Tabuhan rebana terdengar pelan namun ritmis, memecah riuh penonton. Beberapa orang yang semula mengobrol santai mulai berhenti. Di atas panggung megah di Gedung Wanita Jepara, di acara JIF Buywe Expo pada 11 Maret 2026, empat orang seniman muda duduk dengan posisi tegap. Mereka memegang rebana kecil sambil membuka cerita dengan nada khas yang penuh irama.
“Lestarikan dengan aksi nyata
Bukan dengan retorika belaka
Jika tidak mau jadi pelakunya
Setidaknya di tanggap kentrungnya”
“Mas wiwit itu bupatinya
Kalo wakilnya itu Gus Hajar
Biar lestari seni tradisinya
Jangan malu untuk belajar”
Parikan itu langsung menarik perhatian penonton. Siang itu, Seni Kentrung Jepara kembali hidup oleh Grup Kentrung Ken Palman dibawah naungan Sekolah Rakyat Kentrung Jepara SRKJ. Bajuri, Roy, Arif dan Ajeng memainkan pertunjukan selama sekitar dua jam menyampaikan kisah secara naratif—mulai dari cerita sejarah, legenda, hingga pesan moral kehidupan yang berkaitan dengan Masyarakat Jepara.
Kentrung merupakan seni tradisi Jepara yang memadukan unsur musik dan cerita. Dengan iringan rebana atau terbang. Gaya penyampaiannya spontan, komunikatif, dan sering kali diselingi humor yang membuat penonton merasa dekat dengan cerita. Di panggung JIF, kisah demi kisah mengalir dengan lancar. Sang penutur memainkan intonasi suara, kadang meninggi ketika bagian cerita memuncak, kadang melambat saat menyampaikan pesan moral.
Panitia JIF menghadirkan kentrung sebagai bagian dari upaya mempertemukan seni tradisi dengan ruang publik yang lebih luas. Kehadiran kesenian ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal kembali warisan budaya daerah.
Di tengah arus hiburan digital yang serba cepat, kentrung menawarkan pengalaman yang berbeda dengan pertunjukan yang sederhana, tetapi sarat makna.
Bagi sebagian penonton, pertunjukan ini menjadi pengingat akan tradisi lama yang mulai jarang terlihat. “Sekarang jarang sekali ada kentrung. Biasanya hanya ada di acara tertentu saja,” ujar Hanni salah satu pengunjung yang mengaku baru pertama kali menonton langsung pertunjukan tersebut.
Sedangkan salah satu penggiat kentrung muda Bajuri mengaku sangat senang dapat berkolaborasi dalam acara JIF Buywe Expo. Mereka menyatakan bahwa memerlukan media untuk mensosialisasikan Seni Kentrung semakin luas. “Mengingat Maestro Kentrung yang sepuh sudah hampir tidak ada kecuali Mbah Parmo dan sekarang diteruskan cucunya Mas Arif,” ujarnya.
Para seniman kentrung muda ini juga menyampaikan rasa senangnya bisa membawa Kentrung di acara yang cukup bergengsi tersebut sehingga selain dapat menghibur mereka juga dapat mengenalkan kesenian tradisi Jepara kepada para peserta dan pengunjung di JIF Expo Buywe 2026.
Bagi para seniman Kentrung, mereka berharap ada hal yang bisa diterima atau ditangkap oleh para pengunjung. “Agar paling tidak masyarakat Jepara sudah pernah lihat atau dengar apa dan bagaimana kesenian tradisi Kentrung Jepara. Kami berharap untuk bisa disampaikan atau disiarkan ke lingkungan entah secara langsung maupun di dunia maya. Dan terlebih kami berharap ruang-ruang untuk kesenian Kentrung terus eksis tetap ada,” pungkas Bajuri.
Septiana W.













