GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat atau yang disebut Tarif Trump menimbulkan dampak serius bagi industri garmen di Kabupaten Grobogan. Ribuan pekerja kini menghadapi kondisi sulit akibat penurunan pesanan ekspor.
Perusahaan garmen di wilayah ini terpaksa menjalankan strategi penghematan demi bertahan di tengah tekanan pasar internasional. Kondisi tersebut membuat banyak pekerja kontrak kehilangan kesempatan perpanjangan kerja.
Lesunya permintaan global semakin menekan sektor ekspor garmen, termasuk di Grobogan, yang selama ini bergantung pada pasar luar negeri. Tarif Trump memperberat beban perusahaan yang sebelumnya sudah mengalami penurunan pesanan.
BACA JUGA : Ulama Jadi Lokomotif Semua Umat
Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Grobogan menerima laporan resmi mengenai ribuan karyawan yang terpaksa dirumahkan oleh sejumlah perusahaan. Situasi ini menambah daftar panjang tantangan dunia usaha daerah tersebut.
Salah satu yang paling terdampak adalah PT Sai Apparel Industries, perusahaan garmen yang beroperasi di Desa Harjowinangun, Kecamatan Godong. Perusahaan ini mengaku sulit mempertahankan jumlah pekerja akibat tekanan tarif impor.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Grobogan, Teguh Harjokusumo, menyebut pihaknya sudah berkomunikasi langsung dengan manajemen PT Sai Apparel Industries terkait langkah efisiensi yang diambil perusahaan.
Teguh menegaskan, perusahaan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja massal. Namun, langkah efisiensi ditempuh dengan cara tidak memperpanjang kontrak pekerja yang habis masa berlakunya.

“Jadi bukan PHK seperti yang berkembang informasinya, melainkan kontrak yang berakhir memang tidak diperpanjang kembali. Itu sudah dijelaskan langsung oleh perusahaan,” kata Teguh, Selasa (16/9/2025).
Meski demikian, karyawan tetap juga ikut terkena dampak. Sebagian dari mereka harus dirumahkan sementara dengan status aktif, dan hanya menerima separuh dari gaji bulanan.
Teguh menyebut, pola kerja karyawan tetap kini berubah. Mereka dijadwalkan dua minggu masuk kerja, lalu dua minggu dirumahkan, hingga kondisi pesanan ekspor kembali stabil.
Kebijakan baru itu mulai diterapkan sejak awal September 2025 setelah adanya kesepakatan antara manajemen perusahaan dan perwakilan pekerja. Langkah ini ditempuh untuk mencegah kerugian lebih besar.
Jumlah pekerja aktif di PT Sai Apparel Industries kini tinggal sekitar 2.500 orang. Sebelumnya, perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 5.000 karyawan.
Berdampak
Fenomena serupa tidak hanya terjadi di satu pabrik. Beberapa perusahaan garmen lain di Grobogan yang berorientasi ekspor juga terpaksa mengurangi tenaga kerja karena permintaan terus melemah.
Tekanan Tarif Trump membuat biaya produksi semakin tinggi. Situasi ini membuat daya saing produk garmen asal Grobogan menurun di pasar Amerika Serikat, salah satu tujuan ekspor utama.
Teguh mengingatkan agar perusahaan tetap memperhatikan hak-hak pekerja di tengah situasi sulit ini. Ia menekankan pentingnya keterbukaan komunikasi antara manajemen dan karyawan.
BACA JUGA : Tim Karya Ilmiah SMP Ihsaniyah Kota Tegal, Raih Medali Emas di Ajang ISPC 2025
“Prinsipnya jangan sampai hak pekerja terabaikan. Kami mendorong adanya musyawarah yang baik antara perusahaan dan pekerja agar tercapai jalan tengah,” ujarnya.
Ia juga berharap tekanan global segera mereda. Jika pesanan meningkat kembali, perusahaan garmen di Grobogan bisa mengembalikan karyawan yang saat ini dirumahkan.
Pemerintah daerah menilai sektor garmen memiliki peran besar bagi perekonomian Grobogan. Ribuan keluarga bergantung pada keberlangsungan industri ini.
TYA WIDYA













