blank
Ilustrasi target produksi 2026. Foto: Dok/BPS Jateng

Oleh : Dina Nur Rahmawati

blank

KETAHANAN pangan bukan hanya isu di sektor pertanian, namun juga merupakan bagian penting dalam pembangunan. Ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-2 yaitu Zero Hunger atau tanpa kelaparan.

Selain itu, ketahanan pangan juga menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan peningkatan ketahanan pangan yang diukur melalui Indeks Ketahanan Pangan (IKP).

Angka ini dihitung menggunakan tiga aspek utama, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan. Tulisan ini mengulas aspek ketersediaan pangan dari sisi produksi yang berfokus pada komoditas padi dan jagung. Selain itu, juga membahas tantangan dalam peningkatan produksi padi dan jagung di Jawa Tengah, diantaranya fenomena alih fungsi lahan pertanian dan keterbatasan sumber daya manusia di sektor pertanian.

Produksi Padi dan Jagung

Provinsi Jawa Tengah adalah salah satu daerah penghasil padi dan jagung terbesar di Indonesia. Pada tahun 2025, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) diperkirakan mencapai 9,40 juta ton GKG atau setara 5,40 juta ton beras yang siap dikonsumsi oleh penduduk. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 5,70 persen dibanding tahun 2024. Dengan capaian ini, Jawa Tengah menyumbang 15,54 persen dari total produksi padi nasional, dan menjadi penghasil padi terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Selain padi, Jawa Tengah juga menjadi lumbung produksi jagung. Pada tahun 2025, jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK-14) diperkirakan mencapai 2,84 juta ton. Angka ini naik 16,92 persen dari tahun 2024. Dengan produksi ini, Jawa Tengah menyumbang 17,19 persen dari total jagung nasional dan merupakan penghasil jagung tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Timur.

Capaian produksi padi dan jagung yang tinggi ini mencerminkan posisi vital Provinsi Jawa Tengah dalam penyediaan pangan nasional, khususnya pada komoditas padi dan jagung. Meski demikian, prestasi ini belum terlepas dari berbagai tantangan di lapangan. Polemik tentang alih fungsi lahan pertanian dan kekurangan tenaga kerja di bidang pertanian menjadi masalah utama dalam menjaga ketahanan pangan di masa mendatang.

Alih Fungsi Lahan Pertanian

Sebagai salah satu wilayah produsen padi dan jagung terbesar, Jawa Tengah menghadapi tantangan yang tidak mudah. Salah satunya adalah alih fungsi lahan pertanian. Perubahan fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian ini diantaranya menjadi pemukiman penduduk, industri dan ekonomi, maupun infrastruktur.

Ancaman alih fungsi dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian ini berpeluang meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan urbanisasi. Pada tahun 2024, Kementerian ATR/BPN menyebutkan bahwa luas lahan baku sawah (LBS) di Jawa Tengah menurun tajam dari 1.049.661 hektare pada tahun 2019 menjadi 987.468 hektare pada tahun 2024.

Penurunan LBS yang terjadi di Jawa Tengah mencapai 5,92 persen, jauh lebih besar dibanding penurunan di level nasional sebesar 1,07 persen. Penurunan yang terjadi di Jawa Tengah ini juga menjadi yang terbesar dibanding di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Keterbatasan SDM di Sektor Pertanian

Selain soal alih fungsi lahan pertanian, tantangan selanjutnya dalam mewujudkan ketahanan pangan adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di sektor pertanian.