Oleh: Ulul Abshor
JEPARA (SUARABARU.ID)- “Kanthi Marsudi kang tulus, Ngumbara ing telenging kalbu, Lelana nggolek rahayu, Nguntara nembus laku, pungkasanipun nggayuh Rodliyatan Mardliyyah”.
“Dengan usaha tulus, mengembara di kedalaman kalbu, berkelana mencari keselamatan, menembus batas laku, hingga akhirnya meraih keridaan agung”.
1. Marsudi (Akar Tekad)
Fase: “Mencari jati diri dalam kegelapan”
Gini, semua perjalanan besar itu pasti dimulai dari niat. seperti benih yang dikubur di tanah gelap—dia gak tahu apa yang bakal terjadi, tapi dia tetap pecah dan tumbuh.
Pointnya: Sebelum mulai apa pun, pastikan hatimu bener-bener niat. Bukan karena pengen pamer, bukan karena dipaksa, tapi karena kamu sendiri yang pengen berubah jadi lebih baik.
“Dari nol, dari gelap, dari kesunyian—itu tempat tekad paling kuat lahir.”
2. Ngumbara (Aliran Suci)
Fase: “Detoks hati dari drama dunia”
Setelah punya niat, saatnya bersih-bersih. Bayangin hatimu seperti sungai yang kotor karena banyak sampah (baca: iri, dengki, keserakahan, overthinking). Ngumbara itu seperti proses mencuci sungai tersebut—pelan tapi pasti, ngalirin air jernih buat gantiin yang keruh.
Pointnya: Proses ini butuh kesabaran. Gak bisa instan. kamu harus ngalirin “air” kebaikan terus-menerus sampe hatimu bersih lagi.
“Biarkan hati mengalir, bukan mengendap.”
3. Lelana (Jalan Hikmah)
Fase: “Life is a winding road, literally”
Nah, ini fase di mana kamu sadar: hidup itu gak lurus. Ada naik, turun, belok kanan, belok kiri. Yang namanya “lelana” itu jalan yang berliku. Tapi di setiap likungan itu ada pelajaran.
Pointnya: Jangan ngeluh kalo jalanmu berliku. Justru di situ kamu belajar. Setiap “kelokan” adalah guru yang ngajarin kamu sabar, ikhlas, atau lebih kuat.
“Jalan yang lurus memang cepat, tapi jalan yang berliku yang ngajarin kamu arti hidup.”
4. Nguntara (Cahaya Ilahi)
Fase: “Level up! Jiwa lo mulai terangkat”
Setelah bersih dan berpengalaman, jiwamu mulai “naik level”. Kayak dari mode gelap ke mode cahaya. Kamu mulai ngeliat dunia beda—gak cuma dari sisi fisik, tapi dari sisi spiritual. Kamu mulai ngerasain koneksi sama Sang Pencipta.
Pointnya: Ini fase di mana kamu gak lagi fokus hanya ke duniawi. Kamu mulai ngerti ada yang lebih besar dari diri lo sendiri.
“Kalo jiwa udah terang, dunia gelap pun tetap terlihat indah.”
5. Rodliyatan Mardliyah (Muara Ridha)
Fase: “End game, saling ridha sama Tuhan”
Ini puncaknya. Bukan soal dirimu jadi “suci banget” atau “pinter agama”. Tapi soal hubungan kamu sama Tuhan udah sampai level: saling ridha. Kamu ridha sama apa yang Tuhan kasih. Tuhan ridha sama apa yang kamu lakukan.
Pointnya: Ini keadaan paling tenang. Kamu gak lagi rebutan sama takdir. Kamu udah “klop” sama Sang Pencipta.
“Bukan soal kamu berhasil di dunia, tapi soal Tuhan senyum sama dirimu”.
Takeaway Buat dirimu
Bingung mau mulai dari mana,
Marsudi: Cukup niat dulu, yang lain nyusul,
Hati kotor pikiran negatif.
Ngumbara: Bersihin pelan-pelan, gak usah buru-buru,
Hidup berliku-liku.
Lelana: Nikmatin perjalanan, jangan cuma fokus tujuan,
Merasa jauh dari Tuhan
Nguntara: Naikin level spiritual dalam dirimu,
Capek dan pengen menyerah
Mardliyyah: Ingat, tujuan akhir itu ridha-Nya
Mardi Pancalaku itu bukan teori tinggi-tinggi. Itu cuma reminder: perjalanan spiritual dirimu dimulai dari niat sederhana (Marsudi) dan berakhir di hubungan yang klop sama Tuhan (Mardliyyah). Yang di tengah-tengah? Itu prosesnya. Nikmatin aja, gitu doang, gak ribet. Yang ribet itu konsisten ngejalaninnya.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju”. (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).
Jum’at, 27 Pebruari 2026/ 9 Ramadan 1447 H. @Ula – Loji Gunung Donoroso.
(Penulis adalah Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Jepara)













