blank
Ilustrasi. Reka: SB.ID

blankAPA beda antara dadi daging dari dadi dhuwit? Secara sederhananya, dadi daging itu apa saja yang masuk ke dalam manusia; sedangkan yang dadi dhuwit itu apa saja yang keluar dari manusia.

Makanan atau pun pikiran yang “masuk” ke dalam tubuh manusia disebut dadi daging jika bersih; sementara itu pikiran, tindakan, kebijakan yang keluar dari manusia  bisa dadi dhuwit jika berkualitas.

Jadi, baik yang masuk maupun yang keluar disebut baik dengan tolok ukur utamanya bersih dan berkualitas. Bersih,  masuk dadi daging; berkualitas, keluar dadi dhuwit.

Dhuwit

Kosakata dhuwit dalam bahasa Jawa sepadan dengan yatra lan ugi arta. Dhuwit, yatra, utawa arta ini diberi makna sarananing urup-urupan, sarana atau alat pembayaran resmi. Jika kita mendengar atau membaca tulisan urip iku urup, purwakanthi ini mau menjelaskan tentang hidup itu berbiaya, berbayar; karena itu mahal, bermartabat. Makna lebih jauh urip iku urup, ialah hidup itu sebuah pengabdian (membayar kepada negara dan sesama); harus bermanfaat bagi masyarakat karena berbakti.

(Lain lagi ungkapan urip iku urub. Makna urub dalam purwakanthi ini ialah nyala, menyala. Idealnya, hidup itu bagaikan obor, memberi terang dan semangat. Jika tidak mungkin jadi obor, yahhhhh minimal jadilah lilin yang meskipun kecil, namun tetap mampu memberi terang sekitar.)

Alangkah besarnya makna atau pun peran dhuwit dalam kehidupan ini, bukan sekedar alat bayar atau pun bertransaksi secara resmi; dhuwit juga berkaitan dengan prestasi atau pun harga diri. Karena itu siapa pun berlomba-lomba, atau sekurangnya setiap saat berusaha untuk mencari uang sebanyaknya.

Belum lama ini, karena joged-joged  senang berhubung setiap harinya dapur masak MBG-nya “untung” enam juta rupiah; seorang bos SPPG terkena sanksi. Apa sanksinya? Dapur masaknya dihentikan/distop. Rupanya bos itu dianggap kebablasan sikapnya.

Setiap kali rombongan kunjungan resmi ke sejumlah negara pulang ke tanah air, yang pertama-tama diberitakan biasanya “jumlah uang yang dihasilkan” atas kunjungan itu. Sebutlah investasi yang disepakati dan akan ditanamkan di tanah air.

Dadi dhuwit

Dalam contoh jumlah uang investasi yang akan ditanamkan tadi, besaran uang menegaskan prestasi serta kualitas bernegosiasi. Apa yang dibahas, bagaimana meyakinkan pejabat di negara itu, dan apa saja jaminan yang akan diberikannya; semuanya menggambarkan prosesnya mengerucut untuk dadi dhuwit. Sekali lagi ini pasti sangat berkaitan dengan kualitas dan rasa saling percaya.

Jangankan komunikasi berkualitas antarnegara; rembugan antarperson saja dapat menjadi bagian penting dari proses dadi dhuwit, semua itu  bergantung pada rasa saling percaya dan kualitas rembugannya.

Dadi dhuwit itu maknanya membawa keuntungan, membawa berkah;  dalam bahasa Jawa disebut ngrejekeni, menjadi atau membawa rejeki. Tutur kata, perbuatan, sikap dan sejenis itu bisa dadi dhuwit manakala semuanya dilakukan secara berkualitas. secara baik-baik saja.

Ada orang-orang tertentu, orang khusus atau istimewa yang diberi karunia untuk piawai dalam hal apa-apa bisa dadi dhuwit. Namun sebaliknya, ada saja orang yang selalu membawa sial, apa wae ora dadi dhuwit. Kisah berikut, seorang istri loba memberi bukti hal dadi dhuwit atau ora dadi dhuwit itu.

Seorang petani memelihara beberapa angsa, dan salah satu angsa betinanya selalu bertelur emas. Istri petani itu senang sekali dan berfikir dalam waktu sangat dekat ia akan menjadi kaya raya karena telur emasnya.

Namun, istri loba itu kurang sabar. Ia tidak tahu angsa betina mana yang bertelur emas, karena itu  ia mulai menyembelih satu demi satu angsa betinanya untuk mengetahui isi perutnya.

Ketika berhasil menemukan angsa betina bertelor emas itu, ia kecewa karena isi perutnya tidak berisi emas. Hampir semua angsa betinanya telah disembelih, tetapi tidak juga menemukan emas di dalam perut angsa bertelor emas tadi. Wurung sugih, kabeh ora dadi dhuwit, bahkan suaminya ngambeg seumur-umur.

Ajaran dan ajakan moralnya: Berburu dan ingin kabeh ndang dadi dhuwit, ingin segera memakmurkan kaya raya, silahkan saja. Namun, …………. langkah berkeputusan, mengambil kebijakan, bertindak, dan berkomunikasi hendaknya tetap berkualitas.

Sekali saja tidak berkualitas, seperti langkah yang diambil istri loba itu, angsa betina bertelor emas justru disembelihnya……………………. Wahai para pejabat, belajarlah dari angsa bertelur emas ini, ehhh dari istri loba itu.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran.