blank
Para peserta gerak jalan napak tilas, ada yang tampil mengenakan seragam Pak Tani lengkap memanggul cangkul, memakai busana adat Nusantara, berpakaian Jawa baju beskap surjan dengan destar (iket) di kepala.(Dok.Prokopim Wonogiri)
WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Lomba olahraga gerak jalan beregu, yang dikemas sebagai event napak tilas Pangeran Sambernyawa, Jumat (8/6/26), digelar di kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Event sport ini, dilaksanakan untuk ikut memeriahkan peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri Ke-285 Tahun 2026.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, gerak jalan napak tilas ini dilepas keberangkatannya oleh Bupati Setyo Sukarno. Mengambil start dari depan Monumen Batu Gilang Nglaroh, di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, dan finish di halaman Pendapa Kabupaten Wonogiri. Menempuh jarak sekitar 9 Kilometer (KM).

Ikut hadir mendampingi Bupati dalam mengibaskan bendera start menandai pemberangkatan, Wakil Bupati Imron Rizkyarno, Kapolres AKBP Wahyu Sulistyo bersama jajaran Forkopimda dan Sekda FX Pranata. Juga hadir sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bersama para tokoh masyarakat.

Gerak jalan napak tilas ini, diikuti sebanyak 172 regu, terdiri atas 22 regu pelajar dan 150 regu masyarakat umum. Para peserta ada yang tampil mengenakan busana Jawa beskap surjan memakai destar atau blangkon. Memakai busana adat Nusantara dari pedalaman Papua. Penampilan mereka, memberikan warna sentuhan budaya layaknya prosesi karnaval.

Ada yang memakai busana Pak Tani bercaping lengkap dengan memanggul cangkul, ada yang tampil layaknya wanita tani lengkap menggendong hasil panenan sayur mayur. Sebagian lainnya, tampil unik dan eksentrik, yaitu mengenakan pakaian wayang orang, dan memakai atribut yang biasa dipakai oleh penari Kethek Ogleng.

Sepanjang route, para peserta diajak menelusuri nilai-nilai perjuangan Pangeran Samber Nyawa atau Raden Mas (RM) Said. Yakni tokoh pendiri Dinasti Mangkunegaran, yang dulu mengawali berjuang melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda, dari pakuwon (markas)-nya di Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Perjuangan

“Kegiatan ini, bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga menjadi perjalanan yang memiliki nilai dan semangat perjuangan yang diwariskan Raden Mas Said,” ujar Bupati Setyo Sukarno. Napak tilas ini bukan hanya menjadi event sport belaka, melainkan digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan RM Said. Yang sekaligus menjadi upaya menanamkan nilai-nilai luhur kepahlawanan kepada generasi muda dan masyarakat.

blank
Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno, Bupati Setyo Sukarno dan Kapolres AKBP Wahyu Sulistyo (deret depan kesatu, kedua dan ketiga dari kiri), ikut berjalan di awal ettape pertama route gerak jalan napak tilas.(Dok.Humas Polres Wonogiri)

Event ini, menjadi refleksi semangat perjuangan Pangeran Sambernyawa yang tidak mengenal menyerah, dengan semboyan Tiji Tibeh. Yakni semangat mukti siji mukti kabeh, mati siji mati kabeh (bahagia satu bahagia semua, meninggal satu meninggal semua). Semboyan ini, mengandung makna kebersamaan dalam meraih keberhasilan, maupun saat menghadapi tantangan.

Gerak jalan napak tilas tersebut, juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali filosofi luhur yang dirumuskan dalam sesanti Tri Dharma. Yakni Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi dan Mulat Sarira Hangrasa Wani (Merasa ikut memiliki, Wajib ikut menjaga mepertahankan dan Senantiasa berani instrospeksi mawas diri).

Filosofi Tri Dharma tersebut, disebutkan memiliki nilai luhur dan menjadi warisan yang tetap relevan bagi kehidupan masyarakat saat ini. Bupati menambahkan, kegiatan tersebut selaras dengan tema Hari Jadi Ke-285 Kabupaten Wonogiri, yakni “Manunggal Sedya” (Menyatukan tekad demi mencapai tujuan).

Melalui gerak jalan napak tilas, para peserta diharapkan dapat menempa fisik dan mental, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan, dalam mencapai tujuan bersama. “Dengan kemanunggalan tekad, Insha Allah kesuksesan akan menyertai kita,” tandas Bupati Setyo Sukarno.(Bambang Pur)