UNGARAN (SUARABARU.ID) – Lantaran tingginya intensitas curah hujan dan kondisi geografis yang rawan belakangan ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mengambil langkah preventif dengan menggelar sosialisasi mitigasi bencana.
Bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, kegiatan ini difokuskan pada pencegahan tanah longsor dan teknik Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD).
Acara yang dilaksanakan akhir Januari 2025 di RT 04 Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat ini, dihadiri oleh puluhan anggota PKK yang menjadi garda terdepan dalam keselamatan keluarga.
Sosialisasi ini merupakan respons nyata mahasiswa KKN UPGRIS terhadap potensi bencana di wilayah Ungaran Barat yang memiliki kemiringan lereng cukup curam.
Materi utama yang disampaikan oleh tim ahli dari BPBD Kabupaten Semarang mencakup identifikasi dini tanda-tanda longsor, seperti munculnya retakan di tanah hingga pohon yang mulai miring secara tidak wajar.
Dalam kesempatan tersebut warga masyarakat desa diajak untuk memahami cara menjaga ekosistem sekitar guna meminimalisir risiko pergeseran tanah.
Tak hanya teori, sesi kedua dilanjutkan dengan simulasi praktek PPGD. Ibu-ibu PKK dilatih melakukan tindakan medis dasar, termasuk teknik pemberian nafas buatan (CPR) dan penanganan luka terbuka.
“Korban ya korban, dan penolong jangan sampai menjadi korban,” P. Nugroho dari perwakilan BPBD Kabupaten Semarang.
Pesan ini menekankan prinsip utama keselamatan (safety first), yaitu penolong wajib memastikan situasi aman sebelum melakukan tindakan agar tidak memperburuk keadaan atau menambah jumlah korban.
Terpisah, Ketua PKK RT 04 Desa Keji, Sutriani, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, kehadiran BPBD secara resmi memberikan kepercayaan diri bagi warga dalam menghadapi situasi darurat.
“Terima kasih kepada mahasiswa KKN UPGRIS. Kegiatan ini sangat bermanfaat dan menjadi bekal bagi kami untuk mencegah serta menyikapi apabila terjadi bencana secara tenang dan terukur,” ungkapnya.
Dirinya menambahkan bahwa tujuan akhir dari program ini adalah terbentuknya Masyarakat Tangguh Bencana. Melalui edukasi ini, diharapkan warga tidak hanya waspada terhadap ancaman besar, tetapi juga peduli pada hal-hal kecil di lingkungan rumah yang bisa memicu dampak fatal.
Hery Priyono













