Oleh Muhamad Rizky Pratama
RUMAH seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. Di sanalah mereka belajar percaya, merasa dicintai, dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional. Namun kenyataannya, tidak semua anak merasakan hal itu. Di balik pintu rumah yang tampak biasa saja, ada sebagian anak yang justru mengalami kekerasan—bahkan dari sosok yang seharusnya merawat mereka: ibu tiri.
Fenomena kekerasan terhadap anak oleh orang tua sambung bukan sekadar cerita sinetron atau legenda urban. Kasus nyata masih sering muncul di berita maupun laporan lembaga perlindungan anak. Bentuk kekerasannya beragam, mulai dari kekerasan verbal seperti hinaan dan ancaman, kekerasan emosional berupa pengabaian, hingga kekerasan fisik yang meninggalkan luka nyata.
Meski pelaku bisa siapa saja, kasus yang melibatkan ibu tiri sering mendapat perhatian publik karena bertabrakan dengan ekspektasi sosial tentang peran seorang ibu sebagai simbol kasih sayang.
Secara psikologis, konflik dalam keluarga tiri memang memiliki tantangan tersendiri. Hubungan antara anak dan orang tua sambung tidak terbentuk secara alami sejak lahir, melainkan harus dibangun melalui proses adaptasi. Jika tidak ada kesiapan emosional dari kedua belah pihak, hubungan ini bisa dipenuhi rasa canggung, cemburu, atau bahkan penolakan.
Dalam situasi tertentu, tekanan ekonomi, stres rumah tangga, atau konflik dengan pasangan dapat memperparah kondisi hingga berujung pada perilaku agresif terhadap anak.
Tak Semua Ibu Tiri Kejam
Namun penting dipahami, menjadi ibu tiri bukanlah penyebab otomatis seseorang menjadi kejam dan melakukan kekerasan. Banyak ibu tiri yang justru mampu menjadi figur pengasuh yang hangat dan suportif.
Artinya, akar masalah bukan pada status “tiri”, melainkan pada faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Seseorang yang memiliki kontrol emosi buruk, riwayat trauma, atau tekanan hidup berat lebih berisiko melakukan kekerasan, terlepas dari peran keluarga apa pun yang ia jalani.
Dari sudut pandang anak, dampak kekerasan dalam rumah tangga sangat serius. Anak yang mengalami perlakuan kasar cenderung mengalami trauma, rasa takut berkepanjangan, kesulitan percaya pada orang lain, bahkan gangguan perkembangan kepribadian.
Dalam jangka panjang, mereka berisiko mengulang pola kekerasan yang sama ketika dewasa karena menganggap perilaku tersebut sebagai hal normal. Inilah mengapa kekerasan terhadap anak bukan sekadar masalah keluarga, melainkan masalah sosial yang harus ditangani bersama.
Sayangnya, banyak kasus tidak terungkap karena anak takut melapor atau tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Sebagian merasa tidak akan dipercaya, sementara yang lain diancam agar tetap diam. Lingkungan sekitar juga kadang kurang peka, menganggap konflik keluarga sebagai urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri. Padahal, kepedulian orang sekitar bisa menjadi penyelamat bagi anak yang menjadi korban.
Upaya pencegahan sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana: edukasi tentang pengasuhan, kesiapan mental sebelum menikah dengan pasangan yang sudah memiliki anak, serta komunikasi terbuka dalam keluarga.
Selain itu, peran sekolah, tetangga, dan masyarakat sangat penting dalam mengenali tanda-tanda kekerasan, seperti perubahan perilaku anak, luka yang mencurigakan, atau sikap ketakutan berlebihan di rumah.
Pada akhirnya, setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih, siapa pun orang tua yang merawatnya. Status keluarga tidak seharusnya menentukan kualitas kasih sayang. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama bahwa kekerasan terhadap anak bukan hal yang bisa ditoleransi, apalagi disembunyikan. Melindungi anak berarti menjaga masa depan, karena dari merekalah generasi berikutnya akan terbentuk.
Jika masyarakat lebih peduli, keluarga lebih siap secara emosional, dan lingkungan berani bertindak ketika melihat tanda bahaya, maka rumah bisa kembali menjadi tempat paling aman bagi anak seperti yang seharusnya.
Muhamad Rizky Pratama, mahasiswa Fakultas Hukum Unissula Semarang













