SEMARANG (SUARABARU.ID)– Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Dosen Prodi S1 Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Semarang (USM), belum lama ini melakukan sosialisasi Keselamatan Ketenagalistrikan (K2), kepada staf Puskesmas Ngaliyan, Dinas Kesehatan Kota Semarang, di UPTD Puskesmas Ngaliyan. Adapun tema yang diambil, ‘Sosialisasi Budaya K2 (Keselamatan Ketenagalistrikan)’.
Tim PKM USM yang hadir terdiri dari, Ketua Dr Ir Priyo Adi Sesotyo ST MEn IPU, dengan anggota Dr Ari Endang Jayati ST MT, Muhammad Sipan ST MT. Mereka didampingi mahasiswa Daniel Ganda Jiwo Wicaksono dan Muhammad Ali Akbar S.
Seiring dengan peningkatan kualitas layanan dan penambahan peralatan medis yang sensitif, seperti ECG, nebulizer, hingga centrifuge, konsumsi energi listrik di Puskesmas Ngaliyan turut meningkat signifikan.
BACA JUGA: Penjabaran Konsep Masjid Kampus Siaga Bencana
Namun, lonjakan penggunaan ini menyimpan risiko tersembunyi. Mulai dari bahaya sengatan listrik (microshock) bagi pasien, hingga risiko kebakaran akibat beban berlebih (overload).
”K2 bukan sekadar soal instalasi kabel, melainkan integrasi antara desain sistim, proteksi, pemeliharaan, hingga kompetensi SDM,” ujar Dr Priyo dalam paparannya.
Dia kemudian menekankan pentingnya empat pilar K2, sesuai Peraturan Menteri ESDM No 10 Tahun 2021, yaitu Keselamatan Kerja, Keselamatan Umum, Keselamatan Lingkungan, dan Keselamatan Instalasi.
BACA JUGA: Pentingnya Etika ‘Public Speaking’ dan Produksi Konten Media Sosial
Dalam sosialisasi itu, para staf Puskesmas diberikan pedoman praktis mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Beberapa poin penting yang ditekankan, larangan menumpuk terminal colokan secara berlebihan, dan kewajiban memastikan tangan dalam kondisi kering saat mengoperasikan alat medis.
Selain teori, tim PKM juga memaparkan Prosedur Darurat Kegagalan Daya. Dalam kondisi kritis, perpindahan arus dari PLN ke sistim cadangan, seperti UPS dan genset, harus terjadi dalam hitungan detik, agar alat penunjang hidup (Life Support), tidak berhenti berfungsi.
BACA JUGA: Atase Pertanian RI untuk Uni Eropa: FORC3S Bisa Berperan pada Proyek MBG
Penggunaan kode warna darurat (Emergency Colour Coding) seperti Code Red untuk kebakaran, dan Code Yellow untuk kedaruratan internal, juga kembali diingatkan kepada seluruh staf.
Tak hanya memberikan sosialisasi, kegiatan ini juga memperkenalkan instrumen manajemen keselamatan, berupa Job Safety Analysis (JSA) dan Standard Operating Procedure (SOP) pemeliharaan listrik, yang mengacu pada standar internasional ISO 9001:2015 serta IEC 60364-7-710 khusus area medis.
Melalui implementasi budaya K2 yang disiplin, diharapkan Puskesmas Ngaliyan dapat mencapai target Zero Electrical Accident (Nol Kecelakaan Listrik).
BACA JUGA: Prof Kesi: Inspirasi Sejati Lahir dari Kesederhanaan Tindakan
Dengan demikian, listrik benar-benar menjadi infrastruktur penunjang kesembuhan, dan bukan justru menjadi sumber risiko baru bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi inspeksi teknis terhadap panel-panel listrik, dan sistim grounding di lingkungan Puskesmas, untuk memastikan seluruh proteksi berfungsi optimal.
Riyan













