
PADA 19 Februari 2026 lalu, ada penandatanganan agreement toward a NEW GOLDEN AGE of the U.S – Indonesian Alliance; dan tentang kosakata alliance itu ada kritik dari seorang mantan dubes.
Salah satu kritiknya, ialah tidak lazim kata alliance dipakai sebagai bentuk kerja sama; karena yang lazim ya partnership. Ikutan atas pemakaian kata alliance, kata beliau dan rupanya juga komentar sejumlah pihak, ialah: harus hati-hati karena alliance itu bermakna bersekutu. Ada yang bertanya: Kok bersekutu, sih?
Atas perdebatan tentang makna kata bersekutu, itulah saya cari-cari dalam babonnya kata-kata di bausastra Jawa. Ehhhh nemu kata sekuthu-sekuthon. Ketika saya lacak lebih lanjut apakah kata sekuthu dan sekuthon ini berasal dari kuthu, ternyata bukan.
Memang ada kata kuthu, tetapi digandeng dengan baru, lalu menjadi kata kuthu-baru dan artinya tangkebaning klambi ing dhadha nganggo benik. Jika Anda pernah memakai surjan, baju Jawa itu, di bagian dada ada semacam tambahan secuwil kain berkancing yang harus Anda kancingkan.
Nahhhh……itulah kuthu-baru yang berfungsi merapatkan pakaian surjan yang kelihatannya seolah-olah tanpa kancing itu. Ternyata kancingnya ada di kuthu-baru.
Sekuthu-sekuthon
Bausastra Jawa memberi makna sekuthu-sekuthon sangat singkat, yaitu wis sekaitan (sarujuk) sumedya ngraman, lsp. Terjemahan lurusnya, ialah sudah sepakat hendak menyerang.
Nahhh……………… di sinilah kita harus cermat memaknai, terutama dua hal sangat penting. Pertama, makna sekaitan atau sarujuk, sepakat itu; dan kedua makna ngraman, yang terjemahannya “menyerang,” itu.
Baca juga Wong-Wong Ampuh
Lagi-lagi saya melacak kata ngraman di kamus: akar katanya kraman, dan aduhhhhh…..tobil, artinya ternyata mbela sumedya ngrebut panguwasa, yaitu membela dengan maksud merebut kekuasaan.
Dalam berbagai pentas kethoprak, wayang orang, wayang kulit, atau pun drama, kisah ngraman selalu menjadi pemanas suasana dan emosi. Semakin pinter para pemain menjalankan ke-aktor-annya, emosi penoton semakin tersulut; lalu adegan perang dalam rangka merebut kekuasaan menjadi semakin menarik.
Penonton bukan saja tepuk tangan, tetapi secara emosional sering berpihak terutama kepada pemenang. Bisa histeris mereka itu mengikuti lakon dengan adegan-adegan ngraman seperti itu.
Namun, …………………….. hidup kita saat ini bukan dalam adegan ngraman seperti itu. Itulah mengapa kritik atas pemakaian kata alliance selayaknya dimaknai sebagai koreksi, dan tidaklah salah bila diadakan perbaikan atasnya. Dalam konteks berusaha meraih a new golden age kita memang sangat membutuhkan kerja sama dengan negara mana pun. Kerja sama itu bukan dalam arti bersekutu untuk ngraman, melainkan untuk saling menguntungkan dan memajukan masing-masing negara.
Burung pelatuk
Fred W Norman punya kisah kecil demikian: Seekor burung pelatuk mulai jenuh dengan ritme hidup yang begitu-begitu terus; maka ia melakukan terbang tinggi dan jauh selama beberapa hari.
Tibalah ia di sebuah hutan pinus. Dipilihnya pohon pinus tertinggi, lalu ia bertengger santai melepas lelah. Tiba-tiba pelatuk itu merasa lapar, dan berpikir, di batang-batang pohon di bawah sana, pasti saya akan dapat menemukan serangga atau makanan lain.
Baca juga Wong-Wong Mara-Sadu
Dia mulai mematuk-patuk batang pohon pinus mencari mangsa; dan tiba-tiba halilintar menyambar pohon pinus tertinggi itu. Porak porandalah pohon itu; burung pelatuk itu pun bulu-bulunya porak-poranda. Setelah berhenti rasa kagetnya dan juga merapikan bulu-bulunya, burung pelatuk itu bergumam bangga: “Sering, siapa pun tidak pernah menyadari apa yang bisa ia lakukan bagi hidup dan negerinya, sebelum ia pergi jauhhhh dari tempat tinggalnya?”
Sayangnya, Norman tidak melanjutkan kisah burung pelatuk itu. Rupanya, pada waktu itu, burung pelatuk itu belum terinspirasi untuk sekuthon dengan satwa lain di hutan pinus itu untuk ngraman halilintar.
JC Tukiman Tarunasayoga, pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran













