blank
Narasumber dan moderator di Forum Sambatan Roso akhir Januari 2026. Foto: Atril

JEPARA (SUARABARU.ID) – Forum Diskusi Sambatan Roso  yang diadakan  Sabtu malam, 31 Januari 2026 di Kandang Kadang, Kranjangan,   Troso, Pecangaan memperbincangkan tema “Algoritma Semesta”. Untuk membahas teema tersebut forum menghadirkan empat narasumber yaitu  Nur Hidayat (Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara), Veronica (pengusaha mebel), Wawan, dan Pendeta Danang Kristiawan. Peserta yang hadir malam itu didominasi oleh Gen Z.

Agung, sebagai moderator, memaparkan dipilihnya tema “Algoritma Semesta”. Ia  mengajak semua yang hadir untuk tidak sekadar ber-“teori langit” tapi juga turun ke bumi, menjadikan tema sebagai pintu masuk awal agar tidak lupa arah.

Menurut Agung, Algoritma Semesta sebagai sebuah kewajaran atau keniscayaan. Ia mengajak semua yang hadir untuk tidak hanya menyalah-nyalahkan, tetapi merenungkan apa yang bisa disumbangkan, serta sambatan atau gotong royong seperti apa yang bisa dilakukan.

blank
Peserta Forum Sambatan Roso yang membahas tema Algoritma Semesta. Foto: Atrill

Agung mengingatkan kembali tentang Sambatan Roso yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah/Simpul Maiyah di Jepara. Ia mengajak semua peserta untuk belajar dari apa yang telah dilakukan Sabrang MDP, yang masuk ke dalam sistem pemerintahan sebagai Staf Ahli Dewan Pertahanan Nasional.

Menurut Agung, Sabrang sedang menantang dirinya untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia dengan platform utamanya: Gotong Royong. Agung kemudian melontarkan pertanyaan reflektif, “Bagaimana dengan kita yang ada di Jepara? Apa yang sudah dan akan kita lakukan agar Jepara lebih baik?”

Danang Kristiawan  mengingatkan kembali tentang diri manusia yang sering kali merasa superior. “Ketika alam merugikan manusia, hal itu disebut bencana alam. Alam hanya dijadikan objek, bukan mitra atau sedulur,” ujar Danang yang mengajak peserta untuk melakukan instrospeksi atas semua bencana yang terjadi.

Senada dengan Danang, Veronica  mempertanyakan kembali konsep manusia sebagai makhluk mulia. “Predikat mulia bagi manusia justru sering kali menyesatkan manusia itu sendiri,” ujar Vero

Wawan turut menambahkan perlunya introspeksi diri. Ia mengingatkan bahwa dalam terminologi Jawa ada istilah Jagat Alit dan Jagat Ageng. Wawan mengatakan bahwa ketika manusia bisa menyelaraskan diri dengan alam dan tidak terbawa oleh nafsu diri, maka Jagat Alit dan Jagat Ageng akan menyatu dalam diri manusia itu sendiri.

Nur Hidayat menyambut positif forum diskusi seperti Sambatan Roso. Ia menceritakan pengalamannya sebelum masuk ke dalam birokrasi, bagaimana ia terlibat demonstrasi dan menyampaikan kritik ke pemerintahan era itu.

Ketika menjadi anggota dewan, Nur Hidayat tetap terus bergerak meski terkadang merasa kesepian. Forum-forum yang menggugah kesadaran memang harus terus dilakukan.

Forum terasa begitu hangat. Meski nampak ada perbedaan strategi antara Nur Hidayat yang berada di dalam pemerintahan dan jemaah yang hadir—yang hampir semuanya di luar pemerintahan—keduanya tidak saling hujat.

Justru tergambar suasana saling mendukung untuk bersama-sama mewujudkan Jepara lebih baik dengan mengembalikan semangat “Sambatan/Gotong Royong” sebagai gerakan utama kebersamaan.

Hadepe –  Atril