blank
Ilustrasi.Foto: CD.com

BACALAH dahwen seperti Anda sedang mengucapkan kata panen, atau pun sedang ingat seseorang  bernama Marhen. Jadilah kalimatnya: Marhen sedang panen duren. Ketika ia sedang menikmati panen duriannya seraya duduk di atas amben, –semacam dipan tempat duduk atau tiduran  yang terbuat dari bambu, – ada saja tetangga yang dasar dahwen berkata: “Dimakan sendiri nih yeee??”

Contoh lain ada juga misalnya,  tukang servis elektronik yang saya undang ke rumah, dengan enaknya berkata: “Pesawat tv bapak sudah harus diganti nih, sudah ketinggalan zaman; juga almari esnya sudah sulit dingin. Ganti baru saja, Pak, lebih irit dibanding berulang-ulang servis.”  Itulah tukang servis dahwen.

Bahasa gaul saat ini, komentar diucapkan lebih singkat menjadi komen, agar orang merasa mirip-mirip bahasa Inggris.  Orang yang suka memberi komen(tar)  tentang apa pun dan siapa pun; ituah wong-wong dahwen. Jika komentarnya itu sebatas  mengatakan “bagus” atau sebaliknya “jelek,” tentulah belum masuk kategori dahwen. Namun, kalau  komentarnya sudah sampai ke tahap nyinyir seperti tukang servis tadi, itulah dahwen karena ia sudah mengintervensi bahkan memengaruhi.

Dahwen bermakna seneng nyruwe lan utawa cawe-cawe. Nah ……… ingat kan kata cawe-cawe yang pernah sangat nyaring terucapkan oleh khalayak di sekitar pemilu lalu? Suka cawe-cawe, suka nyruwe, yaitu  suka intervensi dan memengaruhi orang lain, itulah wong-wong dahwen. Dan ampun, jumlah orang dahwen itu ternyata banyak nian, lho. Di mana pun ada.

Suka komen(tar) identik dengan suka ngelokake, alok-alok dan arahnya sangat mungkin ke melihat kekurangan atau negatifnya. Sangatlah mungkin wong dahwen berkembang menjadi tukang nacat, orang-orang yang suka memberi catatan jelek kepada pihak lain. Mencibir? Bisa jadi juga.

Dahwen ati open

Mengapa ada saja (baca: banyak)  wong-wong dahwen? Pertama, wong dahwen pada umumnya dilakukan oleh mereka yang merasa lebih tahu, lebih kuasa, lebih berpengalaman, bahkan merasa paling mampu dalam segala hal.

Ada banyak cerita menantu kurang cocok dengan mertuanya karena ada saja mertua yang suka intervensi ngatur-ngatur dan sebagainya. Mertua seperti itu merasa betapa dirinya sudah tahu banyak tentang ngopeni anak dan rumah. Dahwen-lah dia lewat berbagai komen(tar) atau pun tindakannya.

Mertua tadi mengibaratkan juga mantan pejabat. Banyak mantan pejabat yang sindrom, merasa masih punya banyak bekas anak buah yang setia kepadanya; nah ……….. dahwen-lah dia.

Kesibukannya luarbiasa padahal penggangguran namun banyak acara: mengontak dia, minta diundang rapat di sana; atau mengundang orang-orang datang ke rumahnya. Tujuan utamanya hanya satu, yakni dahwen, yakni ngatur-ngatur strategi, intervensi; bahkan mungkin masih main perintah.

Belum Ikhlas

Kedua, wong-wong dahwen pada umumnya berjangkit pada diri orang yang durung iklas (belum Ikhlas) menerima dan menghayati kondisi terkini  kehidupannya. Semakin dia beranggapan betapa dulu dirinya adalah pejabat sukses, banyak dikagumi orang, merasa semua anak buahnya tunduk-taat-hormat kepadanya; semakin sulit ia iklhas menghadapi  tahapan kehidupannya yang sekarang. Dahwen-lah dia terhadap apa pun dan siapa pun.

Ketiga, akeh wong dahwen  karena ada udang di balik dahwen-nya. Itulah yang disebut dengan dahwen ati open (bacalah open seperti Anda mengucapkan: Pergi ke Kopeng naik oplet, lupa membawa dompet). Contoh tukang servis barang elektronik  tadi sangat pas membuktikan adanya udang dibalik nyinyirnya. Dia memanfaatkan kesempatan untuk promosi barang-barang yang dicacat tadi. Tegasnya, dahwen ati open bermakna mengintervensi karena ada maunya di balik kata-kata dan tindakannya itu.

Dahwen Gabungan

Mungkinkah dalam diri satu orang terkandung gabungan antara tiga “jenis” dahwen itu? Berdasarkan fakta lapangan, ternyata sangat mungkin dalam diri seseorang terkandung dahwen dalam arti sok  paling  tahu dan sok  masih main kuasa, karena itu belum ikhlas betapa dirinya sekarang tidak seperti dulu lagi, serta apa saja yang ia intervensikan semuanya  bermuatan udang di balik batu.

Itulah dahwen gabungan dan menariknya,  jumlah “pengikut  aliran ini” semakin banyak. Buktinya? Dari berbagai OTT KPK, jumlah orang yang terkena OTT  bukan perseorangan lagi, melainkan grup orang. Sebelum kena OTT, rupanya cara kerja grup ini menempuh strategi dahwen gabungan di kantornya.

Kalau contoh dari mereka yang sudah pensiun, adakah? Ada pasti,  bahkan strategi dahwen gabungannya bisa lebih luas karena menyangkut orang-orang yang masih aktif dan orang-orang yang sudah seharusnya pasif.  Aktif dan pasif bergabung. Menarik fenomena ini untuk dilanjutkan ke tema lainnya.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng