JEPARA (SUARABARU.ID) – Program Studi Desain Produk Fakultas Komunikasi dan Desain UNISNU Jepara menggelar diskusi strategis bertajuk “DESAIN TALK 2026” pada hari Sabtu 17 Januari 2026 untuk membedah urgensi peran desainer dalam memenangkan persaingan pasar global. Acara ini dihadiri oleh para praktisi industri mebel, akademisi, serta mahasiswa guna menyamakan visi terhadap masa depan industri furnitur nasional.
Acara di hadiri juga oleh Kepala Disperindag Kab.Jepara Anjar Jambore Widodo, Ketua KADIN Kab. Jepara Andang Wahyu Triyanto, SE. MM, Ketua HIMKI Jepara Raya Hidayat Hendra Sasmita, Ketua JIF-BW Jepara Muhammad Jamhari, Ketua APKJ Kab. Jepara Adrian Susanto, Ketua HIPMI Kab.Jepara Sandi Hartanto, Sekjen. HDMI Gege Noby Riohananto, dan Dosen Prodi Desain Produk.

Mengubah Wajah Industri dari “Produksi” ke “Inovasi”
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang 1 Dr. Miftah Arifin, S.H., M.H menekankan bahwa Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan kelimpahan sumber daya alam. Di tengah gempuran produk furnitur impor yang menawarkan harga kompetitif dan desain minimalis, peran desainer produk menjadi krusial sebagai problem solver.
Sedang Ketua Program Studi Desain Produk Dwi Agus Susila, M.Sn menyampaikan bahwa mahasiswa Desain Produk mempunyai kekuatan mengolah material baik dari kayu hingga bahan lainnya seperti rotan, tenun troso, kain batik, logam dan bahan lainnya dengan sentuhan desain yang adaptif terhadap tren hunian masa kini—seperti furnitur minimalis sampai berukir.
Kolaborasi Strategis: Desainer dan Pelaku Industri Kreatif Mebel dan Craft
Dalam sambutan dan pesan kepada peserta Ketua KADIN Kab. Jepara Andang Wahyu Triyanto, SE. MM, dan Ketua HIMKI Jepara Raya Hidayat Hendra Sasmita, bahwa salah satu poin krusial adalah sinergi antara kreativitas desainer dengan kemahiran teknis pengrajin lokal.
Harapannya Prodi Desain Produk dapat mendorong mahasiswa dan lulusannya untuk turun langsung ke sentra-sentra produksi untuk: Standardisasi Ergonomi: Memastikan setiap produk tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memenuhi standar kenyamanan internasional. Optimalisasi Material: Mengembangkan desain yang mampu meminimalisir sisa bahan (zero waste) tanpa mengurangi estetika. Adaptasi Teknologi: Mengintegrasikan teknik manufaktur modern dengan sentuhan hand-crafted yang menjadi nilai jual unik Indonesia.
Desain sebagai Identitas Nasional
Sementara itu Sekjen. HDMI Gege Noby Riohananto, dan Dosen Prodi Desain Produk dan Suskaryanto, M.Sn menyampaikan jika Desain Industri furnitur Indonesia kini diarahkan untuk memiliki branding yang kuat. Karena itu Desainer ditantang untuk mampu menerjemahkan kekayaan budaya nusantara ke dalam bentuk yang modern dan universal.
Hal ini dianggap sebagai kunci agar produk Indonesia memiliki nilai tambah (added value) yang tinggi, sehingga tidak lagi terjebak dalam perang harga di pasar komoditas. “Desainer adalah arsitek dari pengalaman pengguna di dalam rumah. Peran mereka adalah memastikan bahwa setiap inci furnitur yang diproduksi di Indonesia memiliki cerita, fungsi, dan daya saing yang tak tergantikan,” ujar Suskaryanto
Pada sesi penutup Suskaryanto, M.Sn sebagai pembicara dalam Desain TALK, bahwa melalui momentum ini, Prodi Desain Produk wajib berkomitmen untuk terus mencetak talenta yang tidak hanya mahir secara visual, tetapi juga memiliki kepekaan bisnis dan lingkungan demi kemajuan industri furnitur tanah air.
Hadepe -Dwi













