JEPARA (SUARABARU.ID) – Achmadi lahir di Jepara 19 Juni 1952. Sejak muda kakek berusia 73 tahun yang kini tinggal di RT 01 RW 02 Desa Jinggotan ini sudah bergelut didunia seni dengan menulis naskah drama, cerpen, dan bahkan menjadi penulis tetap di majalah bahasa Jawa, Panjebar Semangat dalam Rubrik Cerkak (cerita cekak). Sejak kecil ia memang ingin menjadi seniman dan wartawan.

Namun perjalanan hidupnya mengantarkan Achmadi sebagai pegawai negeri. Namun semuanya tak memupuskan kreatifitas berkesenian Achmadi yang mengabdikan dirinya sebagai seorang guru dengan jabatan terakhir kepala sekolah SD Jinggotan

Tak mudah menembus seleksi redaksi media berbahasa Jawa terbesar ini. Namun berkat ketekunan dan kemampuannya, tulisan Achmadi mampu menarik perhatian redaksi hingga ia pun menjadi penulis tetap dengan honor yang lumayan besar.
Sepak terjangnya dan dedikasinya didunia Kesenian di Jepara sudah tidak diragukan lagi. Banyak penghargaan atas prestasinya salah satunya juara propinsi menulis cerpen bahasa Jawa tahun 1985, juara puisi tingkat kabupaten dalam rangka hari guru, penulis cerita cekak paling aktif di majalah Panyebar Semangat dan masih banyak lagi kiprah di dunia seni Jepara

Tidak hanya menulis beliau juga menekuni dunia pedalangan, dan sastra Jawa. Achmadi belajar seni pedalangan kepada almarhum Mbah Men, bapaknya Ketua Pepadi Jepara Ki Hendro Suryo Kartiko. Ia pernah berkolaborasi dengan Hendro Suryo Kartiko waktu masih jadi dalang cilik di balai desa Jinggotan. Waktu itu mas Gendro masih duduk dibangku SD.
Ia aktif di Permadani kabupaten Jepara generasi pertama. Juga senirupa. Banyak lukisan dan terakhir menciptakan karya wayang Wali, visual, naskah dan mementaskannya sendiri sebagai media dakwah. Karena saat ini, di usianya yang semakin senja Achmadi memilih konsen sebagai Dai dan mengembangkan seni religi. Apalagi Achmadi juga mengampu Pondok Pesantren Muhammadiyah Nurul Ilmi Bucu Jepara

Wayang Wali adalah wayang kulit yang cerita mengambil latar belakang fase kewalian, atau cerita babad ketoprak, seperti perjalanan Sunan Kalijaga dan cerita-cerita sejarah di era kewalian, dengan membuat wayang sesuai karakter penokohannya.
Achmadi mulai menggarap wayang Wali setelah pensiun dari PNS, dan saat merintis Pondok Pesantren Nurul Ilmi sebagai Ketua Yayasan Nurul Ilmi Bucu dan Ketua PCM Kec.Kembang

Terinspirasi ingin menunjukan bahwa Muhammadiyah juga terbuka dengan kesenian dan budaya khususnya budaya Jawa sebagai identitas bangsa. Ia ingin menepis stigma bahwa Muhammadiyah kering dari seni dan budaya.
Kini Darah seni Achmadi mengalir deras kepada dua anaknya, Didin Ardiansyah dan Hasan Elyanto. Keduanya lulusan I$I Yogyakarta. Ia juga memiliki 6 cucu. Cucu pertamanya sekarang kuliah di ISI Yogyakarta ngambil jurusan teater di Fakultas Pertunjukan.

Achmadi juga donatur dan sponsor utama dari Sanggar Seni Sekar Gandrung,dan secara khusus membina kelompok Seni Pemuda Muhamadiyah.
Hadepe













