blank
Ida Fitriningsih, S.Pd.,M.Pd. Ka.SMAN 1 Tahunan dan PLt. Ka.SMAN 1 Donorojo. Foto: Syafiq.

JEPARA (SUARABARU.ID)— Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup, tidak hanya dalam seremoni tahunan setiap 21 April, tetapi juga dalam pemikiran dan tindakan perempuan Indonesia masa kini. Di Jepara, inspirasi itu tergambar dari sosok Ida Fitriningsih, S.Pd., M.Pd.,

Kepala SMAN 1 Tahunan sekaligus Pelaksana Tugas Kepala SMAN 1 Donorojo, yang memaknai Hari Kartini sebagai momentum refleksi sekaligus langkah nyata bagi perempuan untuk terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Bagi Ida Fitriningsih, memperingati Hari Kartini bukan sekadar mengenang sosok pahlawan perempuan, tetapi memahami gagasan dan pemikiran Kartini yang dinilai tetap relevan hingga saat ini. Ia menekankan bahwa surat-surat Kartini kepada para sahabatnya menjadi bukti bahwa pemikiran tokoh perempuan asal Jepara tersebut bersifat abadi dan terus dapat diadaptasikan dalam kehidupan modern.

“Bagi saya makna Hari Kartini yang sesungguhnya adalah bagaimana kita mengenal sosok beliau dari sisi pemikirannya, kemudian menerjemahkan, mengeksplorasi, dan mengimplementasikannya dalam kehidupan saat ini. Pemikiran Kartini itu abadi, bisa diimplementasikan, dan selalu bermakna hingga saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, memperingati Hari Kartini setidaknya memiliki tiga makna penting, yakni mengenal pemikiran Kartini, memahami gagasan yang diperjuangkannya, serta meneladani nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, keteladanan Kartini masih sangat kuat dirasakan hingga sekarang. Hal itu terlihat dari semakin terbukanya ruang bagi perempuan Indonesia untuk berkembang, beradaptasi, serta menunjukkan eksistensi diri dalam berbagai bidang kehidupan.

“Jiwa perempuan Indonesia yang selalu ingin maju, beradaptasi dengan perubahan zaman, melakukan emansipasi, hingga memiliki peran yang sama dengan laki-laki dalam memajukan peradaban, itu semua merupakan hasil perjuangan Kartini,” ungkapnya.

Ia juga melihat bahwa emansipasi perempuan saat ini telah mengalami perkembangan signifikan. Jika pada masa Kartini perempuan hanya diharapkan memperoleh pendidikan menengah, kini perempuan Indonesia telah mampu menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral. Selain itu, partisipasi perempuan dalam ruang publik juga semakin luas, baik dalam dunia pendidikan, pemerintahan, maupun sektor profesional lainnya.

Namun demikian, Ida menilai bahwa emansipasi perempuan merupakan proses berkelanjutan yang akan terus berkembang seiring kemajuan peradaban. Oleh karena itu, perempuan Indonesia tetap dihadapkan pada berbagai tantangan yang harus disikapi dengan bijak.

Salah satu tantangan utama adalah peningkatan kompetensi diri. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika global, perempuan dituntut untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan agar mampu bersaing dan berkontribusi secara optimal.

Selain itu, perempuan juga dihadapkan pada tantangan menjaga nilai-nilai budaya dan agama di tengah arus globalisasi. Masuknya budaya luar, menurutnya, dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku perempuan Indonesia jika tidak disikapi dengan bijak.

“Tantangannya adalah bagaimana perempuan mampu memilih dan memilah budaya luar yang sesuai dengan nilai budaya dan agama kita. Jangan sampai melampaui batas, tetapi tetap memiliki karakter dan kepribadian sebagai perempuan Indonesia,” jelasnya.

Tidak hanya itu, perempuan juga menghadapi tantangan peran ganda, yakni sebagai individu yang terus berkembang sekaligus sebagai ibu dan pendidik generasi penerus. Ia menilai peran ini menjadi tanggung jawab besar yang membutuhkan keseimbangan antara eksistensi diri dan tanggung jawab keluarga.

Menurutnya, perempuan tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi masa depan. Oleh karena itu, kemampuan perempuan dalam menjalankan peran tersebut menjadi kunci penting bagi kemajuan bangsa.

Di akhir perbincangan, Ida Fitriningsih menyampaikan harapan bagi perempuan Indonesia agar tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman. Ia juga mendorong perempuan untuk terus meningkatkan kompetensi diri, belajar setinggi mungkin, serta tetap menjaga karakter dan nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri bangsa.

“Perempuan Indonesia harus tetap semangat, tangguh, dan terus belajar. Di tangan para ibu, generasi penerus bangsa dibentuk. Dari situlah harapan kemajuan bangsa di masa depan akan tumbuh,” pungkasnya.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, semangat Kartini terus menemukan bentuknya. Tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi napas perjuangan perempuan Indonesia yang terus melangkah dengan tenang, tangguh, dan penuh harapan.

Septiana W – Syafiq