blank
Jemaat GKJ Semarang Barat Pepanthan Mugassari saling membasuh kaki pada ibadah Malam Kamis Putih. Foto: R. Widiyartono

SEMARANG (SUARABARU ID)- Umat Kristiani menjalani dan menghayati masa sengsara Yesus Kristus, sejak Minggu Palma 29 Maret 2026 sampai Jumat Agung 3 April 2026 esok. Dan selanjutnya, jemaat akan menghayati malam Sabtu Sunyi (4/4/2026), dan Minggu Paskah (Minggu, 5/4/2026).

Dan malam ini, Kamis 2 April 2026, umat Kristiani menjalani ibadah Kamis Putih, yang mengingatkan pada peristiwa perjamuan terakhir Yesus bersama para murid. Kemudian Jumat pagi esok akan menjalani ibadah Jumat Agung, memperingati kematian Tuhan Yesus.

Jemaat Gereja Kristen Jawa Semarang Barat di gereja induk Jalan Hasanuddin dan Pepanthan Mugassari, melaksanakan ibadah Kamis Putih dan pembasuhan kaki.

Ibadah di pepanthan Mugassari dipimpin Pendeta Sediyoko MSi, yang diikuti para jemaat dengan khidmat meskipun hujan turun cukup deras. Demikian halnya di gereja induk Jalan Hasanuddin yang dipimpin Pdt. Didik Yulianto, S.Si. Teol.

Baca juga Jelang Jum’at Agung dan Paskah, Polres Kudus Sterilisasi Gereja, Pastikan Ibadah Aman dan Kondusif

Pendeta Sediyoko dalam khotbahnya dengan teman “Merawat Cinta, Saling dan Peduli” dengan bacaan dari Yohanes 13 1-17 dilanjutkan 31 b- 35.

Pendeta Sediyoko mengatakan, bila kita merawat pohon dengan cinta komitmen, disiram dipupuk maka akhirnya pohon akan berbuah.

“Tanaman tak sekadar diperhatikan tetapi harus dilakukan pendekatan secara emosional,” kata Pdt. Sediyoko.

Menyebar benih dengan berpikir tumbuh nggak tumbuh terserah, beda dengan menyebar benih dan merawat hingga tumbuh dan berbuah.

“Berbeda dengan yang menanam dan merawat agar tanaman tumbuh dan berbuah. Karena di dalamnya ada cinta, ada kepedulian,” kata dia.

blank
Pendeta Sediyoko membasuh kaki majelis pangrukti Pnt Agus Yuliarto dalam ibadah Kamis Putih. Foto: R. Widiyartono

Pendeta Sediyoko menyinggung fenomena phubbing yang terjadi saat ini. Fenomena ketika orang saling abai padahal sedang bersama. Dan ini sangat tampak, dalam sebuah pertemuan banyak orang, tetapi masing-masing sibuk dengan ponselnya.

“Ini menjadi tantangan bagi kita. Saat menunggu makanan datang disajikan, yang terjadi masing-masing malah bermain dengan hapenya. Mengabaikan, tidak memedulikan orang yang bersamanya,” kata Pdt. Sediyoko.

Hal semacam ini, tambahnya, menjadi pengalang dalam mewujudkan bagaimana kita merawat cinta. “Dan saat ini, kita bersama akan saling membasuh kaki, seperti yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap para murid. Mari kita hayati basuh kaki, dengan memedulikan orang lain,” ujar dia.

Dia mengingatkan, mengapa Tuhan Yesus mengajak murid-muridnya berkumpul pada malam itu. “Hal ini dilakukannya sebagai perwujudan merawat cinta,dan saling peduli. Karena Dia tahu sebentar lagi dia akan meninggalkan para murid,” tuturnya.

Bersama murid, dia merasakan ada yang melukai hatinya, karena Dia akan meninggalkannya. “Dan Yesus juga tahu siapa yang akan menyerahkannya, murid yang akan mengkhianatinya yaitu Yudas, orang yang juga dikasihi-Nya,” ujar Pdt. Sediyoko.

Lalu Yesus membasuh kaki para murid dengan kain yang terikat di pinggangnya. Yesus merendahkan diri membasuh kaki para murid. Merawat cinta, saling dan peduli apa pun keadaannya. Yesus berinisiatif membasuh kaki murid.