blank
Salah satu kelompok Seni Ronthek Gugah Sahur, tampil meriah dengan memasukan gerak joget tarian kontemporer lengkap memakai beragam asesories umbul-umbul bendera, nyala obor, lampu lampion dan teknik lighting warna-warni yang semarak.(Dok.Prokopim Pacitan)

PACITAN (SUARABARU.ID) – Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji bersama jajaran Forkopimda, Kamis malam (19/3/26), hadir membersamai masyarakat menyaksikan Senin Ronthek Gugah Sahur. Di malam Ramadhan 1447 H (2026 M), mereka unjuk kebolehan melakukan parade yang diiringi aneka tetabuhan, melintas Pendapa Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Rontek adalah kesenian tradisional khas Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sebutan Ronthek, merupakan akronim dari Rondha Thek-thek. Yakni nada bunyi dari tabuhan alat kentongan, saat warga melakukan tugas Ronda Kamling pada malam hari, keliling kampung dalam upaya menjaga keamanan masyarakat, agar terjauhkan dari gangguan kemunculan tindak kriminal.

Untuk Ronthek Gugah Sahur, awalnya bertujuan membangunkan warga untuk bersiap makan sahur demi menjalankan Ibadah Siyam di Bulan Suci Ramadhan. Dalam perkembangannya, tumbuh menjadi festival seni pertunjukan khas Pacitan. Kini Ronthek hadir semarak, meriah, dalam warna riang ria, melalui kreativitas kesenian yang memadukan kentongan sebagai musik bambu, bersama instrumen gamelan dan alat musik modern.

Karena sebagai seni musik, keberadaan Ronthek telah diaransemen dalam irama diatonis dengan tujuh nada (do, re, mi, fa, la, sol, si) menjadi musik modern mayor dan minor. Yang dipadukan dengan nada irama pentatonis dari suara gamelan laras Slendro atau Pelog.

Yang penampilannya disertai joget tari-tarian, dperkaya dengan beragam atribut seperti bendera, obor, lampion warna-warni yang dipadukan dengan teknik lighting modern. Hasilnya, menjadi karya seni budaya tradisional dengan garap dan inovasi baru yang menasional dan menginternasional. Untuk waktu tertentu, dalam upaya melestarikan keberadaannya, secara periodik Pemkab Pacitan menggelar fetsival Seni Ronthek.

Ramadhan

Bagian Prokopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, tidak sekedar menyaksikan, Bupati bersama jajaran Forkompimda juga turun langsung menyapa para peserta Ronthek Gugah Sahur di depan Kantor Bupati. Ronthek Gugah Sahur semalam, menjadi gelaran terakhir selama Bulan Ramadhan Tahun 1447 H (2026 M).

Masyarakat tumpah ruah memadati tepian jalan yang dilintasi Rinthek Gugah Sahur. Gelaran seni tradisi ini, telah menjadi ikon bagi Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Selama parade Ronthek Gugah Sahur Bulan Ramadhan yang melintasi route utama Kota Pacitan, berlangsung lancar. Sebagai massa penonton, warga baru pada kembali ke rumah masing-masing, untuk menyantap hidangan makan sahur.

Sementara itu dari lokasi dilaporkan, menjelang berkahirnya pelaksanaan Ronthek Gugah Sahur, sempat diwarnai kemunculan insiden. Yakni terjadi gesekan antar kelompok Ronthek. Ini terjadi di Simpang Empat Penceng, Kota Pacitan.

Insiden itu muncul, diduga akibat ada oknum dari salah kelompok Ronthek, tidak mematuhi arahan petugas, yakni enggan melewati jalur pulang yang telah ditetapkan. Buntutnya, terjadi gesekan antarkelompok Ronthek. Mereka saling melempar kentongan sebagai alat bunyi dalam kesenian Ronthek Gugah Sahur. Dilaporkan, dalam insiden ini, ada petugas yang terkena sasaran lemparan kentongan.(Bambang Pur)