blank
Ilustrasi, seorang nenek "ngudang" anak berharap nantinya jadi dokter. Fot: Reka wied SB.ID

blank

SEBUAH “kebiasaan lama” yang semakin hilang dalam kehidupan modern saat ini, salah satunya, ialah ngudang. Dulu, salah satu ciri khas dari pola asuh kakek-nenek terhadap anak cucunya, ialah ngudang anak utawa ngudang putune. Begitu seorang orok bayi terlahir, saat itu pula kepadanya mulailah didengarkan entah lewat ungkapan verbal atau pun dinyanyikan: ngudang.

Ngudang mempunyai tiga makna; pertama, nggadhang-gadhang ing tembe bisa dadi …… , ungkapan cita-cita entah lewat kata-kata, pantun, atau pun nyanyian. Di sinilah konteks orangtua atau kakek-nenek  berperan dalam pola asuh tadi. Setiap saat, terdengarlah ungkapan cita-cita itu, baik pada saat bayi itu dalam kondisi bahagia atau pun bahkan sedang rewel sekali pun. “Suk gedhe dadi dokter ya, putuku Tak lela….lela…. lela ledhung…”

Baca juga Dadi Gunem

Makna kedua, ngudang itu berupa ngelem lan bebungah atine bocah, ungkapan pujian kepada anak agar hatinya senang.  “Tak gintung ….. gintang….. gintung, uwit gedhang awoh pelem: putuku sing bagus dhewe; suk gedhe dadi bintang film.”

Ungkapan pujian (dan doa?) atas cucu laki-lakinya yang ganteng dan kelak menjadi bintang film. Dan makna ketiganya ngujar-ujari, nyrengeni; yaitu orangtua atau pimpinan memarahi anak buah.

Dadi wong

Lupakan makna ketiga, dan fokuskan perhatian ke makna pertama dan kedua: ungkapan cita-cita dan pujian disertai doa. Orang tua mana pun dan siapa pun, pastilah memiliki cita-cita bagi anaknya kelak di masa dewasanya. Ungkapan cita-cita itu dipertegas lewat ungkapan pujian (ayu, bagus, sehat, perkasa, dsb) berikut terkandung doa di dalamnya.

Pada intinya, setiap orangtua bercita-cita agar kelak anak-anaknya dadi wong, hidup sukses dan bahagia. Perlu diingat, jangankan pada waktu anak-anaknya masih kecil, bahkan setelah besar atau dewasa pun, orangtua pasti tidak pernah berhenti mendoakan anak-cucunya.

Baca juga Dadi Slilit

 

Ada lima makna atas tembung wong; yaitu (a) titah kang pinaringan budi. makhluk ciptaan yang dikaruniai budi. Wong adalah ciptaan tertinggi karena diberi akal budi oleh Pencipta, sementara binatang atau tanaman diberi naluri saja.

Arti (b) itulah manungsa, manusia. Wong itu artinya manusia; maka (c) wong juga berarti bangsa, merujuk kepada orang berdasarkan kebangsaannya. Contohnya, wong Eropa pada umumnya berkulit putih; sedang kita wong Asia, berkulit sawo matang.

Arti selanjutnya, (d) wong bermakna wis gedhe, dudu bocah maneh: Anda sudah dadi wong, sudah dewasa dan bukan lagi anak-anak. Makna terakhir (e) wong itu  jer utawa awit; sebuah kata sambung sehingga maksudnya lebih jelas. Contoh kalimatnya: Kudu percaya, wong mono titahe Gusti; mari harus tetap yakin karena kita ini ciptaan Tuhan.

Cita-cita dadi wong terumuskan baik lewat berbagai sukses pencapaian secara materiil lewat harta benda, pangkat, kedudukan, jabatan, dan sejenis itu; namun dalam konteks pencapaian lewat nama baik, nama besar, menjadi orang terkenal, terkemuka, orang berjasa, dan lainnya.

Negara, sebutlah sebagai Ibu pertiwi, juga selalu harus merumuskan dan memiliki cita-cita besar nan tinggi untuk rakyatnya. Semua warga negaranya dadi wong, artinya semakin bermartabat sebagai bangsa. Di zaman Soekarno dulu terdengung nyaring: “Jangan mau menjadi bangsa tempe” yang maksudnya jangan mau mudah busuk. Dengarlah cerita ini:

Seorang bapak keluarga, di hari Minggu siang, sedang menata ulang kamar tamunya agar menjadi lebih nyaman, pikirnya. Ia pasang semua piala, foto, dan segala tanda penghargaan yang pernah ia peroleh,  maupun yang dulu pernah diperoleh oleh kedua anaknya.

Berulangkali ia pandangi berbagai pajangan itu dari jarak agak jauh, didekatinya lagi, lalu segera menuju ke pintu masuk untuk memandanginya lagi. Setelah merasa puas, ia berkata meledek kepada istrinya: “Selayaknya ibu merasa malu karena di sini tidak ada satu tanda pernghargaan pun atas nama ibu.” Ibu itu terdiam saja seraya senyum.

Hari berikutnya, diam-diam si ibu pergi ke tukang pigura. Dua lembar akte lahir kedua anaknya diberi pigura sangat bagus dan mahal. Dua pigura besar itu segera dipajang di tempat paling strategis di kamar tamunya; dan ketika menjelang malam suaminya datang, ibu itu menyambutnya di pintu masuk.

Digandengnya tangan sang suami, dituntunnya ke arah dua pigura besar itu ditempatkan. Sang suami terperangah melihat dua pigura besar itu, dan lebih terperangah lagi ketika membaca tulisan di bagian bawah pigura itu: Anak-anakku wis dadi wong kabeh.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran.