blank

 Oleh :  Muhammad Aditya Oktava, S.Psi., S.Pd., M.Pd.

A. PENDAHULUAN

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tugas penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki karakter positif, kemampuan beradaptasi, ketahanan, serta kesiapan untuk memasuki dunia usaha, dunia industry, dan dunia kerja (DUDIKA). Transformasi dalam dunia kerja yang terjadi akibat kemajuan teknologi, proses digitalisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan, serta perubahan sosial mengharuskan lulusan SMK memiliki keterampilan abad ke-21 yang mencakup kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, berinovasi, mengelola emosi, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang adaptif.

Di sisi lain, berbagai tantangan masih dihadapi peserta didik SMK, mulai dari kesenjangan kurikulum antara SMK dengan DUDIKA, rendahnya kemampuan teknis dan soft skills yang dimiliki oleh lulusan SMK (Samengasbumi, et al., 2024). Lebih lanjut lagi, peserta didik SMK juga memiliki tantangan psikologis berupa rendahnya kematangan karier, meningkatnya tekanan psikologis, kecemasan menghadapi dunia kerja, perilaku perundungan, penyalahgunaan media digital, hingga rendahnya kemampuan mengelola emosi (Narua, 2022). Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh peserta didik SMK terbilang kompleks dan membutuhkan cara yang komprehensif dalam menyelesaikannya.

Hadirnya tantangan yang begitu kompleks tentunya memerlukan sistem layanan pendidikan pada sekolah yang tidak hanya mengandalkan layanan pembelajaran mata pelajaran/bidang studi serta manajemen saja, namun juga layanan spesifik yang lebih bersifat psikopedagogik, yakni melalui bimbingan dan konseling. Penelitian terdahulu mengungkap berbagai tantangan dalam pelaksanaan layanan BK di sekolah. Hidayat (2020) menemukan bahwa banyak peserta didik belum memahami fungsi BK secara utuh dan masih memandang BK sebagai layanan punitif bagi siswa bermasalah. Kemudian hasil penelitian Apriliana, Syukur, & Taufik (2025) menemukan bahwa masih adanya stigma negatif terhadap konseling di kalangan siswa. Temuan-temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi komprehensif untuk mengidentifikasi kesenjangan antara praktik layanan BK dengan standar ideal yang ditetapkan.

Saat ini layanan Bimbingan dan Konseling (BK) tidak lagi cukup jika hanya berorientasi pada penyelesaian masalah (kuratif), tetapi harus bergeser menuju layanan yang bersifat preventif, perkembangan, dan pemberdayaan peserta didik. Merespons tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan program 7 Jurus Guru BK Hebat, yaitu Kenali Potensi, Kelola Emosi, Tumbuhkan Resiliensi, Jaga Konsistensi, Jalin Koneksi, Bangun Kolaborasi, dan Menata Situasi sebagai pendekatan praktis untuk memperkuat layanan BK yang lebih humanis, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik. Program ini mendorong transformasi atau perubahan paradigma guru BK sebagai pendamping perkembangan peserta didik, bukan hanya sekedar menyelesaikan permasalahan peserta didik.

Berdasarkan kondisi tersebut, penulis melalui artikel ini menawarkan sebuah ide/gagasan tentang model inovatif yang dinamakan SEVEN CARE (Seven Counseling Actions for Resilience and Employability) sebagai model layanan BK yang mengintegrasikan tujuh jurus BK Hebat dengan kebutuhan khas pendidikan vokasi. Model ini dirancang untuk membangun karakter positif, meningkatkan ketahanan/resiliensi, serta memperkuat kesiapan kerja peserta didik SMK melalui layanan yang sistematis, kolaboratif, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja.

B. PEMBAHASAN

a. Konsep dan Alur Berfikir Model SEVEN CARE.

SEVEN CARE adalah model layanan Bimbingan dan Konseling yang menggabungkan tujuh jurus BK Hebat dalam siklus layanan BK di SMK. Model ini dibuat dengan mengacu pada tiga orientasi utama, yaitu:

  1. Penguatan Karakter Peserta Didik.
  2. Pengembangan Resiliensi/Ketahanan Psikologi Peserta Didik.
  3. Peningkatan Kesiapan Karir dan Dunia Kerja.

SEVEN CARE menempatkan peserta didik sebagai pusat layanan (Person Centered Counseling) dengan memanfaatkan asesmen, konseling, pembelajaran sosial emosional, kolaborasi lintas pihak, dan pendampingan berkelanjutan.

Pendekatan Person Centered yang dikembangkan oleh Carl R. Rogers ini mengikuti prinsip filosofi humanistik yang menjelaskan bahwa manusia dianggap sebagai makhluk yang positif, sosial, berorientasi ke depan, dan realistis. Proses konseling dengan pendekatan Person Centered menempatkan Konseli atau peserta didik sebagai pemegang kendali dalam keberhasilan atau pencapaian tujuan konseling (Aprila, Lestari, Suranata, & Juhan, 2022). Berikut adalah gambaran dari alur berfikir model layanan BK Seven Care :

blank

b. Tahapan Model SEVEN CARE.

Implementasi model SEVEN CARE ini dapat dilakukan melalui 7 tahapan yang dilakukan secara berurutan. Tujuh tahapan ini sesuai dengan 7 jurus BK Hebat yang telah dibuat oleh Kemendikbud, yaitu meliputi :

  1. Self Discovery (Kenali Potensi).

Guru BK melakukan assessment awal terhadap minat, kemampuan, karakter, nilai kehidupan, serta persiapan karir dengan menggunakan alat psikologis dan juga metode penilaian non-tes. Proses ini memfasilitasi peserta didik untuk menyadari potensi yang dimilikinya sehingga mereka bisa menetapkan tujuan pendidikan dan karir yang lebih realistis.

  1. Emotional Management (Kelola Emosi).

Peserta didik mendapatkan bantuan dalam bentuk pengajaran kelompok, bimbingan pribadi, serta sesi kelompok tentang pengelolaan emosi, cara mengatasi stres, kesadaran diri, dan kesehatan mental, sehingga mereka dapat mengatasi tekanan di bidang akademis maupun interaksi sosial dengan cara yang konstruktif.

  1. Value Resilience (Tumbuhkan Resiliensi)

Guru BK menawarkan pengalaman pendidikan yang memperkuat semangat daya juang, kemampuan untuk pulih dari kegagalan, pola pikir berkembang, dan sikap optimis. Ketahanan mental menjadi aset penting bagi calon lulusan SMK dalam menghadapi perubahan di dunia kerja yang sangat tidak stabil.

  1. Effective Discipline (Jaga Konsistensi).

Tahap ini menciptakan budaya kedisiplinan, rasa tanggung jawab, integritas, dan etos kerja melalui kebiasaan yang baik, kesepakatan belajar, evaluasi diri, serta pengawasan kemajuan perilaku peserta didik.

  1. Networking for Success (Jalin Koneksi).

Guru BK memperluas jangkauan layanan dengan menjalin kerja sama dengan orang tua, alumni, sektor industri, universitas, psikolog, serta instansi pemerintah agar siswa mendapatkan dukungan yang lebih menyeluruh.

  1. Collaborative Growth (Bangun Kolaborasi).

Kolaborasi dilaksanakan dengan keterlibatan wali kelas, pengajar mata pelajaran, guru keahlian, sektor industri, serta orang tua dalam mendukung kemajuan siswa. Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan yang diusung oleh Guru Wali yang menitikberatkan pada pendampingan yang komprehensif.

  1. Adaptive Environment (Menata Situasi).

Guru BK membangun suasana sekolah yang terlindungi, menyenangkan, inklusif, bersahabat bagi anak, bebas dari tindakan bullying, dan mendukung kesejahteraan mental melalui inisiatif pencegahan, kampanye yang membangun, pendamping sebaya, serta mekanisme identifikasi awal.

blank

c. Implementasi Model SEVEN CARE pada BK SMK.

Untuk memudahkan guru BK, model SEVEN CARE ini dapat diimplementasikan melalui empat bidang layanan BK yang meliputi :

Bid. Pribadi Bid. Sosial Bid. Belajar Bid. Karir
Konseling individu Pencegahan bullying Motivasi belajar Career planning
Emotional coaching Resolusi konflik Self regulated learning Career coaching
Manajemen stres Komunikasi efektif Goal setting Simulasi wawancara
Self awareness Empati Manajemen waktu Penyusunan CV
  Personal branding

 

d. Keunggulan Model SEVEN CARE.

  1. Keunggulan Model Seven Care.

Dibandingkan dengan model layanan BK konvensional, Model SEVEN CARE ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain :

  • Pertama, layanan ini bersifat pencegahan serta pengembangan agar guru BK lebih fokus pada pendampingan ketimbang penyelesaian kasus.
  • Kedua, layanan ini menggunakan basic asesmen sebagai dasar dalam penyusunan program sehingga lebih tepat sasaran.
  • Ketiga, terdapat kolaborasi dengan berbagai pihak antara sekolah, keluarga, dunia usaha dan dunia industri.
  • Keempat, layanan ini memiliki fokus pada kesiapan kerja sehingga akan sejalan dengan karakteristik pendidikan vokasi.
  • Kelima, model ini dapat mendukung implementasi pembelajaran mendalam, pendidikan karakter, dan kebijakan nasional mengenai 7 Jurus BK Hebat.
  1. Kelemahan Model Seven Care.
  • Tujuh tahapan membutuhkan proses yang berkelanjutan sehingga sulit dilaksanakan apabila jam layanan BK terbatas.
  • Rasio Guru BK dan siswa yang tinggi menyulitkan pendampingan individual.
  • Menuntut kompetensi Guru BK yang tinggi dalam asesmen psikologis, konseling, PSE, kolaborasi, dan pengembangan karier.
  • Keberhasilan sangat bergantung pada dukungan kepala sekolah, wali kelas, guru mapel, orang tua, alumni, dan dunia industri.
  • e. Dampak Model SEVEN CARE

Jika diterapkan dengan cara yang berkesinambungan, model SEVEN CARE ini diprediksi akan menghasilkan sejumlah pencapaian berikut :

  1. Meningkatnya karakter positif peserta didik.
  2. Meningkatnya kemampuan regulasi emosi.
  3. Meningkatnya resiliensi menghadapi tekanan akademik maupun dunia kerja.
  4. Menurunnya kasus pelanggaran disiplin dan perundungan.
  5. Meningkatnya kematangan karier.
  6. Meningkatnya kesiapan memasuki dunia kerja, perguruan tinggi, maupun berwirausaha.
  7. Terciptanya budaya sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan.

Dengan cara ini, layanan BK tidak lagi dilihat sebagai tempat untuk menyelesaikan permasalahan, melainkan sebagai pusat untuk mengembangkan kemampuan peserta didik secara menyeluruh.

C. PENUTUP

Transformasi dalam pendidikan vokasi membutuhkan dukungan dari Layanan Bimbingan dan Konseling yang dapat menghadapi tantangan perkembangan siswa di zaman digital dan dunia kerja yang kian rumit. Program 7 Jurus Guru BK Hebat memberikan arah yang segar dalam memperkuat layanan BK dengan pendekatan yang bersifat pencegahan, berbasis pada kemanusiaan, dan fokus pada pengembangan karakter.

Model SEVEN CARE memperkenalkan terobosan dengan memadukan tujuh strategi tersebut ke dalam layanan Bimbingan Konseling SMK yang terstruktur dan relevan. Dengan pendekatan yang fokus pada siswa, model ini tidak hanya membentuk karakter dan kesehatan mental, tetapi juga memperkuat ketahanan serta kesiapan untuk bekerja sebagai kompetensi kunci para lulusan SMK.

Penerapan model SEVEN CARE diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan pengembangan layanan BK yang sesuai dengan tuntutan pendidikan di abad ke-21 serta membantu mewujudkan lulusan SMK yang memiliki karakter, ketahanan, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan untuk bersaing baik di tingkat nasional maupun internasional.

DAFTAR PUSTAKA.

Aprila, A., Lestari, L. P., Suranata, K., & Juhan, S. (2022). The personal-centered counseling approach foster studentlearning independence. Jurnal Konseling dan Pendidikan, Vol.10, No.4 DOI: https://doi.org/10.29210/186000.

Apriliana, Y., Syukur, Y., & Taufik. (2025). Analisis Keterlaksanaan Bimbingan Konseling di SMK Negeri 1 Padang Laweh. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Volume 2, Nomor 10 https://doi.org/10.5281/zenodo.15504249.

Hidayat, A. (2020). Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling. AL-IRSYAD: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 2, Issue 1.

Narua, W. N. (2022). Kecemasan Dalam Menghadapi Dunia Kerja Antara Siswa SMA Dan SMK Surabaya. Jurnal Fenomena, Vol. 31 No. 2 DOI: 10.30996/fn.31i2.8621.

Samengasbumi, R. P., Hamdani, H., Ubaidillah, A. S., Sukuryadi, Swahip, Rasikhun, H., . . . Yustissiani, E. (2024). Strategi peningkatan kualitas pembelajaran berbasis dunia kerja. Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat, Vol. 5 No. 4 https://doi.org/10.33474/jp2m.v5i4.22291.

Penulis adalah Guru  SMK Negeri 1 Batealit, Jepara, Jawa Tengah