blank
Sosialisasi program Sekolah Online Orang Dewasa (SOOD) yang dilakukan Disdikpora Kabupaten Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Program Sekolah Online Orang Dewasa (SOOD) yang baru diluncurkan Pemkab Wonosobo mendapat sorotan jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.

blank
Sosialisasi program Sekolah Online Orang Dewasa (SOOD) yang dilakukan Disdikpora Kabupaten Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

Ketua Komisi D DPRD Wonosobo Suwondo Yudhistiro, Rabu (5/11/2025), mengingatkan agar pelaksanaannya tidak hanya berorientasi pada ijazah tapi proses belajar mengajar yang berbasis life skill atau ketrampilan hidup.

“Program SOOD ini memang patut diapresiasi karena membuka akses pendidikan alternatif bagi warga usia 25 tahun ke atas. Cuma harus berorientasi pada life skill bukan sekadar mendapatkan selembar ijazah,” tegasnya.

Menurutnya, SOOD ini merupakan bagian dari upaya merespons perkembangan teknologi informasi dan memberi ruang bagi orang-orang yang terbatas waktu. Tapi jangan sepenuhnya daring, perlu ada perpaduan dengan tatap muka.

“Sistem pendidikan SOOD harus didorong ke penguasaan life skill. Kalau hanya mengejar angka rata-rata lama sekolah, jatuhnya bisa hanya pada pemenuhan kepentingan formalitas saja,” tambahnya.

Meski begitu, Suwondo tidak menolak keberadaan program SOOD. Dia menilai masyarakat tetap berhak mendapatkan pendidikan layak, apalagi jika dibutuhkan untuk syarat kerja atau administrasi.

“Boleh-boleh saja, itu hak masyarakat. Tapi prioritas tetap pada anak-anak usia sekolah yang masih belum terlayani. Jadi mereka yang tidak sekolah atau putus sekolah di jenjang SMA/SMK/MA bisa mengikuti program ini,” tandasnya.

Banyak yang Minat

blank
Ketua Komisi DPRD Kabupaten Wonosobo, Suwondo Yudhistiro. Foto : SB/Muharno Zarka

Di sisi lain, antusiasme masyarakat mengikuti program ini cukup tinggi. Data Disdikpora Kabupaten Wonosobo saat ini telah tercatat sebanyak 1.375 warga sudah mendaftar untuk mengikuti program SOOD.

Kepala Disdikpora Kabupaten Wonosobo Mustofa menyebut program ini dikhususkan untuk warga berusia 25 tahun ke atas yang belum menempuh pendidikan setingkat SMA/SMK/MA. Proses penjaringan peserta didik memang tidak mudah.

“Awalnya pendataan lambat, jadi waktu diperpanjang agar semua desa bisa menjaring warga. Targetnya minimal 20 peserta per desa. Pendataan dilakukan dari desa, diteruskan ke kecamatan, lalu dikirim ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),” jelasnya.

Syaratnya cukup ijazah SMP/sederajat yang dilegalisasi serta kartu keluarga. Setelah data masuk, peserta langsung bisa ikut pembelajaran.

SOOD hanya membuka Paket C (setingkat SMA). Pembelajaran dilakukan terpusat via Zoom 1–2 kali sepekan.
Desa menyiapkan fasilitas berupa LCD dan internet agar peserta bisa belajar bersama.

Materi yang diberikan tetap kurikulum formal, namun dikombinasikan dengan konten sesuai kebutuhan orang dewasa. Program ini gratis, dengan biaya operasional pengajar hingga operator difasilitasi Pemkab Wonosobo.

Lulusan akan memperoleh ijazah kesetaraan resmi yang bisa dipakai untuk melamar kerja, menjadi perangkat desa, maupun melanjutkan pendidikan.

Muharno Zarka