JEPARA (SUARABARU.ID) – Jika anak-anak kita tidak lagi memiliki minat, perhatian dan rasa cinta terhadap seni ukir, maka dikhawatirkan pada suatu saat nanti Jepara akan kehilangan pengukir yang selama ini telah memberikan sumbangan bagi perekonomian daerah. Sementara seni ukir hanya akan dikenang sebagai memori kolektif masyarakat Jepara.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara, Rumini saat berbicara dalam forum Dialog Obrolan Seputar Situasi Jepara (Obsesi) yang digelar di Radio R-Lisa FM, Kamis (13/11-2025).
Dialog yang dipandu oleh Dinda Kirani ini juga menghadirkan narasumber Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto, sekretaris Paguyuban Pengukir R.A. Kartini, Maryati dan bendahara Arsitiningsih.

Karena itu juara lomba ukir perempuan tahun 2024 dan penerima Kartini Awards kategori Perempuan Pelestari Ukir ini berharap, agar penanaman rasa cinta dan perhatian terhadap seni ukir dilakukan sejak dini, saat anak berada di tingkat PAUD, SD dan SMP. “Pelestarian alamiah melalui keluarga pengukir semakin menurun, sehingga perlu optimalisasi pelestarian seni ukir melalui lembaga pendidikan,” urai Rumini.
Sementara Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto mengungkapkan jumlah guru yang memiliki kompetensi mengajar ukir di jenjang SD dan SMP. “Berdasarkan informasi, tidak lebih dari 25 orang,” ungkap Hadi. Kalaupun pernah ada yang dilatih selama 2 hari, mereka kemudian tidak maksimal mengembangkan kompetensinya, karena tidak memiliki sarana dan prasarana untuk untuk mengajarkan seni ukir di sekolah, tambahnya.
Lain halnya dengan Maryati, Sekretaris Paguyuban Pengukir R.A. Kartini Jepara ini menganggap forum lomba dan pelatihan ukir bagi anak-anak justru efektif untuk menumbuhkan minat, kecintaan dan ketrampilan siswa. Disamping itu peningkatan penghasilan pengukir juga penting agar dapat meningkat kesejahteraanya
Sedangkan Arsitiningsih, bendahara pagayuban mengungkapkan dukungan keluarga dalam pelestarian seni ukir sangat penting. Menurut Arsiti, dengan menjadi pengukir yang bekerja di rumah ia masih dapat menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga. “Karena itu saya mengajak pengukir perempuan yang telah meninggalkan dunia ukir untuk bersedia kembali melestarikan budaya leluhurnya,” pungkas Arsitiningsih.
Hadepe













