Oleh : Miqdad Syafiq Husaini
Di antara denting gamelan yang masih terus berbunyi menjaga tradisi, nama Ki Hadi Purwanto berdiri seperti bayangan kelir yang tak pernah benar-benar diam dan padam. Ia bukan sekadar dalang, tetapi jejak panjang darah seni yang mengalir lintas generasi yang melukiskan sebuah cerita dari panggung, ditempa oleh waktu, dan terus hidup di tengah dunia yang makin cepat berlari.
Lahir di Jepara pada 3 November 1972 dengan nama Hadi Purnoto. Ia tumbuh di lingkungan yang sejak awal tak pernah jauh dari dunia pedalangan. Ayahnya, Ki Yoso, adalah seorang dalang. Bahkan sebelum itu, garis keturunannya sudah lebih dulu berakar di dunia yang sama, mulai dari kakeknya Kasiman, buyut Kodirono Karsiman dan canggahnya Siban adalah para penjaga cerita wayang. Seakan-akan darah yang mengalir dalam dirinya memang sudah “ditulis” untuk menjaga panggung pakeliran agar tak mati di negerinya sendiri
Namun jalan hidupnya tidak langsung menuju panggung. Ia sempat menempuh pendidikan hingga Madrasah Tsanawiyah, lalu melanjutkan lewat Kejar Paket C yang setara Sekolah Menengah Atas. Masa mudanya diwarnai kerja keras sebagai pengukir kayu, merantau ke Semarang hingga Banyuwangi.
Tangan yang kini piawai menggerakkan tokoh wayang itu dulu lebih dulu akrab dengan pahat dan serat kayu khas orang Jepara yang membentuk, mengukir, dan bertahan hidup dari seni yang lain.

Titik balik datang pada 1992. Saat itu ia mulai menekuni dunia pedalangan secara serius. Nama “Ki Hadi Purwanto” sendiri diberikan oleh ayahnya sebagai nama panggung dan sebagai sebuah tanda bahwa ia telah resmi masuk ke dunia yang bukan hanya pekerjaan, tapi juga laku hidup. Sejak saat itu, hidupnya seperti tidak lagi bisa dipisahkan dari kelir, gamelan, dan suara sinden yang mengalun seperti doa.
Ketertarikannya pada wayang bukan sekadar pilihan, melainkan warisan yang terasa seperti panggilan batin. Ia mengaku, ketika orang tuanya mulai sakit-sakitan, muncul kesadaran dalam dirinya jika bukan dirinya yang menjaga, lantas siapa lagi yang akan meneruskan agar api itu tidak padam? Dan dari situlah ia benar-benar masuk ke dunia pewayangan. Bukan hanya sebagai pelaku, tetapi sebagai penerus napas panjang tradisi leluhurnya
Kini, di balik panggung yang ia bangun, ia juga menjadi seorang ayah dari dua anak laki-laki. Anak pertamanya telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta dan bahkan mengelola usaha persewaan. Namun seperti banyak generasi muda lainnya, ketertarikan terhadap wayang tidak otomatis mengalir.
Sementara itu, anak keduanya kini mulai ia ajak hadir di sanggar dan sesekali ikut tampil sebagai dalang. Ia melakukan semua itu sebagai bentuk pengenalan kepada dunia yang telah membesarkan nama keluarganya itu secara perlahan, tanpa paksaan, seperti menanam benih di tanah yang belum tentu langsung subur.
Dalam perjalanannya sebagai dalang, ia menyaksikan perubahan besar. Wayang yang dulu berdiri dalam kesunyian klasik gamelan, kini berbaur dengan campursari, pelawak, bahkan dangdut. Modernisasi membawa warna baru, tetapi juga risiko. Batas antara inovasi dan kehilangan jati diri menjadi semakin tipis. “Anut lakuning jaman,” begitu kira-kira sikapnya mengikuti arus zaman, tetapi tidak kehilangan etika dan estetika yang menjadi akar.
Ia melihat sendiri bagaimana panggung wayang kini harus bersaing dengan dunia digital yang serba cepat. Penonton tidak lagi dengan khidmat menyaksikan pagelaran wayang semalam suntuk, namun perhatian mereka kini berpindah ke layar kecil di genggaman tangan. Akibatnya ajaran luhur yang dituturkan dalam kisah pewayangan kurang mendapatkan perhatian.
Sementara biaya pertunjukan yang tinggi, kebutuhan pemain yang banyak, hingga keterbatasan ruang membuat wayang semakin jarang digelar. Dalam banyak kesempatan, masyarakat lebih memilih hiburan sederhana yang murah dan instan.
Namun, di tengah tantangan itu, ia tidak menyerah. Baginya, wayang bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Bukan hanya hiburan, tetapi tatanan hidup. Ia percaya bahwa setiap tokoh di dalamnya adalah cermin manusia, ada yang bijak, ada yang licik, ada yang jatuh, ada yang bangkit. Semua adalah metafora dari kehidupan itu sendiri tentang sebab akibat, tentang apa yang ditanam dan apa yang kelak dituai.
Ia sering menekankan bahwa hidup adalah panggung sementara. Manusia bebas memilih perannya, bisa saja menjadi ksatria yang menjaga kebenaran, atau tokoh yang menang sesaat namun kehilangan makna di akhir cerita. Dalam pandangannya, wayang adalah filosofi hidup yang disampaikan bukan lewat kata-kata kaku, tetapi lewat suara gamelan, gerak bayangan, dan dialog yang lahir dari rasa. Bahkan melalui gending-gending yang dilantunkan pesinden.
Sebagai seorang dalang, ia juga melihat sejarah wayang sebagai sesuatu yang hidup. Dari ritual kuno hingga dakwah Wali Songo, dari era Kerajaan Majapahit hingga Kerajaan Demak, wayang selalu berubah bentuk tetapi tanpa kehilangan jiwa. Bahkan tradisi seperti Sekaten menjadi bukti bagaimana budaya lokal mampu berakulturasi tanpa kehilangan identitasnya.
Namun yang paling ia tekankan bukan hanya sejarah, melainkan masa depan. Ia berharap generasi muda Jepara dan Indonesia tidak kehilangan akar budayanya. Tidak malu menjadi bagian dari tradisi sendiri. Ia ingin anak muda kembali mengenal gamelan, belajar dari sanggar, dan memahami bahwa seni bukan hanya soal kecepatan menghasilkan, tetapi tentang kedalaman rasa.
Baginya, gamelan bukan sekadar alat musik. Ia adalah napas yang lahir dari kesabaran, ketelitian, dan batin yang tenang. Tidak bisa digantikan mesin, tidak bisa disalin begitu saja tanpa jiwa. Di situlah letak keagungannya dan sekaligus tantangannya di era modern.
Di akhir perjalanannya, harapannya sederhana namun memiliki makna yang dalam agar wayang tetap dicintai, dijaga, dan tidak menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri.
Selain itu ia juga berharap pemerintah dan masyarakat agar sama-sama hadir dalam menjaga warisan ini. Karena baginya, budaya bukan sekadar peninggalan, ia adalah identitas yang menentukan siapa kita di masa depan.
Dan di balik kelir yang terus bergerak, Ki Hadi Purwanto tetap berdiri. Menghidupkan tokoh-tokoh yang tak pernah benar-benar mati. Seperti bayangan yang jatuh di layar putih, halus, dan gelap, namun penuh akan makna yang tersimpan di dalamnya.
Kini Ki Hadi Purwanto dan istri tercintanya Nyi Sukesi yang juga dikenal sebagai pesinden senior Jepara mendirikan Sanggar Seni Makutharama di halaman rumahnya, Desa Bandengan Jepara. Kepada puluhan siswa mereka dengan setia dan sepenuh hati mengajarkan seni pedalangan, tari dan juga seni waranggono.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi KPI Unisnu Jepara yang sedang mengikuti Program Magang di SUARABARU.ID













