JEPARA (SUARABARU.ID) — Di sebuah ruang kerja sosial di Panti Pelayanan Sosial (PPS) Potroyudan–Rumah Pelayanan Sosial Waluyotomo Jepara, sebuah filosofi sederhana lahir dari bahasa keseharian masyarakat Jawa, namun menyimpan daya ubah yang besar “Ngopeni Sing Ora Kopen Ben Kopen.”
Secara harfiah berarti “merawat yang belum terlayani agar menjadi terlayani”, inovasi ini bukan sekadar slogan, melainkan budaya kerja yang menjadi ruh pelayanan rehabilitasi sosial bagi penerima manfaat lanjut usia dan penyandang disabilitas mental terlantar.

Di bawah kepemimpinan Kepala Panti Sundarwati, SKM, M.Kes, budaya kerja itu diterjemahkan sebagai implementasi nilai ASN BerAKHLAK yang menempatkan orientasi pelayanan sebagai inti kerja sosial. Dari pendekatan inilah, proses rehabilitasi sosial di Waluyotomo dibangun bukan sekadar memberi bantuan, tetapi memulihkan martabat, menumbuhkan kemandirian, dan membuka jalan keberfungsian sosial.
“Inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata bahwa masih ada kelompok rentan yang belum sepenuhnya terjangkau pelayanan. Maka kami hadir untuk memastikan mereka yang semula ‘ora kopen’ dapat menjadi ben kopen,” ujar Sundarwati.
Sudarwati menyampaikan, budaya kerja ini juga berpijak pada amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya penguatan perlindungan sosial dan pemberdayaan kelompok rentan.
Di tingkat daerah, inovasi ini bersinergi dengan program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, terutama fokus Jateng Nyaman, serta senada dengan semangat “Ngopeni Nglakoni” yang digaungkan Gubernur Jawa Tengah.

Masalah utama yang dihadapi penerima manfaat disabilitas mental terlantar bukan semata keterbatasan fisik atau psikologis, melainkan stigma yang sering membuat mereka dipinggirkan.
Banyak dari mereka awalnya belum mampu menjalankan Activities of Daily Living (ADL) secara mandiri, tidak memiliki keterampilan, kesulitan mengekspresikan kreativitas, bahkan kehilangan rasa percaya diri.
Menurut Sudarwati, dalam kondisi itulah proses ngopeni dilakukan. Lewat bimbingan keterampilan seperti batik ciprat, pembuatan pot bunga, pertanian, bimbingan sosial, hingga pendampingan psikologis yang berlangsung terjadwal, perubahan mulai tumbuh.
Tangan-tangan yang dahulu dianggap tak produktif kini menghasilkan motif-motif batik ekspresif. Coretan warna di atas kain menjadi medium menyampaikan rasa. Pot-pot bunga lahir dari ketelatenan. Sebagian karya bahkan memberi pendapatan bagi pembuatnya.

Tampak kepercayaan diri penyintas yang meningkat, kreativitas berkembang, dan para penerima manfaat mengalami peningkatan klaster layanan sebagai indikator keberhasilan rehabilitasi sosial.
“Diharapkan semakin banyak penyintas yang semula dipandang tidak mampu, mulai menemukan fungsi sosialnya kembali,” ujar Sudarwati yang di temui saat kunjungan.
Batik Ciprat Waluyotomo Menjadi Wajah Inovasi Para Penyintas
Salah satu ikon dari inovasi ini adalah Batik Ciprat Waluyotomo. Produk ini berkembang menjadi unggulan yang diminati berbagai kalangan, mulai organisasi perangkat daerah di Jawa Tengah, dinas-dinas di Pemerintah Kabupaten Jepara, hingga masyarakat umum.
Pemasarannya pun terus diperluas. Jika pada 2025 layanan promosi berbasis katalog daring hadir melalui website SIPANTI, maka pada tahun 2026 ini, inovasi ini melangkah lebih jauh dengan membuka marketplace Shopee melalui akun “Galeri Istimewa Jepara”.
“Kami memperluas pemasaran melalui Instagram @galeri_istimewa_jepara, sekaligus menembus outlet Dekranasda Kabupaten Jepara,” terang Dini, pengelola Panti Waluyotomo.
Menurutnya, produk-produk penerima manfaat kini juga tersedia di Gerai Dekranasda Kabupaten Jepara. Perkembangan itu ditopang instruktur profesional, sarana produksi memadai, dan manajemen tim inovasi yang menjaga konsistensi kualitas.

Pengakuan terhadap hasil karya para penerima manfaat juga kian menguat. Pada 12 Maret 2026, Ketua Dekranasda Kabupaten Jepara melakukan kunjungan monitoring dan evaluasi terhadap produksi Batik Ciprat di Waluyotomo.
Kunjungan istri Bupati Jepara Laila Witiarso Utomo menjadi penanda bahwa karya-karya yang lahir dari ruang rehabilitasi mulai dipandang sebagai potensi ekonomi kreatif sekaligus model pemberdayaan sosial.

Tak hanya itu, produk dan karya penerima manfaat rutin diikutsertakan dalam berbagai pameran, termasuk pada momentum Hari Jadi Jawa Tengah maupun peringatan Hari Disabilitas Internasional dan sudah banyak yang membeli mulai dari dinas2 OPD di Jawa Tengah, Dinas2 di Pemkab Jepara, dan masyarakat.
Bagi pengelola, pameran bukan hanya ajang promosi, melainkan ruang pengakuan bahwa karya penyandang disabilitas mental memiliki nilai dan tempat di ruang publik.
Beragam karya yang terus bertambah di Galeri Istimewa (dISabiliTas MEntal WAluyotomo) Jepara yang ada di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental (RPSDM) Waluyotomo Jepara yang berlokasi di Jl. Pemuda No.95A, Potroyudan IV, Potroyudan, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Galeri ini menjadi etalase karya sekaligus simbol keberhasilan proses rehabilitasi sosial. Di sana, setiap produk tidak semata dilihat sebagai barang jadi, melainkan jejak perjalanan pemulihan.
“Dari mereka yang sebelumnya ora kopen, kini perlahan menjadi ben kopen. Dan dari sebuah budaya kerja yang lahir dari hati, pelayanan sosial menemukan makna paling dasarnya: merawat, memulihkan, dan memanusiakan.” Pungkas Sudarwati.
SEPTIANA W













