Oleh : Rahmat Siswoko, S.Pd
Secara umum kualitas pendidikan kita masih rendah, dibandingkan negara – negara lain di dunia. Hal ini bukan sesuatu yang menggembirakan, karena sektor pendidikan sangat menentukan masa depan bangsa. Pendidikan adalah kunci.
Sudah banyak usaha dan program pemerintah , namun usaha ini belum menghasilkan target yang signifikan. Banyak faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan yang masih kurang.diantara dana pendidikan yang minim, Kurangnya fasilitas pndukung terutama di daerah – daerah terpencil, kualitas para guru yang masih rendah dan beberapa faktor lainnya.
Hasil nilai Tes Kemampuan Akademik ( TKA ) yang diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ( Kemendikdasmen ) menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada jenjang SMA, nilai rata – rata untuk Bahasa Indonesia tercatat 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris hanya 26, 71. Sementar itu, untuk jenjang SMK, nilai rata – rata TKA Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22, 69.
Sementara untuk hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP 2026 diumumkan pada 26 Mei 2026. Secara nasional, rerata nilai adalah 60,83 untuk Bahasa Indonesia dan 40,34 untuk Matematika.
Dari hasil di atas, terlihat bahwa hasil TKA baik untuk tingkat SMP atau SMA, hasilnya relatif rendah dan di bawah target.
Di sisi lain kemampuan psikomotorik anak atau skill lulusan SMP dan SMA rendah, Hal ini karena SMP dan SMA adalah sekolah yang berjenjang. Lulusan SMP diharapkan masuk ke SMA dan lulusan SMA diharapkan melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Maka wajar bekal skill atau ketrampilan kurang, karena muatan kurikulum atau pembelajaran di SMP atau SMA berisi materi pembelajaran, sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda dengan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), muatan kurikulumnya tidak hanya teori, namun juga ketrampilan ( life skill ) yang cukup, sebagai persiapan untuk dunia kerja jika melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Hal ini tidak ideal, karena tidak semua lulusan SMP masuk ke SMA, dan tidak semua lulusan SMA masuk ke Perguruan Tinggi.
Maka perlu ada langkah agar lulusan SMP dan terutama SMA memiliki skill atau ketrampilan yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja. Beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya :
Pertama, memberikan materi yang bersifat praktek atau kemampuam skill baik dalam kegiatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler. Misalnya dalam kegiatan P5 ( Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ) , murid diberikan pelajaran ketrampilan seperti membuat kerajinan tangan, industri rumah tangga seperti membuat kue, gorengan dan lainnya.Jika dalam kegiatan intra kurikuler dirasa masih kurang dapat diadakan dalam kegiatan ekstra kurikuler
Kedua, mengisi kurikulum sekolah dengan muatan lokal. Dengan muatan lokal, maka murid mendapatkan bahan pembelajaran yang sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungannya.Misalnya bagi murid di daerah pantai atau kepulauan, mendapatkan pelajaran yang berkaitan dengan budi daya pantai, mulai dari cara mennangkap ikan, budidaya rumput laut dan berbagai kekayaan laut. Sementara di daerah pegunungan, murid diberikan pembelajaran budi daya tanaman. seperti sayuran buah, atau tanaman hias.
Ketiga berkolaborasi dengan masyarakat dan dunia usaha. Bagaimanapun murid tinggal di suatu lingkungan masyarakat yang heterogen, dan memiliki ciri khusus yang berbeda satu daerah dengan daerah yang lain.
Perlu adanya sinkronsasi kurikulum yang disusun bersama dengan dunia usaha dan dunia industri. Modul ajar yang diberikan kepada murid bersifat kolaboratif yang digunakan telah mengintegrasikan kompetensi teknis dan sudah divalidasi langsung oleh mitra industri untuk menjamin relevansinya.
Juga sinergi dan kolaborasi antara dunia pendidikan dengan lingkungan masyarakat dan dunia usaha sekitar, agar ada relevansi antara lulusan lembaga pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Beberapa langkah nyata dalam pengelolaan link and Match yang meliputi: Praktek mengajar dengan melibatkan ahli dari industri. Juga ada program magang bagi murid di dunia usaha dan PKL ( Praktek Kerja Lapangan ).
Tidak semua lulusan SMP dan SMA melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Perlu ada kemampuan skill agar dapat diserap di dunia kerja. Agar terjadi sinkronisasi antara lulusan sekolah dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dunia usaha.
Penulis adalah Guru SMPN 2 Welahan Jepara













