blank
Komunitas Seni dan Budaya Khoja Semarang (Khojas) tampil dalam Pentas Budaya bertema Khoja Folklore dalam Festival Kota Semarang 2025, pada Jumat, 12 September 2025. (Foto: Diaz A Abidin)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Komunitas Seni dan Budaya Khoja Semarang (Khojas) terbentuk pada 2020, oleh masyarakat keturunan Khoja, Gujarat, India. Melalui sejumlah pentas kebudayaan di tengah ruang publik, mereka ingin mengenalkan budaya leluhur yang juga telah banyak berakulturasi dengan masyarakat lintas etnis di Kota Semarang.

Ketua Khojas Semarang, M Soleh MD, mengatakan, masyarakat keturunan Khoja memiliki sejarah yang panjang saat masuk ke nusantara. Leluhur mereka diperkirakan datang ke nusantara untuk berdgang dan berdakwah pada sekira abad ke-16 dan 17.

Di Kota Semarang, khususnya, masyarakat Khoja telah berbaur dengan penduduk lokal. Bahkan banyak juga yag menikah lintas etnis, baik dengan orang Jawa, Tionghoa, Arab, dan lainnya. Orang-orang Khoja di Indonesia memiliki beragam profesi, baik pedagang, pengusaha, seniman, jurnalis, pegawai negeri, hingga politisi.

Meskipun berabad-abad telah hidup berdampingan dengan masyarakat nusantara, budaya-budaya leluhur terus eksis diwariskan lintas generasi. Khususnya kuliner khas Khoja yang diterima dengan baik dengan lidah masyarakat di Kota Semarang khususnya. Di antaranya seperti nasi kebuli, kemudian bubur India yang disediakan saat buka puasa di Masjid Jami Pekojan.

“Jadi sekarang sudah melebur ke-sini (masyarakat lokal), ya sudah banyak orang yang tahu. Akan tetapi kalau masakan itu dibuat oleh orang Khoja, rasanya akan berbeda dengan yang lain,” kata dia kepada Suarabaru.id, usai Pentas Budaya bertema ‘Khoja Folklore’ dalam Festival Kota Lama Semarang 2025, belum lama ini.

Dalam Khoja Folklore itu, diperkenalkan kepada pengunjung sejumlah kebudayaan masyarakat Khoja. Kebudayaan yang masih eksis turun-temurun telah memberikan pengaruh akulturasi budaya di Kota Lumpia Semarang. Selain baju Kurta, ada kuliner Bubur India, seni terbangan Persatuan Majelis Muslimin (PMM) Khoja Semarang, Pengantin Sunat Khoja, dan Orkes Melayu (OM) Sinar Mutiara Muda Khoja.

Sejumlah budaya tersebut dalam lima tahun terakhir sering ditampilkan masyarakat Khoja dalam menunjukkan identitas mereka.

Orang Khoja juga berbeda dengan orang keturunan Arab di Semarang (Kauman), yang secara stigma masih terbesit dalam benak masyarakat. Salah satu buktinya yakni pada pengucapan bahasa, orang Khoja menggunakan diksi-diksi dalam bahasa Urdu. Berbeda dengan orang Arab.

 

Diaz Azminatul Abidin