenapkan 14 titel, sarat dengan perbaikan rekor klasik.</p>
<p>Sejarah sepak bola menahbiskan<em> Los Blancos</em> sebagai raja turnamen ini. Juga memprasastikan capaian Don Carlo sebagai pelatih terbanyak juara, catatan usia pencetak gol Vinicius Junior, hingga rekor penyelamatan kiper Thibaut Courtois.</p>
<p>Andai bukan kiper Belgia itu yang mengawal gawang Madrid, berapa gol Liverpool-kah yang bakal bersarang? Dan, aksi-aksi sang kiper menegaskan: pahlawan Madrid pada laga puncak itu bukan hanya Vini Junior, tetapi juga Courtois. <em>Man of the Match</em> sangat pantas mengganjar kehebatannya.</p>
<p>Artinya, Courtois ikut mengarsiteki takdir hebat Don Carlo, sekaligus menjauhkan Juergen Klopp dari pintu takdir lainnya.</p>
<p>Pernyataan Klopp adalah ungkapan tentang ketidakberdayaan dalam garis nasib.</p>
<p>&#8220;Bagaimana bisa, Madrid dengan hanya satu dari sedikit kesempatan justru mendapatkan gol, dibandingkan dengan dominasi Liverpool hampir di sepanjang laga&#8230;,&#8221; ucapnya.</p>
<p><strong>Tradisi dan Nasib</strong><br />
Percayakah Anda, sepak bola memperpadukan simfoni orkestrasi mitos, tradisi, dan nasib sebagai elemen-elemen kesuksesan sebuah tim?</p>
<p>Jose Mourinho membangun mitos sebagai &#8220;pelatih satu-satunya&#8221; yang menorehkan dua kali <em>treble winner</em>, yakni ketika menukangi FC Porto pada 2004 dan saat mengarsiteki Internazionale Milan pada 2011. Gelar liga, coppa, dan Liga Champion dibendaharakan. Tak berlebihan dia mengklaim diri sebagai &#8220;<em>The Special One</em>&#8220;.</p>
<p>Alex Ferguson pernah membukukannya bersama Manchester United, Pep Guardiola dan Luiz Enrique untuk Barcelona, Jupp Heynckes untuk Bayern Muenchen, dan Hans-Dieter Flick dengan klub yang sama.</p>
<p>Lalu, treble untuk dua klub di liga yang berbeda?</p>
<p>Mourinho, pelatih asal Portugal itu bahkan &#8220;menjajah&#8221; Eropa dengan kelengkapan trofi Liga Europa bersama MU dan Liga Conference Eropa untuk AS Roma.</p>
<p>Sementara itu, tiga gelar Liga Champions berturut-turut pada 2016, 2017, 2018 adalah langkah eksepsional Zinedine Zidane. Kegeniusannya menghasilkan <em>chemistry</em> kuat membentuk tradisi Eropa bersama Real Madrid. Dia menjajari catatan tiga kali juara Bob Paisley saat mengawal Liverpool dalam turnamen yang waktu itu bertajuk Piala Champions.</p>
<p>Zidane telah membangun mitosnya di klub Santiago Bernabeu itu.</p>
<p>Carlo Ancelotti melewati Zidane dengan prestasi unik. Arsitek asal Italia itu telah memberi dua gelar Eropa untuk &#8220;almamaternya&#8221;, AC Milan pada 2003 dan 2008, dan kini menggandakan trofi untuk Madrid setelah 2014.</p>
<p>Sukses Don Carlo mengalahkan Pasukan Juergen Klopp di Parc des Princes pekan lalu menguatkan realitas tentang &#8220;nasib&#8221;, garis hidup yang merekatkan telepati kimiawinya dengan Madrid.</p>
<p>Tradisi Eropa &#8212; dengan kefasihan pengalaman &#8212; benar-benar memayungi Real Madrid. Carlo Ancelotti menggenapkan semua elemen mitos, tradisi, dan nasib.</p>
<p>Katakanlah, dia telah menjadi bagian dari takdir sepak bola&#8230;</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/04/takdir-sepak-bola-dalam-diri-carlo-ancelotti">Takdir Sepak Bola  dalam Diri Carlo Ancelotti</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>