blank
Semarang 10K diikuti oleh sekira 3.000 pelari yang datang tidak hanya dari Kota Semarang dan luar daerah saja namun juga dari luar negeri, Minggu 14 Desember 2025. foto : istimewa

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Sebanyak 1.000 pelari dari 3.000 pelari yang mengikuti ajang lari marathon Semarang 10K berhasil finish dengan waktu dibawah satu jam, Minggu 14 Desember 2025.

Dengan hasil ini, Kota Semarang mencatatkan rekor pelari terbanyak jika dibandingkan dengan kota kota lain yang menyelenggarakan event lari marathon yang serupa.

“Sekira 1000 orang pelari finish dibawah satu jam, ini rekor tersendiri jika dibandingkan dengan kota lain. Dari 3.000 pendaftar yang lari ada sebanyak 2.935, yang 65 tidak bisa lari karena ada satu lain hal kondisi,” kata panitia penyelenggara Semarang 10K, Budhi Sarwiadi.

Budhi juga menyebutkan kalau sekitar 50 persen peserta berasal dari luar Kota Semarang dan sebagian besar sudah datang sejak Jumat, sehingga menginap minimal dua hari bersama keluarga. Hal ini memperkuat dampak ekonomi langsung bagi Kota Semarang.

BACA JUGA: Prediksi Cuaca Kabupaten Kudus, Minggu 14 Desember 2025: Berawan Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Hingga Sedang

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengapresiasi gelaran lari marathon Semarang 10K 2025 ini. Menurutnya, ajang lari bergengsi ini tidak hanya menghadirkan olah raga massal yang tertib dan aman, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi perekonomian dan pariwisata Kota Semarang.

Event lari yang digelar di kawasan Kota Lama tahun ini diikuti sekitar 3.000 peserta, dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. Bahkan, banyak warga yang belum mendapatkan kesempatan ikut karena keterbatasan kuota.

Agustina menyampaikan tingginya minat masyarakat tersebut menunjukkan bahwa warga Kota Semarang memiliki kebutuhan besar terhadap ruang-ruang aktivitas publik yang sehat, inklusif, dan membanggakan kota sendiri.

“Banyak yang menyampaikan ke saya tidak kebagian slot. Itu artinya event seperti ini memang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, saya sudah menyampaikan agar kapasitas bisa ditambah pada tahun depan,” katanya.

BACA JUGA: Ciptakan Wayang Wali,  Achmadi Terima Anugerah Pelestari Seni

Lebih dari sekadar ajang lari, Agustina menilai Semarang 10K menjadi penggerak sport tourism yang nyata. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sekitar separuh peserta berasal dari luar Kota Semarang.

“Mereka datang minimal dari malam sebelumnya, menginap, makan, belanja, dan menikmati suasana Kota Lama. Kalau hari ini belum sempat menjelajah, setidaknya mereka mendapat pengalaman tentang betapa indahnya Kota Lama di sore hari. Ini pergerakan ekonomi yang langsung dirasakan,” jelasnya.

Dampak tersebut dirasakan pelaku usaha lokal, mulai dari hotel, kuliner, transportasi, hingga UMKM di sekitar kawasan Kota Lama. Menurut Agustina, inilah contoh bagaimana event olah raga bisa menjadi instrumen pembangunan ekonomi kota yang berkelanjutan.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut Agustina, membuka diri untuk mendukung penyelenggaraan berbagai event serupa, baik lari jalan raya, trail run, maupun kegiatan olah raga lainnya, selama memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

“Event seperti ini bukan hanya soal lomba, tapi menggerakkan ekonomi. Kalau ada komunitas atau pihak yang ingin menggelar event di Kota Semarang, silakan hubungi Pemkot. Kami siap mendukung,” tegasnya.

Hery Priyono