KUDUS (SUARABARU.ID) – Gelaran PON Bela Diri Kudus 2025 yang berlangsung di Djarum Arena Kaliputu, 11–26 Oktober 2025, membawa dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Ajang olahraga nasional yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dari 38 provinsi ini tidak hanya menjadi pesta olahraga, tetapi juga penggerak sektor ekonomi lokal di Kabupaten Kudus.
Didukung penuh oleh Djarum Foundation, ajang ini mempertandingkan 10 cabang olahraga bela diri dengan melibatkan 2.645 atlet dari seluruh Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk official, pengurus KONI, serta perwakilan dari induk organisasi olahraga provinsi yang turut hadir di Kudus.
Djarum Arena Kaliputu, yang sebelumnya dikenal sebagai GOR Bulutangkis, kini disulap menjadi arena pertandingan modern berkelas nasional. Setiap hari, arena ini dipadati atlet dan ofisial yang bertanding, menciptakan suasana semarak dan menggairahkan perekonomian sekitar.
Bupati: Momentum Sport Tourism
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyambut hangat para peserta dan ofisial yang datang ke Kota Kretek. Ia menilai, PON Bela Diri 2025 menjadi bukti kesiapan Kudus sebagai tuan rumah sekaligus bagian dari pengembangan sport tourism nasional.
“Kami menyambut dengan hangat seluruh atlet, pelatih, dan ofisial dari 38 provinsi di Indonesia. Kehadiran para pejuang olahraga di Kudus menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Melalui ajang ini, kami ingin menunjukkan bahwa Kudus siap menjadi bagian penting dalam pengembangan sport tourism di Indonesia,” ujar Bupati Sam’ani.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa perhelatan ini memberi multiplier effect bagi perekonomian masyarakat.
“Hotel-hotel penuh terisi, pedagang kuliner ramai, serta sektor transportasi ikut bergerak. Ajang ini benar-benar menghidupkan ekonomi lokal,” imbuhnya.
Hotel Penuh, Kontingen Menginap hingga ke Pati dan Jepara
Tingginya antusiasme peserta PON Bela Diri 2025 di Kudus rupanya menimbulkan tantangan tersendiri dalam hal akomodasi. Berdasarkan data BPS 2024, Kabupaten Kudus hanya memiliki 8 hotel berbintang dan 26 hotel melati dengan total 1.075 kamar dan 1.576 tempat tidur.
Keterbatasan tersebut membuat sejumlah kontingen terpaksa mencari penginapan di luar daerah.
“Kami harus memesan kamar jauh-jauh hari. Beberapa kontingen bahkan menginap di hotel yang ada di Pati dan Jepara karena hotel di Kudus sudah penuh,” ungkap Hatunggal Siregar, Ketua KONI Sumut.
Selain hotel, sebagian peserta juga memilih untuk menyewa rumah warga atau homestay demi menghemat biaya sekaligus merasakan suasana lokal Kudus.
UMKM Perlu Lebih Didorong
Ketua PHRI Kudus, Muhammad Kirom, membenarkan bahwa okupansi hotel di Kudus selama ajang PON Bela Diri mencapai 100 persen.
“Kami sangat bersyukur. Ajang ini menggerakkan ekonomi di sektor perhotelan dan restoran secara signifikan,” ujarnya.
Meski demikian, sektor UMKM belum sepenuhnya memanfaatkan momentum besar ini. Di sekitar venue belum banyak stand UMKM yang menjual merchandise atau produk khas Kudus. Kalaupun toh ada, hanya ada penjual kaos even dan itu pun dilakukan oleh pedagang dari luar daerah.
Padahal ini bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan hasil kerajinan lokal kepada para tamu dari berbagai daerah.
Pun juga dengan sektor pariwisata, belum banyak pelaku wisata di Kudus yang memanfaatkan ajang nasional ini untuk meningkatkan kunjungan di destinasi yang ada.
Dengan beragam dampak positif tersebut, PON Bela Diri Kudus 2025 semestinya bukan hanya pesta olahraga, tetapi juga harus ditangkap sebagai momentum penting bagi kebangkitan ekonomi daerah dan pengembangan sport tourism di Kudus.
Ali Bustomi













