blank
Wahidin saat memberikan pandangannya, dalam kegiatan Pisma FK Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Foto: dok/ist

SEMARANAG (SUARABARU.ID)– Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Wahidin Hasan mengatakan, seorang dokter Muhammadiyah harus mampu memadukan profesionalitas, intelektualitas, dan spiritualitas, sebagaimana dicontohkan para tokoh besar Islam sepanjang sejarah.

Dia juga mengajak para calon dokter, untuk meneladani semangat Islam Berkemajuan, yang menjadi dasar perjuangan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.

Hal itu seperti yang disampaikannya, dalam kegiatan Pesantren Insan Utama Mahasiswa (Pisma) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (FK Unimus), yang digelar di Gedung Soekarno BPSDMD, Srondol, Banyumanik, Semarang, belum lama ini.

BACA JUGA:Bapas Klaten Dukung Proses Diversi, Tekankan Pendekatan Perlindungan Anak

Kegiatan Pisma merupakan program pembinaan spiritual dan karakter bagi mahasiswa kedokteran Muhammadiyah. Kegiatan ini bertujuan membentuk calon dokter yang unggul dalam bidang akademik dan profesional, sekaligus memiliki kepekaan sosial serta kesadaran keagamaan yang tinggi.

Dalam paparannya, Wahidin menjelaskan, didirikannya Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan, merupakan respons terhadap tiga persoalan besar umat Islam pribumi, pada masa kolonial.

Menurut dia, Islam itu memerdekakan, mencerahkan, dan memajukan kehidupan umat. Maka calon dokter Muhammadiyah harus memahami profesinya, sebagai bagian dari jihad kemanusiaan dan dakwah sosial.

BACA JUGA: Pembahasan Laporan Pendahuluan dan Studi Kelayakan Museum  Ukir Jepara

Wahidin juga mengajak para mahasiswa untuk menelusuri jejak Ibnu Sina, tokoh kedokteran Islam abad ke-11, yang di dunia Barat dikenal sebagai Avicenna, dengan karya monumental dalam kitab klasik, Al-Qanun fi Al-Tibb, atau The Canon of Medicine. Kitab klasik itu kini menjadi buku induk dunia kedokteran.

”Ibnu Sina bukan hanya dokter berintelektualitas tinggi, tapi juga sosok spiritual yang multitalenta. Dia seorang tabib, hafidz Quran, ahli kimia, ahli matematika, menguasai astronomi, dan hafal puluhan ribu hadits,” tutur Wahidin.

Karena itu dia menekankan, dokter Muhammadiyah yang ideal yakni, mereka yang mampu memadukan spiritualitas dan profesionalitas, serta menjadikan ilmu kedokterannya sebagai jalan ibadah dan dakwah kemanusiaan.

”Jadilah dokter Muhammadiyah yang bukan hanya menyembuhkan jasmani, tetapi juga membersihkan jiwa. Seperti Ibnu Sina dan Ahmad Dahlan, gunakan ilmu untuk menebar rahmat dan kemaslahatan semesta,” tukas dia.

Riyan