blank
Fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, lakukan pemberdayan dengan Participatory Kit

JEPARA (SUARABARU.ID) –  Pemerintah Desa Kaligarang, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, membentuk Desa Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) sebagai upaya meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim di Balai Desa Kaligarang, Selasa (7/7/2026).

Pembentukan DEKSI melibatkan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur masyarakat. Melalui forum ini, peserta diajak mengenali persoalan kesehatan dan lingkungan yang berpotensi muncul akibat perubahan iklim, sekaligus menyusun langkah-langkah mitigasi berbasis potensi lokal.

Petinggi Desa Kaligarang, Rokhmad Kusmanto, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang perlu dihadapi secara bersama melalui peningkatan kapasitas masyarakat. “Program DEKSI menjadi langkah strategis untuk membangun desa yang lebih tangguh terhadap dampak perubahan iklim. Kami berharap masyarakat tidak hanya memahami ancaman yang ada, tetapi juga mampu mempelajari tingkat kerentanan wilayah serta menyusun langkah mitigasi yang tepat sehingga risiko terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan,” ujarnya.

blank
Asrori, Fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara menyampaikan tahapan Pembentukan DEKSI

Desa Kaligarang memiliki luas wilayah sekitar 6,71 kilometer persegi yang terbagi menjadi enam dusun, enam RW, dan 20 RT. Sebagian besar wilayah berupa dataran rendah dengan mata pencaharian masyarakat didominasi sektor pertanian serta kawasan Hutan Tanaman Industri, termasuk tanaman karet. Kondisi tersebut menjadikan desa memiliki karakteristik lingkungan yang perlu dikelola secara adaptif terhadap perubahan pola cuaca maupun ancaman penyakit berbasis lingkungan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, SKM., S.Kep., MMKes., MM, melalui pesan WhatsApp kepada awak media menyampaikan bahwa pembentukan DEKSI merupakan salah satu strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan. “Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara terus mendorong terbentuknya Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi penyebaran penyakit akibat perubahan iklim. Selain itu, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga sanitasi lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta mampu melakukan upaya pencegahan penyakit” katanya.

blank
Petinggi Desa Kaligarang, Rokhmad Kusmanto, menyambut baik pelaksanaan program DEKS

Sementara itu, Sanitarian Puskesmas Keling II, Siti Zulaihah, AMKL, menjelaskan bahwa Desa Kaligarang merupakan desa ketiga dari target enam desa binaan yang akan dibentuk menjadi DEKSI tahun 2026 di wilayah kerja Puskesmas Keling II. Sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di Desa Bumharjo pada 4 Juli 2026 dan Desa Kunir pada 6 Juli 2026. Selanjutnya program akan dilanjutkan di Desa Gelang, Tunahan, dan Desa Keling.

“Tujuan utama pembentukan DEKSI adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko kesehatan akibat perubahan iklim, memperkuat kesiapsiagaan desa, serta mendorong partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan,” jelasnya.

blank
Peserta Aktif berdiskusi, saling bertukar pengalaman, kemudian bersama-sama menemukan solusi dengan Participatory Kit

Fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, menerangkan bahwa pembentukan DEKSI dilaksanakan melalui sejumlah tahapan dimulai dengan pemberdayaan masyarakat. Salah satu metode yang digunakan adalah Participatory Kit, yaitu pendekatan partisipatif yang memungkinkan masyarakat mengidentifikasi sendiri persoalan kesehatan di lingkungannya.  “Melalui Participatory Kit, masyarakat diajak mengenali berbagai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, memetakan faktor risiko yang ada di wilayahnya, mengidentifikasi kelompok rentan, hingga menyusun rencana aksi bersama. Harapannya, masyarakat mampu melakukan gerakan nyata untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit berbasis lingkungan dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Senada dengan itu, fasilitator lainnya, Rukmawati, mengatakan bahwa penggunaan Participatory Kit membuat proses pembelajaran menjadi lebih interaktif. Peserta diajak berdiskusi melalui permainan edukatif sehingga suasana kegiatan berlangsung lebih hidup, menyenangkan, dan mendorong seluruh peserta berani mengemukakan ide maupun pengalaman yang dimiliki. “Pendekatan ini membuat peserta tidak merasa sedang mengikuti ceramah. Mereka belajar sambil bermain, berdiskusi, saling bertukar pengalaman, kemudian bersama-sama menemukan solusi yang paling sesuai dengan kondisi desa yang akan dituangkan dalam rencana kegiatan Masyarakat (RTM),” ujarnya.

blank
Peserta Aktif berdiskusi, saling bertukar pengalaman, kemudian bersama-sama menemukan solusi dengan Participatory Kit

Sebagai tindak lanjut dari proses pemberdayaan tersebut, peserta musyawarah juga menyepakati pembentukan Tim Kerja Masyarakat (TKM) DEKSI Desa Kaligarang yang akan menjadi motor penggerak pelaksanaan program di tingkat desa. Tim ini bertugas mengoordinasikan kegiatan, menggerakkan partisipasi masyarakat, melakukan edukasi kesehatan, serta memantau pelaksanaan rencana aksi yang telah disusun bersama.

Susunan kepengurusan TKM menetapkan Sunari sebagai Ketua, didampingi Anny Martanti sebagai Wakil Ketua, Reni Zuli Selvio sebagai Sekretaris, dan Kuryatin sebagai Bendahara.

Untuk memperkuat pelaksanaan program, TKM juga membentuk tiga unit kerja. Unit Pengadaan Sarana dan Prasarana diisi oleh Amsori, Sunjayanti, dan Suwarni yang bertugas mendukung kebutuhan fasilitas kegiatan. Unit Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dipercayakan kepada Iin Ariska, Alvinatun Nasikhah, dan Monika untuk meningkatkan penyebarluasan informasi serta edukasi kepada masyarakat. Sementara itu, Unit Pemberdayaan Masyarakat diperkuat oleh Suwarti, Ismawati, dan Miftahul yang akan menggerakkan partisipasi warga dalam setiap kegiatan DEKSI.

blank
Peserta Aktif berdiskusi, saling bertukar pengalaman, kemudian bersama-sama menemukan solusi dengan Participatory Kit

Pembentukan Tim Kerja Masyarakat menjadi salah satu indikator penting bahwa program DEKSI tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi dilanjutkan dengan pembentukan kelembagaan masyarakat yang diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program secara mandiri. Keberadaan tim tersebut menjadi wadah koordinasi lintas unsur desa dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim melalui upaya promotif, preventif, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui pembentukan DEKSI, Pemerintah Kabupaten Jepara berharap lahir desa-desa yang semakin adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus mampu memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun lingkungan yang sehat, aman, dan berkelanjutan sehingga dampak perubahan iklim dapat diminimalkan sejak dari tingkat desa.

Hadepe