blank
Sejumlah pemain berfoto usai turnamen sepak bola minisoccer perempuan digelar SKI Sports League di Mini Soccer Singosari Sport Arena, Sabtu 25 April 2026 malam. (Dok)

SEMARANG (SUARABARU.ID) — Delapan tim sepak bola perempuan mengikuti turnamen yang digelar SKI Sports League di Minisoccer Singosari Sport Arena, Sabtu 25 April 2026 malam.

Dari lapangan olahraga itu, diharapkan bisa menjadi ruang aktualisasi bagi perempuan dalam menunjukkan  bakat dan kegigihan dari lapangan hijau.

Founder SKI Sports League, Priscila Hediana, mengatakan, penyelenggaraan turnamen tersebut dilandasi oleh keinginan membuka luas ruang bagi perempuan.

Perempuan punya kesempatan dalam berkembang di luar peran domestik, termasuk dalam dunia sepak bola yang selama ini masih didominasi laki-laki.

“Perempuan juga harus punya ruang untuk berkembang. Momentum Hari Kartini ini menjadi semangat bagi kami untuk menghadirkan wadah bagi perempuan agar bisa menyalurkan skill, khususnya di sepak bola,” katanya.

Dia mengatakan, waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan peringatan Hari Kartini membawa pesan pemberdayaan perempuan atau women empowering.

“Dengan harapan mampu memantik lahirnya lebih banyak kompetisi serupa di masa depan,” ucapnya.

Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah pendukung dari kalangan swasta. Priscilla berharap adanya keterlibatan lebih besar, khususnya Pemerintah Kota Semarang, untuk mendukung pembinaan sepak bola perempuan secara berkelanjutan.

Dikatakannya, dukungan pemerintah akan menjadi faktor penting dalam menjaga motivasi para atlet perempuan. Dengan fasilitas dan perhatian yang memadai, potensi pemain perempuan diyakini mampu bersaing hingga tingkat nasional bahkan internasional.

“Kalau ada dukungan dari pemerintah, tentu mereka akan lebih semangat. Kita ingin menunjukkan bahwa putri-putri daerah ini punya talenta luar biasa di sepak bola,” katanya.

Sebagian besar peserta turnamen berasal dari komunitas mini soccer, futsal, hingga sekolah sepak bola (SSB) putri. Kompetisi seperti ini dinilai sangat penting sebagai wadah pembinaan, baik dari sisi teknik maupun mental bertanding.

Priscila juga menyoroti, perkembangan sepak bola perempuan di Indonesia masih membutuhkan lebih banyak ruang kompetisi. Selama ini, baginya, perhatian publik masih terfokus pada sepak bola pria, padahal kualitas atlet perempuan dinilai tidak kalah kompetitif.

“Liga-liga kecil seperti ini menjadi titik awal. Tidak mungkin pemain langsung ada di level atas tanpa proses pembinaan dari bawah, termasuk melalui kompetisi,” katanya.

Sebanyak delapan tim ambil bagian dalam turnamen ini, berasal dari berbagai daerah seperti Semarang, Solo, hingga Yogyakarta. Di antaranya La Football Community, Kereta Perang, Manahan Squad, dan Mambruk FC.

Perempuan dari Indonesia Timur 

Dalam laga itu, kehadiran Mambruk FC menjadi menarik. Tim tersebut beranggotakan pemain dari Indonesia Timur yang kini berdomisili di Yogyakarta.

Salah satu pemain senior Mambruk FC, Ussy Wonda (35), mengaku antusias mengikuti turnamen tersebut. Dia mengatakan, selama ini timnya lebih sering bermain di level futsal, khususnya di kalangan mahasiswa di Yogyakarta.

“Untuk mini soccer ini pertama kali kami ikut. Jadi tentu sangat senang karena ini pengalaman baru bagi kami, apalagi bisa bertemu dengan tim-tim dari kota lain,” katanya.

Dia menilai, turnamen sepak bola perempuan masih sangat minim, sehingga kehadiran kompetisi seperti ini menjadi sangat penting bagi para pemain perempuan.

Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini juga menjadi ruang silaturahmi antar klub dari berbagai daerah. Pertemuan dengan tim-tim baru menjadi motivasi tersendiri, terutama bagi pemain muda untuk terus berkembang.

“Dengan adanya turnamen seperti ini, kami bisa terus berkembang dan menunjukkan kemampuan kami,” ucapnya. (*)

Diaz A Abidin