blank

SUKABUMI –  SUARABARU.ID: Kelompok mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang menamakan diri mereka “Tunapren” dari Sekolah Vokasi IPB University melaksanakan kegiatan pengabdian bertajuk “Penguatan Jiwa Wirausaha melalui Metode Therapeutic Learning Classroom (TLCs) pada Anak Tunagrahita di SLB PGRI Cisaat untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Program ini telah berjalan sejak Minggu, 20 Juli, dan masih berlangsung hingga kini.
Kegiatan ini melibatkan siswa tunagrahita beserta guru pendamping di SLB PGRI Cisaat, Sukabumi. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan pada anak-anak berkebutuhan khusus melalui metode Therapeutic Learning Classroom (TLCs) yang memanfaatkan media aquascape sebagai sarana belajar.
Metode TLCs mengombinasikan pembelajaran keterampilan praktis dengan pendekatan terapeutik, sehingga anak tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga dilatih untuk mandiri, percaya diri, dan mampu bekerja dalam kelompok. Media aquascape—seni menata tanaman air, batu, kayu, dan ikan hias di dalam akuarium dipilih karena mudah dipahami, menyenangkan, sekaligus mampu mengasah motorik halus dan membuka peluang usaha yang berkelanjutan.
Dalam pelatihan, siswa diperkenalkan pada berbagai tahap pembuatan aquascape, mulai dari pemilihan wadah, penyusunan elemen dekoratif, penanaman tanaman air, hingga perawatan ikan hias. Antusiasme peserta terlihat jelas, terutama ketika mereka menyaksikan hasil karya yang indah dan bernilai jual. Selain keterampilan teknis, tim PKM-PM Tunapren juga membimbing siswa menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual agar mereka memahami dasar-dasar kewirausahaan.
Kepala SLB PGRI Cisaat, Bapak Sudinta Ghandi, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program ini. Ia menilai bahwa kegiatan semacam ini memberikan pengalaman belajar nyata yang sangat dibutuhkan oleh siswa. “Anak-anak belajar tidak hanya teori, tapi juga praktik yang menumbuhkan kemandirian dan kemampuan bersosialisasi bekal penting untuk masa depan mereka,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Abuzar, siswa kelas X SMA, mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan, “Kami jadi tahu lebih banyak tentang ikan hias dan tanaman air. Terima kasih karena kami dibagi dalam kelompok, jadi bisa belajar kerja sama juga.” Sementara itu, orang tua siswa, Ella Yuliana, turut berterima kasih atas kegiatan ini karena menurutnya anak-anak mampu menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Tim Tunapren juga melibatkan guru pendamping selama program berlangsung agar penerapan metode TLCs dapat terus dijalankan setelah kegiatan berakhir. Harapannya, sekolah dapat menjadikan aquascape sebagai kegiatan keterampilan rutin, bahkan mengembangkan produk tersebut sebagai ciri khas sekolah yang dapat dipasarkan ke masyarakat.
Program PKM-PM Tunapren menunjukkan bahwa dengan metode pembelajaran yang sesuai, anak-anak tunagrahita mampu berkreasi dan berwirausaha secara mandiri. Melalui pendekatan terapeutik dan media kreatif seperti aquascape, mereka dapat meningkatkan kualitas hidup dengan keterampilan yang bernilai praktis dan ekonomis. Selain memberi manfaat bagi siswa, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa IPB University dalam memperluas inklusi sosial bagi penyandang disabilitas. Ke depan, diharapkan program serupa dapat diterapkan di lebih banyak sekolah agar semakin banyak anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan ruang untuk berkembang dan berdaya.