MAGELANG (SUARABARU.ID) — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Magelang peduli dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan anak.
Terkait itu, memperingati Hari Anak Nasional 2026, PWI Kota Magelang melaksanakan tidak dengan upacara. Bersama Universitas Muhammadiyah Magelang atau UNIMMA, PWI menggelar screening film dokumenter ‘Planet of Love’ pada 23 Juli 2026.
Kegiatan berlangsung pukul 12.30–15.00 WIB di Ruang A8 Kampus 1 UNIMMA, Jalan Tidar Nomor 21, Kota Magelang.
Planet of Love merupakan film dokumenter karya sutradara Ika Wulandari, dan Impact Producer Putri Rakhmadhani.
Film ini mengangkat kisah anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS, dan perjuangan mereka menghadapi stigma sosial.
Tidak hanya menyoroti isu kesehatan, film ini juga memperlihatkan bagaimana prasangka dapat membatasi hak anak untuk belajar, diterima dan tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Saat film dokumenter diputar, suasana haru menyelimuti ruangan A8 Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), Kamis (23/7). Tak sedikit penonton ada menyeka air mata.
Selama penayangan sekitar 110 menit, penonton dibawa menyelami realita yang ada, melalui visual dan dialog yang jujur dari orang-orang yang ada di dalam film.
Selain haru, memang muncul senyum bahkan tertawa karena melihat tingkah lucu anak-anak di dalam film. Tak sedikit yang kemudian menangis, setelah ending dari film dokumenter ini adalah kematian si anak penyintas HIV/AIDS. Inilah gambaran suasana penayangan film yang digarap selama tiga tahun pada 2017-2019.
Ika Wulandari menyaksikan dan merekam sendiri sejumlah adegan (scane) dalam film ini, sehingga gambar yang dihadirkan murni jujur adanya.
Screening film yang diinisiasi oleh Tim Produksi Planet of Love besert PWI Kota Magelang dan UNIMMA ini terasa spesial, karena bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026.
Screening ini menjadi ruang temu antara media, kampus, sineas, dan masyarakat untuk membicarakan isu anak, stigma, kesehatan, pendidikan, serta perlindungan anak secara lebih jernih dan manusiawi.
Ketua PWI Kota Magelang, Wiwid Arief Setyoko mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar PWI Kota Magelang untuk memperluas ruang literasi publik. Kerja jurnalistik tidak hanya berhenti pada penyampaian informasi, tetapi juga perlu ikut membangun cara pandang masyarakat yang lebih adil, empatik dan tidak stigmatif.
“Media memiliki peran penting dalam membentuk cara publik melihat sebuah isu. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak jurnalis, mahasiswa dan masyarakat, untuk melihat isu anak dan HIV/AIDS secara lebih utuh, lebih manusiawi, dan bebas dari stigma,” ujarnya.
Menurut Wiwid, Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa perlindungan anak bukan hanya urusan keluarga atau lembaga tertentu. Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama, termasuk media dan institusi pendidikan.
“Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman. Mereka tidak boleh kehilangan kesempatan hanya karena stigma yang dilekatkan masyarakat,” kata Rektor Unimma, Dr Lilik Andriyani SE MSi yang menyambut baik kolaborasi tersebut.
Ia menilai kampus perlu menjadi ruang belajar yang tidak hanya membahas ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan keberpihakan kepada kelompok rentan.
“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka untuk percakapan-percakapan penting seperti ini. Isu anak, kesehatan, stigma, dan perlindungan sosial perlu dibicarakan secara edukatif agar mahasiswa dan masyarakat memiliki perspektif yang lebih empatik,” jelasnya.
Sementara itu, Impact Producer Planet of Love, Putri Rakhmadhani menjelaskan, screening Planet of Love di UNIMMA juga menjadi bagian dari rangkaian Network of Love Tour, program distribusi dampak dari film Planet of Love yang bergerak melalui jalur film, edukasi, advokasi, dan solidaritas.
Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu yang selama ini kerap dianggap sensitif, sulit, atau bahkan dihindari. Banyak anak hidup dalam situasi yang tidak mereka pilih, tetapi mereka harus menanggung stigma dari lingkungan sekitarnya.
“Planet of Love mengajak kita berhenti melihat mereka dari prasangka, dan mulai melihat mereka sebagai anak-anak yang punya hak untuk aman, belajar, dicintai, dan tumbuh,” tuturnya.
Putri menambahkan, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi acara menonton film. Lebih dari itu, screening dan diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana media, kampus, dan masyarakat dapat berperan dalam membangun narasi publik yang lebih empatik dan bertanggung jawab.
“Stigma sering kali lahir dari ketidaktahuan. Karena itu, ruang-ruang seperti ini penting agar kita bisa mendengar, memahami, lalu bergerak dengan cara yang lebih tepat,” imbuhnya.













