GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika mengetahui anak mereka terlibat aksi anarkis di Purwodadi pada Sabtu (30/8/2025).
Polres Grobogan menangkap 122 orang dalam kericuhan tersebut. Mereka kedapatan merusak fasilitas umum, kantor Polsek, Mapolres, pos polisi, hingga Klinik Pratama Bhayangkara.
Dari jumlah itu, polisi mencatat 99 orang di antaranya masih berstatus pelajar. Sebagian besar merupakan anak di bawah umur yang terbawa arus kericuhan.
BACA JUGA : Pameran Puisi Rupa: Representasi Seni Hibrid Soal Lingkungan di Acara Ngangsu Banyu
Kapolres Grobogan AKBP Ike Yulianto Wicaksono menegaskan pihaknya tidak tinggal diam menghadapi aksi anarkis ini. Polisi memanggil orang tua para pelajar dan mempertemukan mereka dengan anak-anaknya di halaman Mapolres, Minggu (31/8/2025).
Suasana haru pecah ketika seorang ibu mendekap erat anaknya yang baru saja keluar dari ruang pembinaan. Sang anak menangis tersedu, bahkan sempat berlutut memohon maaf di kaki ibunya.
Polisi menyebut tindakan ini bagian dari upaya preventif agar anak-anak tidak terbiasa dengan perilaku anarkis yang merugikan masyarakat.
“Anak-anak belum memahami konsekuensi perbuatannya. Karena itu, kami utamakan pembinaan, bukan hanya sanksi hukum,” jelas AKBP Ike Yulianto.
Meski demikian, Kapolres memastikan kasus berat seperti pelemparan bom molotov tetap diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.
Pembinaan melibatkan orang tua dan pihak sekolah. Polisi ingin menanamkan kesadaran sejak dini agar anak-anak tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pendekatan persuasif ini diharapkan mampu menjaga masa depan para pelajar agar tidak terjerumus dalam tindakan anarkis di kemudian hari.
Kapolres menekankan, pembinaan bukan berarti melemahkan penegakan hukum, melainkan bentuk kepedulian terhadap generasi muda Grobogan.
Selain orang tua, sekolah juga diminta lebih aktif mengawasi siswanya, terutama di luar jam pelajaran. Tujuannya, agar anak-anak tidak kembali terlibat dalam perilaku anarkis.
“Kami tidak ingin anak-anak menjadi korban salah pergaulan. Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi aktivitas mereka sehari-hari,” tegas Kapolres.
Ia juga mengingatkan agar orang tua lebih disiplin. Bila anak belum pulang hingga pukul 21.00, segera hubungi untuk memastikan keselamatannya.
Langkah pencegahan ini dinilai efektif untuk menekan potensi anarkis di kalangan pelajar SMP dan SMA di Grobogan.
Polres Grobogan meyakini peran keluarga adalah kunci utama dalam mencegah anak-anak terjerumus pada aksi anarkis maupun perusakan fasilitas umum.
Sejumlah orang tua tampak tak kuasa menahan tangis saat bertemu kembali dengan anak mereka setelah menjalani pembinaan di Mapolres.
BACA JUGA : Meriahkan HUT RI, Desa Pasekaran Batang Tampilkan Empat Dalang
“Kami bersyukur anak kami bisa pulang. Semoga ini jadi pelajaran berharga agar dia tidak salah pergaulan lagi,” ucap salah satu orang tua dengan mata berkaca-kaca.
Para orang tua mengakui pembinaan yang dilakukan polisi memberi pengingat kuat bagi keluarga untuk lebih peduli pada aktivitas anak-anak.
Momen pertemuan itu sekaligus menjadi pesan penting: keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bersinergi menjaga anak-anak Grobogan agar tumbuh sebagai generasi lebih baik, jauh dari aksi anarkis.
TYA WIDYA













