blank
Supawi saat menunggu wisatawan di lokasi penyebrangan. Foto: Laila

JEPARA, (SUARABARU.ID) – Terombang-ambing di atas permukaan laut ibarat meniti seutas tali di ketinggian.  Ada degup jantung yang berpacu dengan deburan ombak. Namun ada pula janji ketenangan yang menanti di ujung daratan. Begitulah rasa yang ditawarkan saat wisatawan  melangkahkan kaki ke atas perahu kayu yang siap membelah selat menuju Pulau Panjang. Perjalanan ini menjadi sebuah tarian singkat antara nyali  dan kemurahan alam.

Supawi (54), selaku Ketua Paguyuban Pariwisata Pulau Panjang dari Pantai Prawean, menjelaskan bahwa di balik kemudi perahu-perahu ini, terdapat sistem kekeluargaan yang kokoh. “Meski perahu-perahu yang bersandar di Pantai Prawean merupakan milik pribadi, pengelolaannya tidak berjalan sendiri-sendiri. Para pemilik kapal bernaung di bawah sebuah paguyuban yang memastikan rezeki terbagi rata melalui sistem giliran,” ujarnya .

“Kapal milik pribadi tapi sistem pengelolaannya paguyuban. Jadi tetap bergantian,” ujar Supawi saat menjelaskan mekanisme operasional di lapangan. Ia juga menambahkan bahwa dari hasil pendapatan harian, akan ada pemotongan untuk kas, tenaga, dan asuransi kecelakaan bagi penumpang.

Dalam operasionalnya, paguyuban menyediakan sekitar 12 hingga 15 perahu dengan kapasitas yang bervariasi. Arifin (45), salah satu kru yang telah bekerja selama 17 tahun disana, menyebutkan bahwa rata-rata perahu besar mampu menampung hingga 20 orang, sementara perahu yang lebih kecil berkapasitas sekitar 15 orang. Namun, Arifin menegaskan bahwa mereka sangat fleksibel terkait jumlah penumpang yang akan diberangkatkan.

“Kalau memang enggak ada orang, orang 10 pun diberangkatkan. Enggak menentukan harus 20 orang,” ungkap Arifin. Ia juga menyampaikan bahwa meskipun operasional resmi dimulai pukul 07.00, mereka sering kali berangkat lebih awal jika penumpang sudah siap sejak pukul 06.30 pagi.

Faktor alam menjadi satu-satunya kendala yang tidak bisa dinegosiasi oleh para awak kapal. Musim penghujan, terutama saat memasuki “Musim Baratan” antara pertengahan Desember hingga akhir Maret, menjadi periode yang paling ekstrem bagi penyeberangan.

Supawi menjelaskan bahwa mereka tidak akan berani menyeberang jika angin musim barat mulai menciptakan gelombang tinggi. Senada dengan hal tersebut, Arifin menekankan betapa berbahayanya memaksakan perjalanan saat cuaca buruk.

“Kalau di laut itu susah cari orang hilang, sudah beda sama di darat,” tegas Arifin mengenai risiko kecelakaan di laut.

Untuk menjamin keamanan wisatawan, pihak pengelola selalu menyediakan alat pelampung dan memberikan imbauan agar penumpang tidak duduk di pinggiran atau berlari di dalam kapal. Arifin memaparkan bahwa perahu-perahu tersebut juga memiliki aspek legalitas yang diawasi oleh Dinas Perhubungan.

“Itu pembayarannya lewat Dishub, Perhubungan. Itu kan seperti perpanjangan STNK gitu, per tahun,” jelas Arifin mengenai perizinan operasional perahu mereka. Dengan adanya asuransi dan pengawasan ketat, wisatawan diharapkan bisa menikmati perjalanan singkat selama 15 menit menuju Pulau Panjang dengan perasaan tenang.

Aurel, seorang mahasiswa semester dua asal Universitas Negeri Semarang (UNNES), berbagi kisahnya saat ditemui di tengah kunjungannya. Ia mengungkapkan bahwa niat awalnya adalah pergi ke Yogyakarta, namun akhirnya memilih Pulau Panjang karena lokasinya yang dekat dan menawarkan pemandangan alam serta pantai yang menyegarkan.

“Sebenarnya tuh mau ke Jogja, cuman yang deket-deket aja lah. Cari view yang pantai, terus sama alam-alam juga yang masih alami,” ujar Aurel dengan nada santai. Ia menambahkan bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk melupakan tugas sejenak.

Mengenai akses menuju pulau, Aurel menjelaskan bahwa ia dan rekan-rekannya menyeberang melalui Pantai Kartini. Perjalanan laut tersebut menurutnya sangat singkat, hanya memakan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke daratan Pulau Panjang. Terkait kelayakan transportasi laut, Aurel menilai perahu yang ia tumpangi dalam kondisi yang baik.

“Bagus sih kapalnya juga apa namanya? Ya pantas lah. Masih layak,” tuturnya. Ia juga merasa beruntung karena cuaca hari itu sangat mendukung, tidak hujan dan sangat cerah, sehingga mereka bisa menikmati waktu dengan gembira.

Ia mengungkapkan bahwa harapan mereka selanjutnya adalah bisa berkunjung ke Karimunjawa. Jika memiliki kesempatan untuk kembali ke Pulau Panjang di masa depan, Aurel dan teman-temannya berharap bisa mencoba pengalaman berkemah  agar bisa menikmati suasana malam di pulau tersebut yang menurutnya masih terasa sangat asri.

Hadepe – Nor Laili Safriani