blank
Ilustrasi. Reka; wied SB.ID

blank

MAKSUD hati mung guyon, apa daya gunung meletus; dadi padudon, meruncing menjadi pertengkaran. Sangat sering terjadi seperti itu. Bermula guyon memelesetkan kependekan ATM menjadi alat tumpuk materi.

Mremen-mremen, menjadi-jadi guyonannya, lalu menyindir temannya, berkata: “Kamu itu ATM, alatmu tumpul melulu.” Kebetulan dia memang sudah enam tahun, namun istrinya belum juga hamil. Tersinggung berat  dia, marah. Ambil kayu pemukul kentongan di gardu ronda.

“Plakkk……plakkk……..” lalu lari. Dikejar seraya godres getih, berlumuran darah; terjadi saling pukul dan tendang. Menyusul sidang RT tiba-tiba, dan urusan segera ditangani babinsatibmas. Nah…. endingnya: Guyonan dadi tangisan.

Guyu dan guyon

Guyu, tertawa, adalah salah satu ciri khas manusia, ungkapan dan luapan rasa gembira lewat suara. Bahkan dewasa ini, guyu, tertawa, sering disebut-sebut sebagai salah satu pilar hidup sehat bagi warga senior (jangan disebut lansia, nelangsa dia).

Baca juga Dadi Sawalang-walang

Agar berlangsung akeh guyu, banyak tertawa;  dua atau tiga orang itu lalu menempuh guyon sebagai salah satu strategi. Bercengkerama, gojegan sembranan, misalnya menampilkan cerita-cerita lucu, atau bahkan saling ejek atau sindir tipis-tipis. Semua ditempuh sekedar dinggo seneng-seneng, agar dapat tertawa lepas penuh sukacita.

Dari guyu ke guyon, dan proses itu disebut geguyon atau juga guyonan. Sebuah proses egaliter serta sangat cepat membuat suasana menjadi cair penuh gelak tawa.

Namun proses itu ada rambu-rambunya, di antaranya, hindari jangan kelewat batas. Nah ………… menentukan batas inilah yang sering tidak mudah ditaati karena cenderung dilanggar dengan kata-kata penghibur: “Guyonan lho iki.” Contoh ATM yang bikin godres getih di atas menegaskan betapa tidak mudahnya mengontrol dan menaati batas-batas kewajaran guyonan.

Guyonan dadi tangisan

Batas kewajaran guyonan yang terpenting, ialah jangan menyinggung hal-hal sensitif. Di antara hal-hal sensitif yang mudah tersulut berkisar pada rahasia atau kelemahan pribadi setiap orang.

Kepanjangan ATM yang berakibat darah bercucuran tadi sangat menyinggung harkat seseorang karena diejek vitalitas kelelakiannya. Setiap lelaki pasti sangat tersinggung jika vitalitas dirinya dijadikan bahan olok-olok meskipun konteksnya geguyon/guyonan.

Baca juga Sakdadine

Senada dengan masalah vitalitas ini, menjadikan guyonan program-program yang termasuk kategori nasional, juga sangat mudah menyulut ketersinggungan sejumlah pihak.

Hindarilah memelesetkan atau menjadikan bahan guyonan sejumlah program nasional itu. Banyak pihak sedang sensitif karena memang saat-saat ini sedang penuh konsentrasi. Siapa pun, jika sedang konsentrasi tinggi, tidaklah mudah diajak bergurau, tidaklah terhibur dijak guyonan.

Jangankan sedang konsentrasi tinggi, para pihak sedang geguyon di pos ronda saja, bisa terjadi ada yang godres getih karena batas kewajaran guyonan terlompati.

Guyonan/geguyon dadi tangisan, sebuah contoh yang disebut tembung entar, artinya  sembranan jebul dadi perkara. Seperti telah disebutkan berulangkali di atas, maksud hati sekedar gojegan, guyon-guyon; namun karena ada kata-kata (bisa juga tindakan) yang menyinggung, jadilah perkara berkepanjangan.

Bukan sekedar perkaranya, tetapi ikutannya yang berupa tangis dan derita, itulah yang menjadikan hidup kekeluargaan ini terluka. Orang yang dulunya akrab, karena tersinggung, sangat mungkin berubah menjadi bermusuhan. Dadi tangisan.

Pertanyaan paling mendasar, ialah jika guyonan saja bisa menimbulkan marah atau tersinggung karena guyonan itu kelewat batas; sejauh apa sebuah kritik dapat diterima sebagai masukan konstruktif tanpa membawa tangis(an)? Mengutip salah satu puisi dalam Sang Nabi tentang pertanyaan pendeta putri kepada sang guru tentang akal dan perasaan, tertulis demikian:

Akal pertimbangan dan perasaan hati,
diibaratkan kemudi dan layar jiwa
yang mengarungi laut kehidupan.
Jikalau patah salah satu, layar atau kemudi itu,
kau masih mengambang,
namun terombang-ambing gelombang;
atau terhenti lumpuh tanpa daya
di tengah samudera.
Sebab, akal pikiran sendiri yang mengemudi,
laksana tenaga yang menjebak diri.
Sedangkan perasaan yang tak terkendali,
bagai api membara yang menghanguskan diri.

Penggalan puisi ini, lebih-lebih tiga kalimat terakhir, mengajarkan kepada siapa pun (pengritik atau pun penerima kritik) untuk selalu mengintegrasikan akal fikirannya dengan perasaannya. Orang mudah tersinggung, guyonan dadi tangisan dapat terjadi karena salah satunya “patah,” entah yang patah itu akal fikirannya, entah pula perasaan nuraninya.   Salam ATM: aku tetap mencintaimu; tidak usah mudah tersinggung!!!

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran Jawa Tengah