blank
Para narasumber tokoh agama dan siswa peserta dialog lintas agama di SMAN 1 Kebumen, Kamis 18/12.(Foto:SB/Hms SMAN 1 Kebumen)

KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Guna meningkatkan toleransi di kalangan siswa, SMAN 1 Kebumen menggelar kegiatan Talkshow Dialog Lintas Agama Kamis 18/12.

Kegiatan dengan tema,”Merajut Toleransi dalam Keberagaman” itu dihadiri para tokoh agama dari berbagai latar belakang. Dibuka oleh Kepala SMAN 1 Kebumen Nurul Hidayah SSi  MPd.

Tokoh agama Drs KH Mohammaad Dawamudin Masdar MAg yang juga  mantan Ketua FKUB Kebumen wakili agama Islam memaparkan landasan toleransi dalam Alquran dan eksistensi Piagam Madinah yang merupakan konstitusi Islam yang dibuat Nabi Muhamad.

Menurut Kiai Dawamudin, Piagam Madinah telah mengatur kehidupan bersama antara kaum Muslim, Yahudi, dan suku-suku lain sebagai satu “umat” (komunitas) yang beragam. Piagam tersebut juga menjamin kebebasan beragama, kesetaraan di mata hukum, serta menetapkan hak dan kewajiban untuk menciptakan perdamaian, keadilan, dan toleransi di kota Madinah.

blank
Para tokoh agama menjadi narasumber pada dialog lintas agama di SMAN 1 Kebumen, Kamis 18/12.(Foto:SB/Hms SMAN 1 Kebumen)

Selanjutnya Kiai Dawamudin menekankan pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari.”Toleransi bukan hanya tentang menghormati perbedaan, tapi juga tentang membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung,”ujar mantan Ketua PCNU Kebumen itu.

Sebelumnya Romo Antonius Saptono, mewakili Katolik menjelaskan sekilas sejarah dan doktrin Katolik dan persamaan perbedaan dengan Kristen lainnya.

Romo Saptono menambahkan bahwa toleransi adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang damai dan inklusif. “Kita harus belajar untuk menerima dan menghargai perbedaan, bukan untuk mengubahnya,”ujar Romo Antonius Saptono

Sedangkan Pendeta Teguh Hindarto SSos MTh mewakili Kristen selaku pembicara menjelaskan mengenai mengapa agama kerap berwajah ganda. Yaitu  terkadang menampilkan wajah kekerasan namun disatu sisi menampilkan wajah kesalehan.

Pdt Teguh menguraikan perspektif Kristiani mengenai toleransi, keadilan sosial, membela hak janda-yatim serta makna sesama manusia.

Menurut Pdt Teguh dialog antaragama dapat membantu kita memahami dan menghargai perbedaan, serta memperkuat hubungan satu sama lain.”Mengetahui perbedaan bukan untuk dibenturkan tapi dipahami dan mengetahui persamaan untuk membangun komunikasi,”ujar pria yang juga penulis dan peneliti sejarah sosial itu.

Romo Masrihudin dari Budha menjelaskan perihal lima sila Budhis. Yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong/berbicara salah, dan tidak mengonsumsi zat yang memabukkan (alkohol/narkoba).

Romo Mashrihudin menambahkan toleransi adalah tentang menghormati hak-hak asiatif manusia dan kebebasan beragama. “Kita harus menghormati perbedaan dan mempromosikan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari,”ujar  Mashrihudin.

Melalui Kegiatan tersebut penyelengaran berharap dapat meningkatkan sikap toleransi di kalangan siswa SMAN 1 Kebumen dan mempromosikan nilai-nilai toleransi di lingkungan sekolah.

Komper Wardopo