JEPARA (SUARABARU.ID) – Berdasar data Asesmen Nasional tahun 2024, lebih dari 50% siswa jenjang dasar belum mencapai kompetensi minimum literasi. Sementara penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), baru optimal di sebagian kecil sekolah. Mayoritas sekolah masih mengandalkan metode tradisional.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo dalam sambutannya yang disampaikan Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-80 PGRI Tingkat Kabupaten Jepara yang berlangsung di lapangan Desa Gelang, Kecamatan Keling Jepara. Selasa 25 November 2025. Hadir dalam upacara ini jajaran Forkopimda, sejumlah kepala OPD, jajaran pengurus PGRI Kabupaten dan Kecamatan, para pengawas, penilik, kepala sekolah, guru dan siswa.

Dalam upacara peringatan Hari Guru dan HUT ke-80 PGRI ini juga disemarakkan dengan sejumlah persembahan. Ada lagu Terima Kasih Guru yang dinyanyikan oleh Jois Shalom Antonius dari SDN 4 Ngeling, dan Marching Band Gita Suara dari SMPN 1 Keling yang membawakan lagu Selamat Ulang Tahun.
Selanjutnya Bupati Jepara mengingatkan, tantangan terbesar dalam kedua isu ini adalah kesiapan guru, sekaligus mempertegas bahwa peran guru sebagai motor transformasi pembelajaran tidak dapat ditunda. “Karena itu guru memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan,” ujar M. Ibnu Hajar
Ia juga mengungkapkan, Kemendikdasmen dan lembaga riset pendidikan juga melaporkan tren yang mengkhawatirkan. “Kasus kekerasan dan perundungan atau bullying di sekolah naik lebih dari 100 persen dari 2023 ke 2024, tepatnya dari 285 kasus menjadi 573 kasus yang dilaporkan. Dari angka itu, 31%-nya adalah perundungan langsung, baik verbal, sosial, maupun fisik,” urainya

Karena itu ia mengajak guru untuk bersama-sama berusaha menjauhkan Jepara dari kasus ini. “Guru adalah figur yang paling mampu mendeteksi perubahan perilaku, mengidentifikasi anak yang tertekan, dan memberi perlindungan pertama sebelum semuanya terlambat,” tegasnya.

Disamping itu diungkapkan, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ada fenomena baru yang harus kita waspadai, yakni rekrutmen anak dan remaja oleh jaringan ekstremisme. “Perekrutan dilakukan melalui game online, ruang obrolan tertutup, dan media sosial. Ini adalah ancaman global yang mulai menyasar anak usia sekolah. Dengan situasi ini, guru harus paham bahwa anak-anak yang aktif di ruang digital tanpa pendampingan, menjadi kelompok paling rentan. “Karena itulah, peran Bapak dan Ibu Guru sangat penting. Selain sebagai pengajar, guru adalah penjaga benteng literasi digital, pembimbing moral, dan mitra orang tua dalam menjaga ketahanan anak di dunia maya,” urainya lebih lanjut
Namun ia juga mengungkapkan, sebenarnya ada peluang besar dari perkembangan teknologi. “Laporan progres teknologi menunjukkan, 65% pekerjaan masa depan akan melibatkan kemampuan komputasional, termasuk pemrograman dasar. Dan pembelajaran berbasis AI mengalami pertumbuhan penggunaan lebih dari 200% di sekolah-sekolah Indonesia dalam dua tahun terakhir,” tambahnya

Menurut Bupati Jepara, penggunaan itu di antaranya untuk administrasi, evaluasi, maupun pendampingan belajar. Karena itu silakan para guru menyiapkan diri agar memiliki kompetensi untuk memanfaatkan teknologi digital dan AI dalam pembelajaran. “Kita jangan tertinggal. Coding dan kecerdasan buatan harus menjadi bagian dari ekosistem belajar, bukan untuk pengganti guru, tetapi untuk memperkuat efektivitas kerja kita,” pintanya
Lebih lauh ia menyatakan, data-data di atas memberikan gambaran jelas kepada kita. Ada tantangan besar pada kemampuan dasar siswa. “Ada ancaman serius terkait kekerasan dan keamanan digital. Dan ada peluang besar dari inovasi pembelajaran dan teknologi AI. Semua kembali pada satu tokoh kunci, yakni guru. Guru adalah penentu arah pendidikan. Guru adalah penjaga masa depan,” tegasnya
Pada akhir sambutannya Bupati Witiarso mengajak seluruh guru di Jepara untuk memperkuat pembelajaran bermakna yang menumbuhkan kemampuan berpikir mendalam. “Kita juga perlu memastikan sekolah kita, bebas dari perundungan. Jadikan sebagai lingkungan yang aman, ramah, dan penuh kasih. Selanjutnya, saya minta kepada para guru untuk meningkatkan literasi digital dan kewaspadaan terhadap radikalisme yang menyasar anak,” pungkasnya
Indria Mustika













