SEMARANG (SUARABARU.ID)– Rektor Soegijapranata Catholic University (SCU), Semarang, Ir R Setiawan Aji Nugroho ST MCompIT PhD, dalam Rapat Senat Terbuka mengukuhkan Prof Dr Christin Wibhowo SPsi MSi Psikolog, sebagai Guru Besar Fakultas Psikologi Bidang Gangguan Kepribadian Ambang.
Upacara pengukuhan dilakukan di Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas Lantai 3, kampus SCU, Rabu (1/10/2025). Dengan dikukuhkannya Prof Christin ini, SCU kini memiliki sembilan Guru Besar dalam empat tahun terakhir ini.
Menurut Aji, sapaan akrab Rektor SCU ini, selain memiliki sembilan Guru Besar, pihaknya juga masih ada enam Gubes yang melalui program Existing. Dalam waktu dekat, SCU juga akan kembali mengukuhkan sejumlah Guru Besar.
BACA JUGA: Bhakti Sosial DWP RSUD R.A. Kartini di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia
”Hari ini kami mengukuhkan seorang alumni dari Fakultas Psikologi. Pengukuhan ini sangat istimewa, karena Prof Christin merupakan alumni SCU. Meski sebenarnya sudah banyak alumni dari SCU yang berkarya di luar kampus, juga sudah menjadi Guru Besar,” kata Rektor, saat sesi konferensi pers, usai acara.
Sementara itu, saat ditemui sejumlah awak media, Prof Christin yang dalam orasi ilmiahnya membawakan materi ‘Dari Kepribadian Ambang Menuju Kepribadian yang Berkembang: Sebuah Transformasi Ilmiah dan Kemanusiaan’ ini menyatakan, banyak perilaku masyarakat yang menggambarkan kegalauan atau kekacauan dalam kehidupan.
Dipaparkan dia, perilaku galau itu antara lain penyalahgunaan narkoba, kawin-cerai, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan perilaku menyakiti diri sendiri/mengakhiri hidupnya.
BACA JUGA: Batik Wonogiren, Layaknya Keris Sumur Bandung dan Pamengkang Jagad
”Kita sebaiknya tidak mengabaikan perilaku-perilaku itu, karena itu bisa saja merupakan tanda-tanda adanya gangguan kepribadian ambang (Kembang-red) atau Borderline Personality Disorder (BPD),” jelas dia saat ditanya awak media.
Diungkapkannya, seseorang dengan kepribadian Kembang memiliki ciri antara lain, pola hubungan interpersonalnya tidak stabil, keinginan melukai diri sendiri, ketidakstabilan suasana hati, perasaan hampa yang kronis, dan kemarahan yang tidak pada tempatnya.
”Untuk memahami Kembang ini, maka digunakan metafora kembang juga. Kembang pasti membutuhkan tanah, akar, batang yang sehat, hujan, sinar matahari dan angin yang cukup untuk dapat berkembang dengan baik,” tuturnya.
BACA JUGA: Siswa SRMA 35 Wonosobo Belajar Bertani di Kebun Belajar Tani Milik Dispaperkan
Dari beberapa kelemahannya, orang dengan kepribadian Kembang memiliki kelebihan. Dengan kepribadiannya yang sensitif dan takut ditinggalkan, dia akan menjadi individu yang memiliki empati, serta pemahaman yang baik tentang perasaan orang lain.
Inilah yang kemudian disebut sebagai sebuah transformasi, yaitu perubahan dari pribadi yang rapuh dan terluka, menjadi pribadi yang menemukan kembali kekuatan dirinya.
”Dari Kembang si kepribadian Ambang, menjadi kepribadian yang berkembang. Dari Borderline Personality Disorder, menuju Bloomed Personality Discovered,” tandas Xtine, sapaan akrab Prof Christin yang aktif di media sosial Instagram dan TikTok.
Riyan













