SEMARANG (SUARABARU.ID)– Sebanyak 372 peserta mengikuti babak penyisihan event Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) 10 Juz, yang digelar di Ruang Rapat dan Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kota Semarang, Sabtu (28/2/2026).
Lomba MHQ yang digelar Ponpes Tahfidz Alquran MAJT-Baznas ini, diikuti 372 peserta, yang telah mengikuti tahapan awal kompetisi dengan penuh kesungguhan. Mereka berasal dari Kota Semarang, Kudus, Grobogan, DKI Jakarta, Jatim, Jabar dan DI Yogyakarta. Peserta terjauh datang dari NTT dan Kalimantan.
Kegiatan ini secara resmi dibuka Ketua Panitia MHQ, Dr H Muh Syaifudin Lc MA. Dalam sambutannya dia menyampaikan apresiasi mendalam, kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu dan tenaga, untuk mengikuti ajang ini.
BACA JUGA: Kadisdikpora Kebumen Buka Diseminasi Pembelajaran Mendalam Bahasa Jawa
Dijelaskan dia, peserta yang berhasil melaju ke babak final, akan mendapatkan hadiah uang pembinaan dan sertifikat penghargaan.
Namun secara khusus dia menegaskan, sertifikat tidak hanya diberikan pada finalis, tetapi ke seluruh peserta yang mengikuti perlombaan. ”Kenapa semua peserta perlu diberi sertifikat? Karena pada hakikatnya semua peserta itu adalah juara,” tegasnya.
Babak penyisihan MHQ tahun ini melibatkan 22 hakim, yang melakukan pengujian secara daring melalui Zoom (online), yang diketuai Prof Dr Tholhatul Khoir. Setiap hakim menguji 18-20 peserta. Sistim penilaian dilakukan dengan metode undian, di mana peserta diminta memilih nomor amplop yang telah disiapkan panitia.
BACA JUGA: Arsenal dan Kerikil Terakhir
Masing-masing peserta kemudian mendapatkan tiga pertanyaan, untuk diuji kemampuan hafalan dan ketepatan bacaannya. Babak ini menjadi gerbang awal, untuk menyaring para penghafal Alquran terbaik, yang akan melangkah ke tahap berikutnya.
Dari 372 peserta MHQ, akan diambil 10 peserta terbaik yang masuk grand final pada Sabtu 7 Maret mendatang. Sebanyak 10 peserta grand final terdiri dari 5 peserta putri dan 5 putra.
Sementara itu, Prof Dr Tholhatul Khoir mengungkapkan, secara umum kualitas hafalan peserta cukup baik. Dari sisi hafalan, mayoritas peserta sudah menguasai materi 10 juz dengan baik.
BACA JUGA: Ini Tujuh Lokasi Ngabuburit dan Kuliner Laris di Kebumen
”Untuk tajwid dan makharijul huruf, rata-rata sudah terlatih, karena mereka santri tahfidz. Aspek keindahan bacaan atau lagu (nagham-red), masih menjadi pembeda,” terang dia.
Diakui dia, pelaksanaan secara online membawa tantangan tersendiri. Sejumlah peserta mengalami kendala teknis, mulai dari perangkat yang kurang siap, jaringan internet tidak stabil, hingga kesalahan pengoperasian aplikasi Zoom.
Akibatnya, beberapa peserta tidak dapat melanjutkan hingga akhir sesi, karena terputus saat menjawab pertanyaan.
Riyan













