PATI (SUARABARU.ID) – Malam belum terlalu larut ketika satu per satu warga mulai berdatangan ke pelataran sebuah rumah di Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.
Dalam rangkaian Gelar Budaya dan Pameran Seni Rupa Plat K #4, program Layar Tancep Rakyat (LaTaR) yang dimulai pada Senin malam (22/06/2026) yang menghadirkan kesederhanaan, tetapi bermakna.
Tidak ada loket tiket. Tidak ada pendingin ruangan atau kursi empuk berderet seperti di gedung bioskop. Yang tersedia hanyalah tikar, kursi plastik, semilir angin malam, dan sebuah layar putih yang siap memantulkan puluhan cerita.
Anak-anak duduk di barisan depan. Orang tua memilih bersandar di kursi atau duduk lesehan. Sesekali terdengar obrolan kecil yang perlahan menghilang ketika proyektor mulai menyala. Dan malam itu, film menjadi milik semua orang.

Sebanyak 18 film independen diputar bukan di ruang festival yang eksklusif, melainkan di tengah permukiman warga, mengembalikan film kepada pemilik sesungguhnya: masyarakat.
Enam belas film merupakan karya sineas muda asal Pati. Sisanya datang dari Kudus. Semuanya lahir dari tangan-tangan kreatif yang selama ini berkarya di komunitas, sekolah, hingga kelompok seni. Ada yang diproduksi dengan peralatan sederhana, ada pula yang dikerjakan secara gotong royong, tetapi semuanya membawa satu kesamaan: keinginan agar cerita lokal tidak berhenti di ruang penyuntingan.
Bagi sebagian pembuat film, malam itu mungkin menjadi pengalaman yang lebih berharga daripada sekadar meraih penghargaan. Mereka menyaksikan langsung bagaimana penonton tertawa, terdiam, bahkan larut dalam cerita yang mereka ciptakan.
Koordinator LaTaR, Ahmad Faozi, menyebut kegiatan tersebut lahir dari semangat berbagi, bukan sekadar memutar film.
“Kami menghadirkan LaTaR Pati sebagai wadah sedekah visual bagi para pegiat film Pati. Harapannya, kegiatan ini dapat menghibur sekaligus memberi manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
Ungkapan “sedekah visual” menjadi cara unik untuk menggambarkan semangat itu. Sebab bagi para pegiat film independen, karya bukan hanya untuk dikoleksi atau diikutsertakan dalam festival. Film akan menemukan maknanya ketika berhasil menyentuh penonton.
Pria yang akrab disapa Ocheng Pati itu percaya, ruang pemutaran seperti ini adalah napas yang dibutuhkan komunitas film daerah.
“Jika kegiatan seperti ini berjalan secara berkelanjutan, insyaallah akan semakin menumbuhkan semangat berkarya bagi para pegiat film daerah,” katanya.
Di era ketika masyarakat lebih akrab dengan layar telepon genggam, LaTaR justru mengajak orang kembali menonton bersama. Tidak ada tombol jeda. Tidak ada pilihan untuk mengganti film ketika cerita mulai berjalan lambat. Yang ada hanyalah kebersamaan menikmati satu layar, berbagi tawa, tepuk tangan, dan percakapan setelah film usai.
Tradisi layar tancep yang dahulu identik dengan film layar lebar kini menemukan bentuk baru. Bukan sekadar nostalgia, melainkan ruang alternatif bagi karya-karya lokal untuk bertemu dengan publiknya.
LaTaR sendiri merupakan gagasan Jaringan Kebudayaan Pati (JANGKEP) yang kemudian mendapat dukungan dari Komunitas Plat K. Kehadirannya menjadi salah satu denyut dalam Gelar Budaya dan Pameran Seni Rupa Plat K #4 yang berlangsung pada 19–24 Juni 2026.
Selama enam hari penyelenggaraan, sekitar 50 karya seni rupa dari seniman Pati, Jepara, Kudus, Rembang, Grobogan, dan Blora dipamerkan. Berbagai pertunjukan tari, teater, pembacaan puisi, hingga musik juga mengisi setiap malam. Namun, di antara seluruh rangkaian itu, pelataran rumah yang berubah menjadi bioskop sederhana menghadirkan cerita tersendiri.
Sebab malam itu, yang diputar bukan hanya 18 film independen. Yang turut diproyeksikan adalah harapan bahwa karya-karya anak daerah akan terus menemukan ruang hidupnya, selama masih ada masyarakat yang bersedia datang, duduk bersama, dan memberi tepuk tangan ketika layar perlahan menjadi gelap.
Septiana W.













