Terkait ini, Ngarso Dalem Hamengku Buwono (HB) X sebagai Raja Kasultanan Yogyakarta, mengutus Tim Labuhan yang dipimpin KRT Sindu Hadiningrat bersama KRT Wiroguno, disertai sekitar 70 orang Abdi Dalem. Semua mengenakan busana Kejawen versi Kasultanan Yogyakarta.
Disebutkan, labuhan ke Kahyangan ini merupakan rangkaian tata adat pengetan tingalan jumenengan dalem (peringatan naik tahta) Ke-38 Ngarso Dalem HB X. Yang itu dilaksanakan Senin Legi, Wuku Medangkungan, Tanggal 30 di hari terakhir Bulan Rejeb (Rajab) Tahun Dal 1959 (1447 H), yang bertepatan Tanggal 19 Januari 2026.
Upacara Hajat Dalem Labuhan Tahun Dal di Objek Wisata Religi Kahyangan ini, dipusatkan di Sela Payung. Letaknya di sisi dalam, yakni setelah melewati Sela Bethek dan menerobos lorong Sela Gapit. Ritual labuhan berlangsung khidmat, sesuai tata adat Keraton Kasultanan Yogyakarta, dipandu oleh Kuncen (Juru Kunci) Kahyangan bergelar Mas Bekel Surakso Warih Moyo yang telah diangkat menjadi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo melalui Kasi Humas Polres AKP Anom Prabowo, menyatakan, labuhan berjalan aman dan lancar. Mendapatkan pengamanan dari jajaran Polsek Tirtomoyo dan personel dari Koramil-07 beserta para pihak terkait. Polres Wonogiri, berkomitmen penuh dalam mengamankan setiap kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan adat dan budaya yang memiliki nilai historis dan spiritual.
Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto MM, menyatakan, Khayangan Dlepih Tirtomoyo, Wonogiri, merupakan petilasan (tempat) bertapa Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati. Kisah ini dimuat pada halaman 186-190, dalam Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa, Karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000).
Ratu Kidul
Kahyangan Dlepih, dipercaya sebagai tempat rendezvous (pertemuan) Panembahan Senapati dengan Ratu Kidul. Lokasinya di Batu Gilang tempat pasujudan Panembahan Senapati. Berada di dekat Kedung Pasiraman, di sisi sebelah atas Sela Payung. Dikisahkan, suatu saat pernah kamanungsan (dipergoki) manusia, yakni Nyi Puju. Kaget ada kedatangan manusia, serta merta Ratu Kidul bergegas enyah, yang tanpa sadar telah menarik putus tali tasbih Panembahan Senapati.
Dampaknya, menjadikan biji tasbih berhamburan ke perairan Kedung Pasiraman. Biji tasbih itu, berwujud batu akik bertuah keselamatan dan kewibawaan, juga dapat untuk menyembuhkan sakit dan penangkal bahaya. Jenisnya ada yang dinamakan Walirang Bang (berlubang di bagian tengahnya), Manik Tirta (warna putih bening), Nila Pakaja (kebiru-biruan), Manik Waringin (kehijau-hijauan), Manik Mlaka (ungu), Manik Bonglot (kehitam-hitaman).
Setelah bertapa di Kahyangan dan mendapatkan wahyu keraton serta memperoleh dukungan gaib dari Ratu Kidul, Panembahan Senapati selanjutnya sukses menjadi Raja dan tampil sebagai tokoh pendiri dinasti Mataram Islam di Tanah Jawa. KRA Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Surakarta, paham tentang sejarah Kahyangan, karena pernah menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wonogiri, dan pernah memandu Tim Keraton Yogyakarta yang mengadakan Labuhan Tahun Dal ke Kahyangan Dlepih.
Sebagai petilasan pertapaan Panembahan Senapati, Kahyangan Dlepih dikenal sebagai objek wisata religi yang sakral, wingit (angker). Pengunjung, hendaknya mematuhi aturan dengan berpantang memakai busana warna hijau. Datang dengan hati bersih dan niat suci, menghindari perkataan kotor, dan fokus untuk memohon anugerah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bagi yang mengabaikannya, resikonya ditanggung sendiri. Pernah ada pertapa yang ditemukan membusuk di dekat Sela Gapit di bawah Sela Payung. Berulang kali ada pengunjung yang tenggelam tewas di Kedung Pasiraman.(Bambang Pur)













