blank
Genangan air terjadi di Jalan Tendean, Kota Purwodadi, Kamis (26/3/2026) pagi tadi pasca hujan deras disertai petir sejak Rabu malam. Foto : dok Tya Widya/ist.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Fenomena Siklon Tropis Narelle yang muncul di wilayah utara Australia berdampak terhadap cuaca ekstrem di Indonesia.

Kehadiran Siklon Tropis Narelle memicu potensi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia, termasuk di Jawa Tengah, akibat adanya konvergensi serta belokan angin yang signifikan.

Beberapa wilayah di Jawa Tengah perlu meningkatkan kewaspadaan karena dampak Siklon Tropis Narelle.

Dampak Siklon Tropis Narelle yang terjadi yakni hujan lebat yang berisiko menyebabkan bencana hidrometeorologi.

BACA JUGA : KRI Banda Aceh Angkut Cerita Pemudik dari Semarang Kembali ke Perantauan

Dampak tidak langsung dari badai ini diprediksi akan terus mempengaruhi kondisi atmosfer dan perairan nasional hingga Jumat tanggal 27 Maret 2026.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang Giyarto menjelaskan bahwa fenomena ini menjadi pemicu utama perubahan cuaca.

Giyarto menegaskan salah satu trigger-nya adalah Siklon Tropis Narelle, sehingga terjadi belokan angin dan konvergensi yang berdampak pada cuaca.

Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan hujan meningkat pesat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, hingga wilayah Jawa Timur.

Selain curah hujan tinggi, ancaman gelombang laut dengan kategori moderate sea setinggi 1,25 hingga 2,5 meter menghantui wilayah perairan selatan.

Wilayah laut yang terdampak meliputi Samudera Hindia di selatan Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Laut Arafuru.

Giyarto menyebutkan daerah potensi pertumbuhan awan hujan terjadi di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Babel, Lampung, Banten, dan juga DKI Jakarta.

Provinsi lain yang mengalami hal serupa meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan.

BACA JUGA : Sinergi Cepat Polsek Kudus Kota dan Dinsos: Evakuasi Ibu Tuna Wisma Linglung ke RSUD

Wilayah Sulawesi bagian selatan, tenggara, barat, dan tengah juga tidak luput dari pantauan BMKG akibat aktivitas massa udara yang sangat kuat.

Untuk bagian timur Indonesia, pertumbuhan awan terjadi di Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, hingga Papua Selatan.

Giyarto menambahkan di wilayah Jawa Tengah ini dampak Siklon Tropis Narelle ini terjadi di bagian utara, sebagian barat, dan juga Pantura Timur.

Masyarakat Grobogan Waspada

Peringatan juga diberikan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Grobogan. Giyarto menjelaskan posisi geografis daerah Grobogan berada di kawasan hulu aluran sungai besar.

Giyarto mengimbau masyarakat Grobogan harus selalu waspada karena daerahnya berada di daerah hulu sehingga risiko bencana hidrometeorologi sangat tinggi.

“Grobogan itu harus selalu waspada karena dia daerah hulu, sehingga hujan di hilir ditambah hujan di lokasi perlu diwaspadai warga,” ungkap Giyarto saat dikonfirmasi, Kamis (26/3/2026).

Pihaknya juga menjelaskan potensi peningkatan debit air di Daerah Aliran Sungai atau DAS menjadi perhatian utama.

Menurut Giyarto, peningkatan debit air ini dapat memicu luapan air yang merendam pemukiman warga yang tinggal di sekitar Daerah Aliran Sungai.

Imbauan

Kantor Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang meminta warga Jawa Tengah tetap tenang, namun sigap menghadapi angin kencang yang muncul.

Giyarto berpesan kepada masyarakat di Jawa Tengah waspada peningkatan curah hujan yang disertai angin kencang akibat adanya Siklon Tropis Narelle.

Pihak BMKG mengingatkan adanya potensi sambaran petir yang membahayakan keselamatan saat cuaca ekstrem melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah ini.

TYA WIDYA