blank
Ilustrasi. Foto: Reka SB.ID

Clarissa Martina Yovita Fallo

Kau Bagai Mata Air di Musim Kemarau

Di punggung gunung yang diselimuti kabut,
di antara pinus yang berbisik lirih pada angin,
seorang guru melangkah pelan meniti jalan setapak berbatu
yang lebih sering dilalui rusa daripada kendaraan.

Fajar belum sepenuhnya menyingsing,
namun tekadnya telah lebih dulu terang.
Tas di pundaknya berisi buku-buku lusuh, dan di dalam dadanya
tersimpan mimpi-mimpi anak negeri yang belum sempat mengenal dunia.

Ia menyapa sungai yang jernih,
menyeberanginya dengan sepatu basah.
Ia mendaki lereng terjal,
di mana tanah dan akar menjadi pijakan setia.
Burung-burung menjadi saksi, bahwa ilmu sedang diperjuangkan
setinggi puncak-puncak sunyi.

Ruang kelasnya beratap langit biru,
berdinding kayu dan cahaya matahari.
Angin gunung masuk tanpa izin, membalik lembaran buku,
seolah ikut ingin belajar membaca.

Dengan kapur yang hampir habis,
ia menuliskan harapan di papan sederhana.
Setiap huruf adalah anak tangga,
setiap angka adalah jembatan
menuju dunia yang lebih luas
dari lembah tempat mereka dilahirkan.

Anak-anak duduk dengan mata berbinar,
secerah embun di ujung daun.
Mereka belajar mengeja mimpi
di antara aroma tanah basah
dan nyanyian alam yang tak pernah lelah.

Guru itu bukan hanya pengajar melainkan
ia adalah mata air di musim kemarau,
ia adalah matahari di balik awan tebal,
ia adalah hutan yang teguh, meski badai berkali-kali datang.

Tak ada gemerlap kota di sana,
tak ada tepuk tangan panjang.
Namun gunung menyimpan namanya
di dalam gema yang abadi.
Alam tahu, bahwa di lereng sunyi itu
sedang tumbuh generasi pemberani.

Wahai guru di pedalaman, engkau menanam ilmu
di tanah yang jarang dipandang, namun dari sanalah
akan tumbuh pohon-pohon besar yang akarnya kuat,
dan dahannya akan  menjulang menyentuh langit cita-cita.

Dan suatu hari nanti,
ketika anak-anak itu berdiri di puncak dunia,
mereka akan ingat, pernah ada seseorang
yang mendaki gunung setiap pagi,
bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk menyalakan harapan.

*) Puisi ini saya  terinspirasi berdasarkan cerita seorang Suster Notre Dame yang bertugas dalam bidang pendidikan di suatu tempat pedalaman di  Pulau Timor tepatnya di Manamas, Kabupaten Timor Tengah Utara

blankClarissa Martina Yovita Fallo, seorang suster di Susteran Notre Dame Salatiga, berasal dari Timor Tengah Utara, NTT